Thursday, February 7, 2019

Potret Nyata Kerukunan Umat Beragama, Muslim dan Tionghoa Semarang


Warna-warna merah dan gambar Babi berwarna pink menghiasi sepanjang Jalan Gang Warung Semarang Lampion-lampion digantung sedemikian rupa. sehingga menambah kental suasana menyambut tahun baru Imlek yang bershio Babi ini.

Rombongan peserta Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) mengunjungi Pasar Imlek Semawis, guna meliput keberagaman di Semarang. Sebelumnya mereka mengunjungu Gereja Katolik Karangpanas.

Baca juga: Melihat Keberagaman dari Sudut Pansang Gereja Katolik Karangpanas

Aku menyempatkan diri untuk singgah di salah satu kelenteng di pasar tersebut. Tepatnya kelenteng Ling Hok Bio. Dua orang pria berwajah cina terlihat tengah bercengkerama dalam bahasa jawa di teras kelenteng.

The Hok Gio namanya. Pria paruh baya ini juga memiliki nama lokal Bedjo Santosa. Ia adalah pengurus kelenteng dan menjabat sebagai sekretaris di Kelenteng Ling Hok Bio.

Bedjo bercerita, Kelenteng yang memiliki tuan rumah Hok Tek Cing Sen (Dewa Bumi)  ini telah berdiri lebih dari satu setengah abad, tepatnya pada tahun 1886. Selama itu pula tidak pernah terjadi perselisihan antar umat beragama di sekitar kelenteng tersebut. "Perselisihan gak pernah ada, banyak orang sini cina dan muslim," ujarnya.

Menurut Bedjo kehidupan antar umat beragama sangat rukun. Bahkan ketika hari-hari besar baik hari besar Tionghoa atau pun hari besar Islam. Semua turut membantu. "Kalau mau Imlek biasanya orang Islam bantu-bantu bersihkan kelenteng, juga meramaikan Pasar Semawis, " katanya.

Ketika bulan puasa atau bulan ramadhan. Umat Tionghoa juga menyediakan takjil yang diberikan secara gratis. Bedjo mengungkapkan jika takjil dibuka dari jam tiga hingga lima sore.  Selain itu setiap hari Jum'at ada Kantin Kebajikan. Kantin ini didirikan oleh Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin). "Buka dari jam 11, siapa saja boleh makan," kata Bedjo.

Saat Idul Fitri Umat Tionghoa juga bersilaturrahmi ke rumah-rumah Umat Muslim. "Kalau ketemu kami mohon maaf lahir dan batin," tutur Bedjo.

Pasar Imlek Semawis menjadi potret nyata kerukunan umat beragama di Semarang. Tak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Tionghoa, tapi juga diramaikan oleh masyarakat luar. Pasar Semawis menyajikan beraneka ragam hidangan yang bisa  dipilih. Mulai dari pisang plenet khas Semarang, nasi ayam, es puter, kue serabi, aneka sate, bubur kacang hingga pakaian, juga pernak-pernik khas Cina.

Pedagang di Pasar Semawis ini tak hanya warga Tionghoa. Banyak perempuan berhijab turut menjajakan dagangannya. Pengunjung juga banyak didominasi masyarakat luar. Selain berbelanja bermacam-macam kuliner, pengunjung juga bersorak dan datang ramai-ramai melihat pertunjukan Wayang Cina.

29 comments:

  1. Kalo di jogja banyaknya event barongsai, pengen juga liat wayang cina.

    ReplyDelete
    Replies
    1. psti kren tu. Aku kmrin k jogja ga ps ad acra

      Delete
  2. Kayaknya asik belaja ke Pasar Semawis ya :D Bagus ini memberikan contoh kerukunan umat beragama di pasar. Yang jualan pakai jilbab ada banyak. Pedagang tionghoa yang jualan kolak juga ada. Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang gtu biar nyata rukunnya. G cm pncitraan

      Delete
  3. Waktu ke Semarang cuma sempat ke Pasar Semawis pagi hari he.. he..
    bukanya kan mulai sore ya, pas waktu itu ada nobar piala dunia di hotel, jadi pada lebih milih nobar aja nggak ada yg mau diajak ke Pasar Semawis

    ReplyDelete
  4. Pasar Imlek Semawis sdh lama.dengar namanya namun blm pernah berkunjung ke sana . Mudah2an besok2 ah..

