Tuesday, June 15, 2021

Kursus Online Apakah Efektif?

 


Di masa pandemi ini semuanya serba online, mulai dari sekolah online, kuliah online, tes online, dan online-online lainnya, termasuk salah satunya adalah kursus online. Lalu muncul pertanyaan, kursus online apkah efektif? Baiklah, aku akan bahas hal ini berdasarkan pengalaman pribadi dengan pertimbangan dari berbagai sisi.

Untuk menjawab kursus online apakah efektif, ada banyak sisi yang harus dilihat. Aku sendiri mengikuti kursus online bahasa inggris, tepatnya belajar tentang soal-soal structure untuk tes TOEFL. Ya, aku mengakui jika nilai TOEFL ku sangat jeblok di bagian structure.

Kursus online itu ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positif, yaitu biaya yang murah, dan fleksibel. Kita akan bahas satu per satu. Tentunya pembahasan ini merujuk dari kursus ku terkait structure untuk TOEFL.

Baca Juga: Cara Tes TOEFL di Pekanbaru

Nah di tempat aku kursus ini menawarkan pembelajaran selama lima hari dalam satu minggu, Hari Sabtu dan Ahad libur, selama 1 bulan, dengan biaya Rp200 ribu. Setiap hari pihak pengajar akan memberikan bahan berupa video melalui Google Classroom. Peserta tinggal menonton dan mempelajarinya.

Masalah waktu sangat fleksibel, peserta diberi kebebasan ingin belajar kapanpun dan dimana pun, tanpa ada paksaan. Jika ada pertanyaan yang ingin ditanyakan ada group WhatsApp tersendiri untuk menanyakannya. Jadi penyedia jasa hanya memberikan bahan untuk dipelajari dan siap untuk ditanyai.

Kendati demikian, para pengajar di kursus online tersebut seolah-olah tidak peduli  dengan kemajuan para peserta kursus. Mau belajar atau tidak ya terserah, mereka hanya memberikan bahan untuk dipelajari. Saat ditanya di dalam grup pun responsnya cukup lama, pernah aku bertanya pagi, dan dijawab keesokan harinya. Tanya Google ternyata lebih cepat.

Selanjutnya, untuk memutuskan mengikuti kursus online, kita dituntut untuk konsisten, dan mengandalkan diri sendiri. Ini benar-benar berat, karena tidak ada tekanan alias sangat fleksibel dan tidak ada yang menegur, jadilah malas-malasan.

Seperti aku misalnya, belajar hari pertama sampai kelima cukup lancar, tidak ada kendala. Tapi di hari selanjutnya muncul rasa malas, dan suka menunda-nunda. Akhirnya banyak materi yang belum sempat kupelajari dan menumpuk. Apakah saya dimarahi oleh pengajar? O tentu tidak. Aku tidak menyelesaikan kursusnya, karena berpikir bisa aku bisa menyelesaikannya kapan pun aku mau di masa yang akan datang. Meskipun demikian, aku tetap dapat sertifikat.

Beberapa waktu kemudian, setelah mendapatkan sertifikat . Aku berniat untuk membuka kembali materi-materi yang telah diberikan melalui Google Classroom, dan tahukah Kamu, materi itu sudah hilang dan tidak bisa diakses.

Awalnya aku pikir, materi yang diberi bisa diakses kapanpun meskipun sudah selesai, justru malah sebaliknya. Kelas selesai, link menuju materi tidak dapat diakses kembali. Aku juga mencoba menghubungi penyedia kursus online, tapi tidak mendapatkan respons.

Aku tidak menyalahkan penyedia kursus online, tapi aku menyalahkan diriku yang tidak konsisten, menunda-nunda pembelajaran, bermalas-malasan, dan menggampangkan segalanya.

Andai waktu bisa diulang, aku tidak akan menunda-nunda pembelajaran dan mengunduh semua materi pembelajaran, sehingga uang Rp200 ribu yang tak seberapa bisa lebih bermanfaatkan dan tidak sia-sia.

Jadi kesimpulannya, kursus online apakah efektif? Bagi aku tidak.

Namun menurutku, kursus online bisa menjadi efektif jika kita bisa konsisten dan memilih kursus online secara selektif agar semuanya berjalan dengan lancar dan hasil yang diinginkan bisa di dapatkan. Dari pengalamanku tersebut, aku memperoleh pembelajaran, dalam memilih kelas online yang harus dilakuan adalah:

1.     Tanya dengan detail

Tanyakan kepada penyelenggara kursus online, berapa yang harus dibayarkan, seperti apa sistem pembelajarannya, kapan waktu pembelajaran, apakah materi bisa diunduh dan diakses  kapan saja, serta apa hak dan kewajiban dari pengajar dan peserta. Semuanya harus jelas.

2.     Konsisten

Pastikan Kamu bisa konsisten dalam mengikuti kursus online. Jangan menggampangkan kursus online. Hal ini benar-benar bisa menjebak Kamu dalam lubang kesia-siaan. Jangan menunda-nunda tugas dan pembelajaran.

