Wednesday, August 10, 2022

Gathering Bersama Pegadaian ke Sumatera Barat

 

Media gathering bersama Pegadaian

Halo semuanya, setelah sekian lama tidak ke mana-mana, akhirnya untuk pertama kali PT Pegadaian Kanwil II Pekanbaru mengajak para jurnalis Pekanbaru untuk mengikuti gathering di Sumatera Barat, dengan tema Ngegas (Ngumpul Eksklusif Gapai Silaturahmi) Bareng Media.

Pengalama gathering bersama Pegadaian ke Sumatera Barat tentu saja menjadi memori yang tak terlupakan, selain jalan-jalan, juga banyak pengalaman baru, ilmu baru yang didapat selama gathering.

Gathering bersama Pegadaian ini selama tiga hari yaitu Jumat, Sabtu, dan Ahad, 15-17 Juli 2022 alias akhir pekan. Sebenarnya, dijadwal 16 - 17 Juli, tapi berangkatnya pada Jumat sore tanggal 15.

Kami berangkat dari Kota Pekanbaru menuju Sumatera Barat dengan mobil van. Ada 6 jurnalis dari Pekanbaru, yaitu Kak Unik, Kak Ratna, Kak Ani, Bang Arif, dan Bang Alex. Sementara tim dari Pegadaian terpisah dengan menggunakan mobil lainnya.

Dari Pekanbaru sore itu, kami menuju Kampar, di mana perjalanan menuju Sumatera Barat memang harus melewati Kabupaten Kampar. Tepatnya, di Rantau Berangin, kami singgah sebentar untuk menikmati soto dan teh manis guna mengganjal perut selama perjalanan.

Perjalanan berkelok dan berliku, nyamannya mobil van yang kami naiki tidak dapat kunikmati dengan baik. Meskipun sudah makan beragam menu sebelumnya, perutku tetap tidak bisa menahan mual. Untung saja aku sudah menyiapkan kantong asoy (keresek) agar tidak mengotori mobil dan tidak merepotkan yang lain.

Aku sangat lega, kala tengah malam sudah sampai di Payakumbuh, Sumatera Barat. Ku kira perjalanan gathering bersama Pegadaian akan langsung menuju Kota Padang. Ternyata, kami singgah di penginapan yang berada di Harau. Senang sekali dong aku, udah mabuk selama perjalanan, tiba-tiba disodori kasur empuk dan nikmat untuk mengistirahatkan badan.

Penginapan Rumah Segitiga Katrina Syariah 

Baru tiba di penginapan ini rasanya langsung ingin meraih gawai untuk berfoto-foto, saking instagramable-nya lokasi. Bagaimana tidak,  ada empat bangunan yang dibentuk menyerupai segitiga. Bagian depan penginapan ini didesain dengan kayu yang dipernis sehingga terlihat kinclong dan menambah nilai otentik dari penginapan. Ada dua jendela yang berada di samping kiri dan kanan pintu.

Penginapan Katrina Syariah

Saat mendorong pintu, pintunya tidak mau bergerak sama sekali, karena pintunya menggunakan sistem pintu geser wkwkwk. Ketika masuk, waaah, mak jreng. penginapan segitiga ini sangat cocok untuk menginap beramai-ramai.

Ada dua kasur king size dan empuk yang siap memanjakan badan yang letih akibat perjalanan. Juga ada satu buah lemari, meja, dan toilet, seperti di hotel-hotel. Tapi karena sudah sangat lelah dan penat akibat mabuk perjalanan, aku langsung menggeleparkan badan di kasur tanpa berniat membersihkan badan terlebih dahulu, dan mengabaikan Kak Ani dan Bu Mutia yang bersikeras agar aku pakai minyak kayu putih dan minum pil entah apa untuk meredakan mabuk perjalanan yang aku alami.

Saat bangun di pagi hari aku langsung segar bugar, menggeser pintu dan menikmati udara pagi yang masih segar. Ketika matahari mulai beranjak malu-malu, kulihat Penginapan Katrina Syariah ini tak hanya rumah segitiganya saja yang unik, tapi juga ada gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk ngopi santai sembari bercengkerama bersama teman-teman jika mau.