    ReplyDelete
  5. Aku beberapa kali ke Semarang belum pernah mampir ke pasar Semawis. Senang ya kalau semuanya rukun seperti ini.

    ReplyDelete
  6. Seru ya melihat potret kerukunan beragama seperti ini. Aku kebetulan habis photo hunting ke Chinatown di KL dan SG, disana juga seru banget persiapan imleknya.

    ReplyDelete
  7. Pasar Semawis memang potret Indonesia mini, beragam orang di sana namun rukun dalam berinteraksi. Jadi kangen semawais, malam-malam ngopi sambil menikmati kudapannya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi ngopi ditwmani kwan2 senasib sperjuangan. Makin mantul

      Delete
  8. Jelang imlek memang kerukunan beragama dan multi etnis memang kian terasa, semarang salah satunya wilayah yang multi etnis. Di Medan juga seperti itu, semoga kerukunan makin kuat

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Imlek itu identik dengan warna-warna ceria ya..senang kl kerukunan umat beragama bisa mewujud nyata. Di Jogja juga ada perayaan jelang imlek, dipusatkan di kampumg ketandan. Ada festival pekan budaya tionghoa digelar... Tfs ..

    ReplyDelete
  11. Duh, adem banget deh kalau baca beginian. Andai saja di sema daerah bisa damai begini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga tidak ada prpechan antr umat beragama di indo

      Delete
  12. Damai baca ama liat foto yang kayak gini. Semoga menular ke seluruh Indonesia

    ReplyDelete
  13. Harusnyaaaa, orang2 yang mudah dibenturkan dengan isu SARA zaman now ini, sering2 liat yang beginian, supaya tau kalau dari jadul itu, nenek moyang kita hidup damai berdampingan.

    ReplyDelete
  14. Harusnyaaaa, orang2 yang mudah dibenturkan dengan isu SARA zaman now ini, sering2 liat yang beginian, supaya tau kalau dari jadul itu, nenek moyang kita hidup damai berdampingan.

    ReplyDelete
  15. Semarang memang kota yang damai, jarang ada keributan rasial karena kami menyukai ketenangan. Rumahku dulu dekat daerah pecinan, mbak. Klenteng Ling Hok Bio pun saat didirikan juga aku tahu karena bos tempat kerja dulu menjadi bagian dari donaturnya. Tempat situ banyak kuliner enak mbak, tapi harus tahu mana yang halal karena banyak yang menyajikan daging babi di restonya

    ReplyDelete
  16. Subhanallah,,,, indah ya. Aku harap seluruh umat beragama di seluruh oenjuru negeri ini seperti itu. Saling jaga, saling dukung, saling bantu dan toleransi.

    ReplyDelete
  17. Hai Anna salam kenal!
    Semarang emang adem banget dan toleransinya tinggi. Suka deh kalo jelang imlek begini pada saling tolong-menolong dan rukun. Semoga Semarang tetep damai dan rukun, Indonesia juga selalu damai.

    ReplyDelete
  18. Adem banget baca tulisannya mbak. Alangkah indahnya Indonesia kalau kita hidup rukun dan keberagaman seperti ini. Menjunjung nilai toleransi bukan hanya harfiah tapi menjalankannya dengan nyata. Saya toleransi!!!

    ReplyDelete
  19. Kalau saling rukun antar umat beragama berasa banget ademnya, tenteram kemana-mana saling sapa dan senyum

    ReplyDelete