Sekian beberapa pengalamanku saat kursus online, semoga sobat pembaca bisa belajar dari kegagalan orang lain. Kamu tidak harus gagal dulu untuk mendapatkan pengalaman, karena kegagalan orang lain juga bisa dijadikan guru terbaik.

Monday, March 22, 2021

Camping Seru di Desa Wisata Siak Hulu

 

Desa Wisata Siak Hulu

Semua orang pasti setuju mengatakan jika Pekanbaru bukanlah tempat untuk berwisata alam. Setelah sekian lama tidak kemana-mana, baik alasan corona maupun alasan pekerjaan, setelah banyak drama wacana, akhirnya kami memutuskan untuk camping di Desa Wisata Siak Hulu. 

Meskipun namanya Desa Wisata Siak Hulu, dan ada kata Siaknya, bukan berarti desa ini berada di Kabupaten Siak, justru Desa Wisata Siak Hulu masih berada di Kabupaten Kampar, dan hanya berjarak sekitar 30 menit perjalanan dengan sepeda motor dari Kota Pekanbaru. 

Persiapan ke Desa Wisata Siak Hulu 

Karena ini adalah camping, tentu saja kita akan bermalam di sana. Sebelumnya, kami mencari tahu terlebih dahulu seperti apa situasi dan kondisi di tempat tujuan kami, sebelum akhirnya kami mengambil keputusan untuk istirahat sejenak dengan menghabiskan malam ditemani api unggun. 

Untuk persiapan ke Desa Wisata Siak Hulu tentu saja hal mendasar yang harus dibawa adalah tenda dan tetek bengek-nya. Kami berenam, aku, Sofi, Kiki, Laras, Ridho, dan Akmal memutuskan untuk menyewa berbagai perlengkapan berkemah. Ya kalau dipikir-pikir, kami memang tidak punya peralatan lengkap. 

Alat-alat yang kami sewa di antaranya adalah tenda, kompor, nesting, isi ulang gas, dan matras. Kami menyewa satu tenda kapasitas empat orang dan satu tenda kapasitas dua orang. Untuk matras kita menyewa tiga, karena Sofi sudah punya satu, dan aku punya matras lebar satu. 

Penempatannya, satu matras lebar, dan satu matras biasa untuk tenda kapasitas 4 orang, dua matras biasa untuk tenda kapasitas dua orang. Satu lagi untuk duduk-duduk depan tenda. 

Aku menyewa dari kenalan temanku anak Mapala. Bisa dicek di akun Instagram @roemahpetoealang.rentoutdoor yang bermarkas di Jalan Harapan Raya, Marpoyan, Pekanbaru. Berikut list alat-alat yang kami sewa. Ini hitungannya per hari ya. 

List sewa 1-2 desember 2020 Jumat - Sabtu

- 1 tenda kap4 x 35k = 35

- 1 tenda kap 2 x 30k= 30k

- 3 matras x 5k = 15

- 1 kompor x 10k = 10k

- 1 nesting x 15k = 15

- 1 isi ulang gas = 8k

- 1 carrier x 25k = 25k 

Total = Rp138.000 

Selain menyiapkan alat, tentu saja logistik juga harus disediakan. Kiki membawa beras secukupnya, dan Laras membawa piring serta sendok. Logistik lainnya seperti mi instan, telur, kopi sachet, dan ciki-ciki, serta satu kardus air mineral kemasan gelas. Tak lupa membawa lotion anti nyamuk untuk menghindari serangan nyamuk. 

Berangkat ke Desa Wisata Buluh Cina 

Kami berkumpul sekitar pukul 15.00 WIB, tingga membeli beberapa logistik sebelum ke sana. O ya, karena kami berangkatnya sore, jadi kami memutuskan untuk membeli nasi bungkus di perjalanan. 

Sedikit kuceritakan padamu Kawan, awalnya kami berniat untuk membeli nasi ampera yang sebungkusnya rata-rara Rp10 ribu. Tapi karena Akmal mengatakan, lebih baik beli di tempat yang tak jauh dari lokasi, akhirnya kami memutuskan menuruti perkataannya. 

Di sepanjang Jalan Pasir Putih, ada banyak sekali ampera-ampera yang kami lewati. Akmal menyarankan untuk membeli di salah satu rumah makan di jalan tersebut. Awalnya aku mengernyit, karena kenapa harus rumah makan, menurutku rumah makan harganya sedikit mahal dibandingkan ampera. 

Tapi karena sudah tidak terlihat lagi ampera, ya sudah kami beli di sana. Dan benar saja, kami harus merogoh kocek dua kali lipat dibandingkan jika beli di ampera. Habis lah Akmal kena bully setelah ini. 

Sampai di Desa Wisata Bulug Cina kami harus terlebih dahulu menyeberang menggunakan ponton, per motornya membayar per motor Rp5 ribu, kalau per orang Rp2 ribu. 

Di Desa Wisata Buluh Cina tepatnya di dekat danau yang ada gajahnya. Di pos kita diminta mengisi buku tamu, dan bayar seikhlasnya. Kata Akmal, kita memberikan Rp50 ribu untuk kita berenam, yah hitung-hitung uang keamanan, sama parkir.