Usai mandi dan bersiap, tak lupa kami dan geng dari Pegadaian yaitu Bu Mutia, Bu Tita, Kak Dina, dan Kak Afi berfoto-foto dan mengambil gambar atau video sepuasnya. Dari Pegadaian juga membawa langsung Kang Foto untuk mengabadikan kegiatan gathering bersama Pegadaian ini.

Berfoto di depan Penginapan Katrina Syariah

Setelah itu, kami sarapan nasi goreng atau lontong, ngeteh, dan menikmati semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.

Istana Basa Pagaruyung Sumatera Barat

Berfoto di depan Istana Basa Pagaruyung

Destinasi selanjutnya yaitu Istana Basa Pagaruyung Sumatera Barat, yang berada di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Istana ini berjarak lebih kurang 5 kilometer dari Batusangkar. Beruntunglah di zaman sekarang ini  rakyat jelata sepertiku bisa menginjakkan kaki di tempat raja dan para bangsawan tinggal.

Kendati demikian, rupanya Istana Basa Pagaruyung ini adalah replika dari istana asli. Istana Basa yang asli terletak di atas bukit Batu Patah dan dibakar habis pada tahun 1804 saat terjadi Perang Padri. Istana baru didirikan kembali tetapi terbakar lagi pada tahun 1966.

Untuk masuk ke Istana Basa Pagaruyung dikenakan biaya. Untuk dewasa domestik Rp15 ribu, anak-anak domestik Rp7.500, dewasa dan anak-anak mancanegara Rp25 ribu.

Istana Basa Pagaruyung sangat lah luas, untuk dapat mengelilinganya kami naik odong-odong. Ada banyak yang bisa dilihat, selain istana juga ada rumah-rumah adat suku-suku minangkabau. Di sini pengunjung juga bisa berkuda, atau mendaki Bukit Bungsu yang berada di belakang Istana Basa Pagaruyung, tenang saja, sudah ada anak tangga untuk bisa sampai ke sana. Dari atas bukit bisa melihat pemandangan istana dari ketinggian.

Selain itu, di sini juga bisa ada camping ground, jadi pengunjung juga bisa berkemah tentu saja dengan izin dari pengelola.

Istana ini tak sekadar istana, tapi juga museum. Istana Pagaruyung ternyata terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama berupa ruangan luas yang memajang berbagai benda dalam etalase, kamar-kamar, dan sebuah singgasana di bagian tengah.

Istana Basa Pagaruyung

Lantai dua disebut sebagai anjuang Paranginan yaitu kamar anak perempuan raja yang belum menikah.

Adapun lantai tiga adalah ruang penyimpanan harta pusaka raja sekaligus tempat rapat khusus raja 3 selo. Raja 3 selo adalah institusi tertinggi dalam hirarki kerajaan Pagaruyung.

Saat kami ke sana ada banyak pengunjung yang menyewa baju adat minangkabau, yang biasanya dipakai oleh para pengantin. Ada yang berpasangan ada juga yang sendirian. Tidak masalah, saat kutanya ternyata harga sewa sekitar Rp30 ribu - Rp35 ribu. Menariknya lagi, juga ada perias yang siap mendandani dengan bayaran Rp10 ribu, Rp15 ribu, dan seikhlasnya.

Sayang sekali waktu berkunjung dalam gathering bersama Pegadaian cukup singkat, sehungga tidak bisa mencoba pakai adat minangkabau untuk simulasi jika nanti dapat jodohnya orang minang.

O ya, saat masuk ke Istana Basa Pagaruyung kita harus melepaskan alas kaki alias sandal atau sepatu, nanti alas kaki akan dimasukkan ke dalam kantong asoy oleh petugas, sebelum akhirnya dibawa ke tempat di mana nanti kita keluar. Karena pintu masuk dan pintu keluar berbeda. Ingat-ingat saja nomor kantong asoy tempat kita menaruh alas kaki.