Desa Wisata Buluh Cina 

Pertama kali sampai di sini yang terlihat adalah Danau Tanjung Putus, hutan yang asri, dan gajah. Pengunjung selain bisa camping, juga bisa naik gajah juga. 

Untuk fasilitas, di sini sangat lengkap, ada musala, dan kamar mandi, jadi meskipun camping ala-ala di hutan, tapi tetap nyaman. 

Kami camping agak ke seberang, dari gerbang masuk, belok kiri, ada jembatan kayu, terus lurus, kemudian ada tanah lapang, belok kanan. Di tempat ini ada beberapa gazebo yang disediakan di tepi danau.

Foto bareng saat baru sampai

Saat kami camping, juga ada rombongan lain yang  juga menghabiskan malam di lokasi tersebut pada waktu itu. 

Setelah mendirikan tenda, salat maghrib, dan membuat api unggun. Kami pun makan malam bersama dengan nasi bungkus yang telah dibeli sebelumnya. Tak lupa ditemani dengan kopi sachetan yang nikmatnya mengalahi kopi-kopi senja anak indie. 

Suara-suara monyet dan binatang malam membersamai kami malam itu. Tak lupa aku menghidupkan lagu-lagu dari speaker bluetooth yang telah kubawa. Pasti akan lebih indah jika bawa gitar dan bernyanyi ramai-ramai. 

Malam itu kami habiskan dengan bercanda tawa, curhat, sembari meminum kopi dan memakan jajanan yang kami bawa hingga malam semakin larut. 

Kiki, Sofi, Laras, Akmal, Ridho

Kiki, Sofi, Nafi, Laras

Ku beritahu Kawan, tidur di tenda sama sekali tidak enak, bisa dibilang aku tak bisa tidur, alias tidur-tidur ayam. Bahkan sebelum azan berkumandang pun aku sudah terbangun. 

Pagi-pagi berselimut sarung, aku sudah selesai mengitari danau sendirian, duduk santai memainkan gawai di pendopo dekat danau, sambil menunggu kawan-kawanku bangun dari tidur yang entah bagaimana mereka bisa sangat lelap. 

Setelah itu, beberapa dari mereka bangun, Kiki, Sofi, dan Akmal. Laras masih tidur, begitu juga dengan Ridho. Jangan mikir ngadi-ngadi ya, tentu saja di tenda yang berbeda. 

Pagi itu aku dan Akmal menaiki perahu yang disandarkan di tepi danau, bergantian dengan orang lain. Menyusuri danau dengan perahu. 

Naik perahu di pagi hari

Setelah itu, masak nasi dan mi instan yang dimasak sepenuh hati oleh Akmal. 

Sarapan pagi dengan mi instan dan telur

Morning breakfast

Duduk-duduk kembali dan bercerita sambil berkemas. Mencuci piring, membereskan tenda, membawa kembali sampah, serta memastikan api unggun benar-benar padam, baru kami meninggalkan tempat berkemah tersebut. 

Berkemah kami diakhiri dengan foto bersama sebelum pulang, lalu kami kembali ke dunia masing-masing yang membosankan.

Pulang: Akmal, Ridho, Kiki, Sofi, Laras, Nafi


Saturday, March 13, 2021

Wisata Kampar: Hutan Pinus Bukit Candika Bangkinang

Hutan Pinus Bukit Candika


Kali ini  aku mau berbagi pengalaman jalan-jalam di Hutan Pinus Bukit Candika, Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. 

Maklum lah, semenjak wabah Covid-19 berlangsung, belum bisa main kemana-mana. Ya mau bagaimana lagi, demi selamatan diri sendiri, nusa, dan bangsa, selama 2020 harus memendam hasrat ingin jalan-jalan. Padahal sebenarnya nggak ada duit. 

Bertepatan dengan pesta pernikahan salah satu teman di masa kuliah dulu, akhirnya aku dan temanku memutuskan untuk pergi dari Kota Pekanbaru ke Bangkinang yang jaraknya lumayan dekat, hanya berkisar 2 jam, tergantung kecepatan kendaraan. 

Sekali mendayung, dua pulau terlampaui, kami pun memutuskan untuk berwisata ke salah satu lokasi hit di Bangkinang, yaitu Hutan Pinus Bukit Candika. 

Awalnya kami berencana pergi ke pesta enam orang dengan tiga sepeda motor, namun karena suatu hal, keempat temanku mengurungkan niatnya. Hingga akhirnya tinggal aku dengan Kak Ika. 

Lokasi pesta berada di Kampung Patin, Kabupaten Kampar. Kami merencanakan pergi pukul 09.00 WIB, termasuk waktu ngaret-nya. Dan benar saja, setelah diawali dengan mandi, sarapan, dan dandan, serta beli kado, kami benar-benar berangkat pukul 10.30 WIB. 

Tiba di lokasi pesta Sella teman kami,  pukul 12.30 WIB, dan cuss langsung mencari energi untuk isi perut. Maklumlah, meskipun duduk saja di atas sepeda motor, energi juga bisa terkuras. 