Saat keluar, melalui pintu belakang yang menghubungkan ruang utama dengan dapur istana. Turun dari tangga petugas pembawa asoy sandal sedang menunggu. Di tempat ini banyak penjual aksesoris khas Sumatera Barat atau souvenir untuk oleh-oleh.

Mengunjungi Agen Pegadaian di Batusangkar

Dari Istana Basa Pagaruyung kami bertolak ke Kantor Pegadaian Batusangkar, menjemput salah satu karyawannya dan mengunjungi salah satu agen Pegadaian yang berlokasi di Desa Sitakuak, Sungai Tarab, Sumatera Barat, yaitu  Ibu Yeni Yunas.
Agen Pegadaian Ibu Yeni Yunas

Setelah itu, kami pun makan siang di Restoran Danau Tangah Sawah (DTS) Chanta. Sambil makan, kami menikmati pemandangan sawah dan bukit-bukit serta pegunungan, ditambah angin semilir. Sirine kapal menggaung dan mengejutkan kami yang memang baru pertama kali di sini.

Menikmati makan siang di DTS Chanta

Belum lagi menunya yang sangat banyak, mulai dari ayam hingga seafood, serta beragam minuman dari yang digin sampai yang panas. Harganya menurutku juga masih sangat terjangkau, bukan yang mahal-mahal amat, bagiku yang sekarang masih ngekos.

Danau Singkarak

Menuju Kota Padang kami melalui jalan yang sangat terkenal dan banyak lewat di Tiktok, Youtube, dan lain-lain. Kami lewat Sitinjau Lauik, tanjakan atau turunan curam tempat Farel berada. Farel saha? cari sendiri lah.

I Love Singkarak

Kami singgah sebentar ke Danau Singkarak, menikmati semilir angin yang menghembus air di danau membawa kesejukan bagi yang terkena angin. Tak lupa jajan sedikit sambil makan pensi langkitang, serta berfoto-foto di spot bertuliskan Danau Singkarak. Yaa pertanda kalau kami sudah sampai di sini.

Sunset di Tapi Lauik (Taplau) Padang

Hanya senja yang tahu cara berpamitan dengan indah

Aduh siapa sih yang membuat kata-kata melankolis tapi enak dibaca ini. Suka benar deh. Siapa coba yang tidak suka senja? Ini juga yang kami nanti-nanti saat berkunjung ke Padang, terlebih Pegadaian mengajak kami menginap di Hotel Ocean Beach dengan pemandangan laut, yang jika senja sunset-nya terlihat sangat indah.

Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin, kami tetap telat sampai di hotel untuk menikmati senja. Senja yang kami dapat hanya senja di perjalanan, di sepanjang jalan tepi laut.

Hanya sisa-sisa senja yang kami dapatkan di Hotel Ocean Beach. Tapi tak apa, sisa senja juga sangat berarti, meninggalkan siluet merah yang sungkan untuk dilupakan.

Senja di Taplau

Hotel Ocean Beach Padang, sesuai namanya memang sangat dekat dengan tapi lauik (taplau). Dari lantai 7 akan terlihat pemandangan laut, dan pemandangan matahari tenggelam di kala sore.

Hanya menyeberang dari Hotel Ocean Beach sudah sampai ke taplau. Ada banyak pedagang yang berjualan di sekitar taplau. Bagi yang suka jogging sore atau pagi, nongkrong, dan menggalau di tepi laut, pasti tidak menyesal menginap di sini, khususnya yang dari luar Padang ya.

Gathering bersama Pegadaian, Jurnalis Padang, dan Jurnalis Pekanbaru

Usai jogging dan sarapan, kami langsung ke acara gathering. Kegiatan dengan tema Ngumpul Eksklusif Gapai Silaturahmi (Ngegas) bareng media ini diikuti oleh media dari dua wilayah yakni Kota Pekanbaru dan juga Kota Padang.