Setelah makan, kenyang, kemudian kami berfoto dengan pengantin. Salat zuhur, dan duduk-duduk di musala yang tak jauh dari tempat pesta, menikmati lalu lalang orang-orang yang datang silih berganti, sambil memikirkan kapan akan duduk di singgasana raja dan ratu.

Pesta pernikahan Sella


Mengingat waktu kami tidak banyak, dan mengejar waktu agar pulang tidak kemalaman, kami pun meninggalkan Kampung Patin sekitar pukul 14.30 WIB. 

Agar tidak tersesat, dinyalakanlah aplikasi Map andalan, dan sepeda motor pun meluncur melewati jalanan aspal menuju Hutan Pinus, Bukit Candika, Langgini, Kecamatan Bangkinang. Alhamdulillah Map-nya tidak menyesatkan. 

Hutan Pinus Bukit Candika

Hutan Pinus Bukit Candika

Saat pertama kali sampai, sebelum masuk gerbang diwajibkan membayar biaya masuk, yaitu Rp5 ribu per orang, dan Rp5 ribu per motor sebagai biaya parkir. Karena kami berdua dengan satu motor, Maka kami membayar Rp15 ribu. 

Setelah itu, kita dipersilahkan untuk masuk dan berfoto-foto sepuasnya. 

Namanya bukit pinus, tentu saja banyak pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Saat mengambil gambar, tidak ada yang menyangka kita berada di hutan yang ada di kota, atau bisa dibilang tak jauh dari kota. 

Selain nuansa alami ala hutan-hutan seperti dalam jepretan fotografer, pengelola juga memberikan fasilitas-fasilitas yang membuat foto lebih estetik, seperti tempat duduk dari kayu, dan hammock. Sehingga selain berfoto, pengunjung juga dapat bersantai ala-ala di tengah hutan.

Hutan Pinus Bukit Candika


Salah satu ciri khas yang selalu ada di lokasi wisata Indonesia (ya meski tidak semuanya) adalah hiasan bunga-bunga buatan berbentuk hati atau love. Entah mengapa, properti ini kerap ditemukan dimana-mana. 

Bagi yang membawa pasangan, silahkan berfoto di properti love ini, bagi yang jomlo berfoto juga tidak ada yang melarang. 

Aku menelusuri beberapa titik hutan pinus, sejauh mata memandang adalah pinus, dan rumput, serta manusia-manusia yang juga mengabadikan keindahan melalui lensa kamera. 

Saranku bagi yang belum berkunjung ke sini, jangan lupa pakai krim anti nyamuk, karena nyamuk di Hutan Pinus Bukit Candika ini tidak bisa dibilang sedikit. 

Jangan lupa bawa air minum, agar tidak dehidrasi saat haus, apalagi buat yang suka berjalan-jalan menyusuri bukit.

Bersama Kak Ika di Hutan Pinus Bukit Candika


Aku datang di hari Selasa, bukan hari libur. Jadi saat itu aku tidak melihat ada pedagang berjualan di sana. Tapi tenang saja, pohon-pohon pinus membuat hutan ini menjadi teduh, sehingga tidak perlu khawatir kepanasan. 

Kami menghabiskan waktu di Hutan Pinus Bukit Candika tidak lama, hanya sekitar 30 menit saja. Foto-foto, jalan-jalan, pulang. 

Jangan lupa siapkan kamera terbaikmu, serta outfit yang mendukung, tidak disarankan memakai sandal atau sepatu tinggi, tapi jika sudah terbiasa ya gas saja lah.

Berpose di Hutan Pinus Bukit Candika


Puas mengambil gambar, kami pun pulang ke Pekanbaru. Singgah sebentar ke Warung Sate Ocu Iman yang tak jauh dari Pekanbaru.

Friday, March 12, 2021

Review Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin

Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin

Sebagian besar orang pasti mengalami masalah untuk wajah, baik itu jerawat, komedo, kulit kusam, dan lain sebagainya. Berbagai produk-produk kecantikan hadir untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, salah satunya Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin. 

Sebelumnya aku kerap memakai masker wajah untuk menghilangkan komedo-komedo membandel di wajah, terutama di bagian hidung, antara dua mata, dan di bawah dagu. Tapi aku menggunakannya di seluruh permukaan wajah, kecuali yang berbulu alias alis. 

Namun, peel of mask biasanya memiliki daya rekat yang kuat, sehingga tak jarang saat melepaskannya perlu usaha ekstra, bahkan terasa sangat sakit dan perih ketika masker dikelupas. Aku juga pernah sampai menangis saat mencoba mengelupas masker salah satu produk. 

Namun, tidak semua peel of mask seperti itu, ada produk yang memberikan sensasi menyenangkan dan menawarkan hasil yang memuaskan, yaitu Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin. 

Apalagi buat Kamu yang wajahnya mulai kusam dan banyak jerawat. Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin bisa menjadi pilihan terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. 

Aku memakai Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin yang berukuran 50 gram. Teksturnya berwarna putih bening, dan lengket (ya namanya peel of mask). Salah satu yang kusukai dari produk ini yaitu aromanya yang harum.

Tekstur Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin


Cara pakainya, seperti pakai masker biasa. Bersihkan dulu wajah, setelah kering baru oleskan masker ke wajah secara merata. Kalau aku lebih suka memakainya dengan tebal untuk memudahkan dalam mengelupas nantinya. Tunggu 10 - 15 menit sebelum mengelupasnya. 

Direkomendasikan sebelum menggunakan masker memakai Exfoliating Glow Tonic Scrub eBright Skin untuk hasil yang lebih memuaskan. 

Baca juga: Review Exfoliating Glow Tonic Scrub eBright Skin 

Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin diklaim memiliki kandungan brightening terbaik saat ini, seperti glutathione, milk, dan vitamin C. Kandungan ini, dapat menutrisi kulit menjadi lebih cerah, lembab, dan halus. 

Seperti yang sudah kutuliskan di atas, biasanya peel of mask memberikan sensasi rasa sakit ketika mengelupasnya. Namun, Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin tidak memberikan rasa sakit dan perih ketika ditanggalkan dari kulit. 

Selain itu, Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin juga terdapat sedikit butiran shimmering sehingga setelah pemakaian peel of mask ini, kulit akan menjadi glowing, shimmering, splendid. 

Kalau aku sendiri merasakan seperti kulit lebib halus dan lembut saat diraba. Saat bercermin pun, kulit wajah terlihat lebih bersih dibandingkan sebelum pemakaian. 

Meskipun aku ingin memakainya setiap hari, tapi perlu diingat kawan, yang berlebihan itu tidak baik. Sesuaikan dengan intruksi, yaitu hanya 1 atau 2 kali selama seminggu, dan masker ini hanya boleh digunakan untuk yang sudah berusia 13 tahun ke atas. O ya, eBright Skin sendiri menuliskan penggunaan maksmial HANYA 2 kali dalam seminggu.

Komposisi Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin adalah aqua, polyvinil alcohol, vinyl acetate, alcohol, PEG-20 glyceryl isostearate, propylene glycol, calcium sodium borosilicate, phenoxyethanol, fragrance, ethyl ascorbic acid, PEG-20 hydrogenated castor oil, xantam gum, goat milk extract, butylene glycol, aloe barbadensis leaf extract, glutathione, tocopherol, ethylhexyglycerin, titanium dioxide, methyl acetate, sodium acetate, CI 16255, tin oxide, arbutin, niacinamide, tranexamic acid, polysorbate-20, citric acid, sodium sulfite, sophora flavescens root extract, glycyrrhiza glabra root extract, dan saururus chinensis extract.

Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin


Terkait keamanan Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin  juga sudah dijamin, pasalnya produk ini sudah mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan nomor BPOM NA18190205580, dan telah mendapatkan label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan nomor Halal 00150095890519. 

Teruntuk ibu hamil dan menyusui, umumnya kulit akan lebih sensitif. Oleh karena itu, sebagai ibu atau pun calon ibu, juga harus berhati-hati dalam memilih produk skincare yang diaplikasikan ke kulit, karena beberapa kandungan dalam skincare ada yang justru tidak aman digunakan selama kehamilan.

Kendati demikian, eBright Skin memastikan produknya aman untuk ibu hamil dan menyusui. Jadi buat bunda-bunda yang tengah menanti buah hatinya lahir atau pun yang sedang menyusui, tidak ada alasan untul tidak skincare-an, dan eBright Skin adalah produk yang bisa diandalkan.

eBright Skin kini juga membuka peluang bisnis dengan menjadi agen dan reseller produk dari eBright Skin, dengan beragam keuntungan dan kemudahan. Untuk info lebih lanjut bisa cek di Instagram @ebrightskin. 

Pasti bertanya-tanya juga kan, tentang harga dari Glam Glow Peel of Mask dari eBright Skin. Harganya adalah Rp110 ribu.

Semangat untuk para pejuang glow up. Semua perempuan terlahir cantik, tinggal kita berusaha, bagaimana menjaga dan merawat anugerah dari Tuhan.


Monday, March 8, 2021

Review Exfoliating Glow Tonic Scrub eBright Skin

 

Exfoliating Glow Tonic Scrub

Halo semuanya, teman-teman pejuang glow up. Kali ini aku akan me-review terkait skincare dari eBright Skin yaitu Exfoliating Glow Tonic Scrub. 

Sebelumnya aku mau cerita sedikit tentang kondisi kulit wajahku. Karena pekerjaanku setiap hari adalah di luar ruangan dan setiap hari naik motor, otomatis wajah berhadapan langsung dengan sinar matahari, polusi, plus pengapnya masker yang harus dipakai sehari-hari. 

Wajahku juga tidak mulus-mulus amat, ada komedo, ada jerawat, dan juga ada bekas jerawat. Masalah komedo itu paling banyak di hidung, antara kedua mata, sama di bawah bibir. Entah mengapa, lokasi itu adalah tempat favorit komedo untuk bersemi. 

Cuci muka pakai sabun cuci muka sudah pasti dong, setiap hari. Tapi ternyata itu belum cukup untuk membersihkan wajah dari kotoran yang menempel di wajah, kulit wajah jadi sedikit kasar, dan komedo warna putih juga tidak mudah dihilangkan hanya dengan sabun pencuci muka. 