Hadir juga, Deputi Bidang Operasional Pegadaian Kanwil Pekanbaru Tita Agustini, Kabag Humas PT Pegadaian Kanwil II Pekanbaru Muthia Dharma, Andra Junaidi selaku Kepala Departemen Produk Gadai area Padang PT Pegadaian dan juga Ngadiman selaku Kepala Departemen Logistik Kanwil II Pekanbaru.

Usai agenda perkenalan dan tanya jawab, dilanjutkan dengan games seru dari Pegadaian bertabur hadiah-hadiah menarik. Lomba-lomba yang dihadirkan selama gathering yaitu lomba joget Tiktok, hingga tebak kata-kata melalui gambar. Sangat seru, sampai waktu tak terasa sudah siang.
Foto bareng gathering bersama Pegadaian

Joget Tiktok sampai bawah

idem

Tebak gambar

Serius amat

Selesai makan siang, kami pulang kembali ke Pekanbaru. Terimakasih kepada Pegadaian untuk jalan-jalan dan pengalaman berharga selama gathering ini.

Biar nggak hilang, link foto-foto kegiatan kuletak di sini aja.


Tuesday, July 19, 2022

Wisata Sumbar: Menikmati Pemandangan Danau Maninjau dari Puncak Lawang

Danau Maninjau dilihat dari Puncak Lawang

Masih dalam episode wisata Sumatera Barat (Sumbar), di tulisan kali ini aku akan membahas tentang salah satu wisata Sumbar yaitu Puncak Lawang. Di destinasi wisata Puncak Lawang ini, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan Danau Maninjau yang dapat dilihat dari ketinggian.

Iduladha tahun ini aku mengunjungu Sumbar, tepatnya di Bukittinggi. Karena sebelumnya aku belum pernah ke Puncak Lawang, akhirnya aku dan temanku Laras memutuskan untuk mendatangi wisata yang sangat terkenal ini. Apalagi kalau bukan Puncak Lawang yang berlokasi di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumbar.

Perjalanan menuju Puncak Lawang, Sumbar dari Bukittinggi memakan waktu hampir 1 jam dengan menggunakan sepeda motor. Aku dan Laras menyetel Maps dari lokasi wisata Pacuan Kuda Bukit Ambacang.

Meskipun aku perempuan tapi aku cukup lihai membaca Maps, jika pun salah yang pasti itu salah Maps-nya, ke mana Maps mengarah, ke sana lah kami akan sampai. Kami berdua sama-sama tidak tahu jalan ke Puncak Lawang.

Kami pun berjalan menyusuri Maps, melewati Jalan Lintas Sumatra. Pagi itu cukup asri menikmati hamparan pemandangan bukit-bukit yang berbalut selimut hijau. Beberapa kali kami bertemu monyet di jalan menuju Puncak Lawang.

Firasat tidak baik akan petunjuk dari Maps mulai terasa saat kami diminta untuk berbelok ke kiri. Aku sudah lupa nama jalannya, tapi aku ingat di sana kami melewati jalan aspal yang menurun kemudian menanjak ke atas, hanya bisa dilewati sebuah mobil. Mungkin akan sangat sulit jika bersisian dengan sesama mobil.

Jalan itu sangat kecil dan curam, dengan belokan yang tajam. Kami juga melewati sebuah sungai dengan jembatan kayu di atasnya. Jalanan sangat lengang, pemandangan sawah-sawah bertingkat dan tebing-tebing yang sedikit mengingatkanku dengan Lembah Harau.

Satu hal yang aneh, kami sangat jarang bersisian dengan orang lain. Hanya ada beberapa, padahal jika menuju Puncak Lawang, seharusnya jalanan ramai terlebih saat itu hari Ahad, dan masih dalam suasana Iduladha.

Kami sedikit tenang saat menjumpai perkampungan. Namun, kampung itu juga sangat sepi seolah-olah warganya enggan beraktivitas hari itu. Benak kami semakin tidak nyaman, karena jalanan yang indah semakin mencekam karena sepi. Google Maps masih mengarahkan kami untuk tetap mengegas sepeda motor.