Oleh sebab itu, aku mencoba Exfoliating Glow Tonic Scrub yang bisa membersihkan wajah, dan membantu mengangkat sel kulit mati dengan lembut. Btw, itu yang tertulis di deskripsi kemasan produk ini ya. 

Selain itu Exfoliating Glow Tonic Scrub ini juga mengandung vitamin B5 membantu menjaga kelembaban kulit wajah, sehingga kulit menjadi tampak segar. 

Vitamin B5 apaan sih? Sama aku juga baru tahu setelah tanya-tanya Mbah Google. Kata si Mbah, vitamin ini memiliki manfaat agar kulit tetap terhidrasi. 

Terlalu lama terkena paparan matahari atau terlalu lama di dalam ruangan ber-AC ternyata menjadi salah satu penyebab kulit kering dan dehidrasi.

Karena itu, dianjurkan memilih skincare vitamin yang mengandung B5, untuk membuat lapisan pelindung agar kulit tidak dehidrasi, dan bisa lebih lembut dan semakin meningkat keelastisannya.

Karena mengandung pelembab, jadi pengguna tidak perlu takut wajah akan menjadi kering. Percayakan pada Exfoliating Glow Tonic Scrub. 

Penasaran kan ya? Aku udah coba beberapa kali, lebih seperti luluran tapi untuk wajah. Gosok-gosok di wajah, rontok semua kotoran atau bolot-nya, aku banyakin pakai di area yang banyak mengandung komedo, semakin banyak bolot yang terangkat, dosa-dosa pun ikutan rontok. 

Cara pakai yang bener: oleskan gel pada kulit yang kering (jangan pas basah-basah, kalau setelah cuci muka keringkan pakai handuk). Gosok perlahan dengan gerakan memutar hingga sel kulit mati dan kotoran terangkat. Bilas dengan air hangat (nggak usah pakai sabun). 

Setelah itu, bisa dilanjutkan dengan rutinitas skincare yang lain. Pakainya jangan tiap hari juga, dianjurkan 2-3 kali seminggu. O ya, fyi produk ini hanya untuk usia 15 tahun ke atas ya.

Kalau aku pribadi cukup puas dengan hasilnya, aku merasa kulit wajah jadi bersih. Kadang kan tangan suka meraba-raba wajah, dan kulit terasa lebih halus, dan komedo tidak sebanyak sebelum pemakaian. Ada tapi tak begitu menonjol. 

Produk ini berbentuk gel, berwarna putih, aromanya sangat familiar tapi sulit diungkapkam dengan kata, seperti glue tapi lebih harum. 

Bentukan gel Exfoliating Glow Tonic Scrub


Komposisi Exfoliating Glow Tonic Scrub terdiri dari aqua, glycerin, carbomer, cetrimonium chlorida, panthenol, DMDM Hydantoin, dan fragrance

Terkait kemanan, Exfoliating Glow Tonic Scrub dari eBright Skin juga sudah terjamin. Pasalnya, produk ini sudah mengantongi BPOM dengan nomor NA 18200200279 serta label halal MUI dengan nomor 00150095890519. 

Ingat, memakai produk kecantikan apa pun, pastikan sudah ada BPOM nya ya, karena wajah itu aset, anggota tubuh yang menjadi fokus utama saat bertemu orang-orang. 

Nah, untuk para ibu-ibu yang lagi hamil, pasti mengalami kebimbangan dalam memilih skincare. Namun, hamil bukan menjadi batasan bunda-bunda untuk tidak skincare-an, asal bisa memilih produk-produk yang aman. Salah satunya adalah eBright Skin. 

eBright Skin sendiri mengklaim jika produknya aman untuk ibu hamil dan menyusui. 

Selain itu, bagi para bunda atau pembaca yang ingin berbisnis sambil glow up, eBright Skin kini membuka peluang bisnis dengan menjadi agen dan reseller produk dari eBright Skin, dengan beragam keuntungan dan kemudahan. Untuk info lebih lanjut bisa cek di Instagram @ebrightskin. 

Untuk harga, Exfoliating Glow Tonic Scrub 30 gr adalah Rp70 ribu dengan harga promo Rp55 ribu. 

Semangat para pejuang glow up, bijaklah memilih skincare. Cantik itu pilihan, tergantung dirimu mau apa tidak. Zaman sekarang tak perlu mandi kembang tujuh rupa, tak perlu pakai susuk, tak perlu minum darah perawan. Semua sudah tersedia, apakah mau merawat diri atau pasrah dengan keadaan, kembali lagi, semua itu Kamu yang memilih.

Sebagai informasi eBright Skin ini sudah hadir di pasar kecantikan Indonesia sejak 2010 silam. Dulunya nama eBright Skin adalah Egyptian Beauty Skin sebelum akhirnya rebranding dengan nama saat ini.

eBright Skin juga menjamin keamanan dan kehalalan produk-produnya, dengan terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta mempunyai sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). eBright Skin juga tidak diujicobakan kepada hewan alias cruelty free.

Exfoliating Glow Tonic Scrub


Sunday, March 7, 2021

Produk Kecantikan Ramah Hewan dan Ramah Lingkungan

Kak Ratna Kirana


Isu ramah lingkungan selalu digaungkan oleh sebagian orang untuk menyelamatkan alam dari kerusakan. Berbagai hal bisa dilakukan untuk turut ambil andil dalam kegiatan tersebut, termasuk di bidang kecantikan. Kegiatan menjaga dan merawat kulit ternyata juga dapat berkontribusi secara tidak langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Beberapa waktu lalu, aku sempat ngobrol cantik dengan salah satu Beauty Blogger dari Pekanbaru, Kak Ratna Kirana. Ia menjelaskan pemilihan beragam kosmetik atau produk kecantikan bisa menjadi salah satu cara menjaga lingkungan, terlebih konsumen jiga bisa cerdas memilih produk, saat ini banyak produk-produk yang menggaungkan slogan ramah lingkungan.

Produk-produk ramah lingkungan biasanya menggunakan bahan-bahan alami di setiap produknya. Beberapa brand bahkan ada yang gencar menentang percobaan terhadap hewan, dan memastikan kemasan produknya tidak menggunakan bahan yang berbahaya dan bisa didaur ulang.

Menurut Kak Ratna ada brand yang menerima kembali kemasan produk, sehingga nanti konsumen akan mendapatkan poin tertentu. Sehingga secara tidak langsung itu juga sudah mengurangi sampah limbah kosmetik. 

Selain itu, dengan memilih produk-produk tersebut secara tidak langsung pengguna produk kecantikan berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Beberapa brand tak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tapi juga memberdayakan masyarakat setempat dan membantu kesejahteraan mereka. 

Kak Ratna sempat mengatakan, pentingnya memperhatikan produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Sebagai warga Riau, yang sempat merasakan kabut asap dan hampir terjadi setiap tahun, bukan seta merta membuat kita memboikot kosmetik produk berbahan baku kelapa sawit, dan yang perlu disoroti adalah tata kelolanya. 

Definisi ramah lingkungan adalah produk tersebut dibuat dengan tidak merusak lingkungan. Sementara ramah sosial itu, lingkungan masyarakat di sekitar tempat produksi sejahtera. Jadi petani juga berdaya dan dapat menikmati hasilnya.

Produk-produk ramah lingkungan biasanya memiliki label cruelty-free dan vegan. Dikatakan Kak Ratna, cruelty-free memiliki beberapa karakteristik, yaitu tidak pernah mengujikan pada hewan di setiap proses produksinya. 

Selain itu juga ada yang namamya label vegan, produk tersebut berarti tidak mengandung bahan hewani atau produk  sampingan dari hewan. Pada umumnya, perusahaan yang memproduksi produk vegan akan menggunakan ekstrak tumbuhan atau bahan baku kimia sebagai pengganti bahan baku hewani. 

Vegan make up merupakan kosmetik yang tidak menggunakan bahan-bahan dasar yang berasal dari binatang, seperti beeswax, susu, yogurt, lactic acid, keratin, madu, lanolin maupun collagen, dan semua bahan harus berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Bahan vegan ini sangat ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Brand dengan label vegan biasanya termasuk kategori dengan image perusahaan ramah lingkungan, biasanya membuat kemasan yang mudah didaur ulang, jadi secara tidak langsung juga membantu menjaga lingkungan.

Selain itu,Kak Ratna menambahkan, untuk beralih ke produk ramah lingkungan, hal  yang harus dilakukan adalah dengan teliti dalam membaca produk dan merek. Ia mengungkapkan, produk ramah lingkungan biasanya menonjolkan label-label ramah lingkungan dalam slogannya. Selain itu, membaca bahan baku produk juga penting dilakukan, selain untuk memastikan produk tersebut ramah lingkungan, juga dapat mengetahui apakah produk tersebut sesuai dengan jenis kulit pengguna.

Kak Ratna menyarankan untuk memulai membaca bahan baku kosmetik, dengan demikian kita akan tahu apakah produk itu cocok untuk kulit kita. Karena bisa jadi ada yang alergi sama bahan tertentu, dengan melihat bahan bakunya kita bisa menghindari hal yang tidak diinginkan.

Kendati demikian, semua kembali ke konsumen, boleh memilih berbagai kosmetik yang ada asalkan aman dan tidak memberikan efek buruk.

Tuesday, February 23, 2021

Resensi Orang-Orang Biasa (OOB): Perampokan di Kota yang Naif

 

Cover novel Orang-Orang Biasa - Andrea Hirata

Judul Buku : Orang-Orang Biasa
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal Buku: xii + 300 halaman; 20,5 cm.
Cetakan: Pertama, Maret 2019
ISBN: 978-602-291-524-9


Karya Andrea Hirata menurutku adalah karya yang tak pernah mengecewakan. Kali ini Andrea kembali menelurkan karyanya yaitu Orang-Orang Biasa (OOB) alias Ordinary People, yaitu sebuah novel tentang perampokan di kota yang naif, ialah Kota Belantik.