Karena khawatir salah alamat, aku dan Laras pun berhenti di sebuah kedai milik warga di perkampungan yang kami lewati. Ia mengatakan, bahwa benar jika jalan menuju Puncak Lawang adalah melalui jalan ini. Hati yang was-was perlahan mulai tenang. Dalam diam kami melanjutkan perjalanan.

Keramaian mulai terlihat, saat hampir sampai menuju Puncak Lawang, jalanan semakin melebar dan orang-orang berlalu lalang. Hanya perlu melihat papan penunjuk arah saja sudah akan sangat membantu untuk sampai tujuan. Kami memang sampai dengan selamat dibantu dengan Google Maps, tapi jik waktu bisa diulang aku akan tetap memilih jalan yang lebih panjang dan ramai dibandingkan jalan kecil nan sepi yang kami lewati tadi.

Bersyukur kami tiba di sana dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kata Laras, kita salah lewat jalan, ia yang sudah pernah ke Puncak Lawang sebelumnya mengatakan jika jalanan tak sesepi dan sekecil jalan yang kami lewati tadi.

Tujuan kami berwisata di Puncak Lawang adalah menikmati pemandangan Danau Manianjau dari ketinggian. Duduk beralas rumput hijau sembari makan makanan ringan. Sebelum masuk ke area wisata, kami berbelanja jajanan seperti snack,  kacang kulit, dan minuman. Bawa snack dari rumah lebih baik karena harganya pasti akan lebih murah.

Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke Puncak Lawang adalah Rp25 ribu per orang. Karena kami berdua maka kami dikenakan Rp50 ribu. Harga ini sudah termasuk parkir. Jangan sampai tiket ini hilang karena akan ditanyakan lagi saat mengambil motor ketika pulang.

Dari area parkir menuju puncak jalanan sangat menanjak, pasti ngos-ngosan untuk tiba di puncak apalagi jika berjalan kaki. Untung saja pengelola menyediakan odong-odong yang siap mengantarkan sampai ke atas. Tenang saja, ini gratis kok.

Setelah tiba di atas, kita tidak akan langsung sampai ke puncak, melainkan harus melalui tangga menuju ke atas. Melelahkan bagi yang jarang gerak seperti aku.

Di Puncak Lawang Bisa Ngapain Aja?

Aku di Puncak Lawang ngapain? pertama-tama aku duduk melamun menikmati hamparan pemandangam Danau Maninjau dari ketinggian. Pemandangannya sangat indah, seperti naik gunung tipis-tipis. Saat aku ke sana cuaca berubah-ubah dari mendung, menjadi hangat, lalu datang kabut, kemudian disusul hujan lebat. Setengah jam kemudian cuaca kembali cerah, dan aku kembali meneruskan kegiatan melamun sambil makan snack yang sudah kami persiapkan tadi.

Menikmati pemandangan di Puncak Lawang

Berfoto

Sepertinya semua orang kalau ke lokasi wisata tidak akan ketinggalan mengabadikan momen, baik dengan smartphone maupun dengan kamera. Begitu juga aku, sedikit membuat video jamet, dan berpose sampai kehabisan gaya tak ketinggalan kami lakukan.

Di Puncak Lawang ada beberapa spot foto yang bisa menjadi pilihan, seperti berfoto dengan view Danau Maninjau dari ketinggian, dan berfoto di hutan pinus. Ada banyak tempat yang bisa menjadi spot ciamik dalam mengabadikan momen. Selain itu, juga ada lokasi foto berbayar yang tempatnya keren. Aku nggak sempat berfoto di sana karena malas hahaha.

Puncak Lawang

2 Jamet sedang berpose

Hutan pinus di Puncak Lawang

Berfoto di Hutan Pinus Puncak Lawang


Bermain

Ada banyak permainan yang bisa dijajal di Puncak Lawang. Permainan yang paling menyedot perhatianku adalah flying fox dan paralayang. Tapi aku tidak mencobanya. Karena apa? antara malas dan bokek, sepertinya kedua hal ini sedang berkolaborasi.