Novel ini mengisahkan persahabatan sepuluh orang biasa yang bisa dikatakan bukan siapa-siapa. Mereka adalah Handai, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, Debut, Nihe, Dinah, dan Junilah.

Bukan main banyaknya tokoh dalam novel Orang-Orang Biasa ini, Andrea Hirata benar-benar membuat pusing pembaca tentang banyaknya nama dan karakter yang harus diingat. Tak ketinggalan aparat kepolisian Inspektur Abdul Rojali dan polisi muda yang setia Sersan P Arbi.

Orang-Orang Biasa, cerita bermula dengan kisah kantor polisi di Kota Belantik yang minim kasus kejahatan. Kemudian dijelaskan tentang persahabatan sepuluh orang penghuni bangku belakang sekolah yang suram masa depannya, namun langgeng bahkan sampai di antara mereka beranak-pinak.

Perampokan di kota naif menjadi inti novel OOB ini, dimana anak dari Dinah, lulus Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi di Indonesia yaitu Aini. Namun, akibat tekanan ekonomi dan kemelaratan, Aini terancam tidak bisa mendaftar sebab memerlukan uang yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Kuatnya persahabatan, sepuluh orang ini pun memutuskan untuk melakukan perampokan guna mendapatkan dana agar Aini bisa kuliah. Rencana pun dimulai.

Lalu apakah bisa mereka melakukan perampokan di kota yang sangat minim kejahatan? Bisakah Aini melanjutkan ke perguruan tinggi dan menjadi dokter? Cara apa yang dilakukan sepuluh orang yang sulit sepakat akan mufakat tersebut? Apakah rencana perampokan ini hanya mengantarkan mereka ke jeruji penjara?

Dibungkus dengan gaya penulisan khas Andrea Hirata, membuat pembaca merasa sedang menonton adegan film melalui tulisan.

Andrea sangat detail dalam membuat deskripsi, (tak bisa dibayangkan kalau Andrea julid di kehidupan nyata, pasti ia akan dibenci orang-orang).

Tulisan Andre bisa membuat pembaca merasa ada suara musik yang membuat hati jedag-jedug, dan mengontrol laju dalam membaca tulisan.

Selain itu, dalam OOB ini Andrea seperti membuat cerita yang tak berkesinambungan pada awal-awal bab. Namun,  cerita tersebut mengerucut dan bertemu di sebuah titik yang membuat OOB semakin menarik. Amboy, tak bisa berhenti aku membuka lembaran demi lembaran untuk mengetahui cerita selanjutnya.

Komedi, action, semua diramu sedemikian rupa, belum lagi plot twist yang dihadirkan oleh penulis novel Laskar Pelangi ini. Menurut saya, OOB benar-benar tidak bisa ditebak. Andrea berhasil membuat pembaca pesimis dengan tujuan para tokoh dalam cerita.

Tak hanya itu, Andre selalu memasukkan nilai-nilai budaya melayu di dalamnya, nilai edukasi, bahkan kritik halus yang membuat pembaca menyunggingkan bibirnya.

OOB tak hanya terfokus pada perampokan sepuluh orang ini, ada cerita lain yang membuat novel ke-10 Andrea tersebut semakin kompleks, seperti kembalinya empat kawanan kriminal yang terkenal di Belantik, kisah guru seni Akhirudin, hingga kisah Boron dan Bandar, serta Trio Bastardin yang terlibat konspirasi pencucian duit rakyat alias korupsi, bahkan kisah seorang kriminal yang jujur Dragonudin.

Tak ketinggalan kisah tentang tokoh bank bernama Bu Atikah. Karakter ini sempat membuatku bertanya-tanya, apa yang ingin disampaikan Andrea melalui petinggi bank ini.

Namun semua kisah tersebut bertemu di satu titik dan membuat semuanya berkaitan. Cerita lengkap tentu saja di novel Orang-Orang Biasa, menurutku novel ini sangat cocok dijadikan film. Silahkan baca untuk tertawa dan terharu akan tingkah orang-orang udik yang tak disangka-sangka.

Jika Kawan ingin mencari kisah romansa, kisah pria-pria tampan nan rupawan, atau kisah utama orang-orang kaya yang berkuasa, saya jamin tidak akan menemukannya dalam novel ini. Namun, pembaca akan menemukan kisah mengharukan yang terjadi pada orang-orang biasa dan membuat mereka luar biasa.

Persahabatan, idealisme, mimpi-mimpi, ada di tengah Kota Belantik yang naif tersebut.

Saya sangat merekomendasikan novel bersampul kuning ini. Hanya saja, aku termasuk orang yang suka membaca sinopsis di-cover belakang sebelum memutuskan membeli buku, tapi di novel OOB sinopsis ini tidak ada. Tak apa lah, nama Andrea Hirata sudah bisa menjadi alasan kuat untuk membeli novelnya.

O iya, saya lupa ingin menyampaikan kata-kata ajaib dari Andrea Hirata
Fiksi, bukan sekadar mengadakan yang tidak ada, fiksi adalah cara berpikir.
Mereka yang ingin belajar, tak bisa diusir.