Kami tiba di Puncak Lawang sekitar pukul 13.00 WIB dan pulang sekitar 17.00 WIB. Ngapain aja? nggak tahu. Saat menjelang sore, ada beberapa atlet paralayang berdatangan. Dengan peralatan lengkap mereka meluncur dari atas bukit dan bermain-main bersama angin.
paralayang di Puncak Lawang

Aku sangat ingin melakukannya. Di kunjungan berikutnya aku harus bisa naik paralayang. Ingat ya, next harus naik paralayang. Tapi sekarang kumpulin duit dulu banyak-banyak biar bisa terbang dibonceng sambil menikmati angin.

Fasilitas

Fasilitas di Puncak Lawang sangat lengkap. Ada musala yang airnya sedingin es, dan ubinnya sedingin sikap doi. Lalu, ada beberapa cafe yang tersedia dengan beragam pilihan makanan, serta homestay jika ingin menikmati waktu lebih lama di Puncak Lawang.

Papan penunjuk lokasi di Puncak Lawang

Sekedar mengingatkan, cuaca di Puncak Lawang cukup dingin, hindari memakai pakaian yang tipis. Pakai yang hangat tapi yang tidak membuat kepanasan juga ya.

Puas menikmati waktu dan pemandangan dari Puncak Lawang, kami pun memutuskan untuk pulang. Kembali turun menuju parkiran dengan odong-odong.

Untung saja, Laras yang sebelumnya sudah pernah ke sini, ingat jalan pulang tanpa harus melewati jalan sempit dan curam tadi. Akhirnya kami pulang dengan selamat, melewati jalan ramai hingga ke Bukittinggi.

Sekian kisahku di Puncak Lawang Sumbar, semoga bermanfaat dan bisa jadi pengalaman. Karena belajar dari pengalaman tak harus dari pengalaman pribadi.



Saturday, July 16, 2022

Wisata Bukittinggi: Berkuda di Pacuan Kuda Bukit Ambacang

 

Lintasan Pacuan Kuda Bukit Ambacang

Di tulisan kali ini, aku akan membahas salah satu wisata di Bukittinggi yaitu pacuan kuda. Bagi pencinta olahraga sunnah ini tak ada salahnya untuk menjajal berkuda di lintasan Pacuan Kuda Bukit Ambacang Kota Bukittinggi.

Katanya, pacuan kuda ini meruapakan lokasi pacuan kuda tertua di Indonesia. Olahraga pacu kuda sudah menjadi kegiatan umum yang dilakukan masyarakat Bukittinggi jauh sebelum Indonesia merdeka.

Salah satu peninggalannya adalah Klub Pacu Kuda Bukittinggi yang sudah ada sejak Tahun 1889. Tulisannya termuat di sebuah tugu di dalam arena: Herdenking Van Het Veertig Jariigbestan der Fort de Koksche Wedloop Societeit 1889-1929 (Peringatan 40 tahun berdirinya klub pacu kuda Bukittinggi).

Awalnya aku tak berniat untuk berkuda, pasalnya aku juga tidak pandai berkuda, dan terakhir kali bersosialisasi dengan kuda sudah cukup lama, itu pun hanya berfoto saja.

Namun, temanku Laras sudah mengincar Pacuan Kuda Bukit Ambacang Kota Bukittinggi dan masuk dalam list yang sudah ia buat. Karena tak mau rugi dan ingin menjajal pengalaman baru, aku pun ikut serta menunggangi kuda.

Beberapa kali aku lewat di Pacuan Kuda Bukit Ambacang, aku melihat orang-orang lebih suka waktu sore dibandingkan lainnya. Beberapa kali pengguna mobil atau sepeda motor memarkirkan tepat di tepi jalan raya. Kemudian penunggang kuda akan menghampiri dan menanyakan, apakah ingin berkuda atau tidak.

Pacuan Kuda Bukit Ambacang Kota Bukittinggi ini berada di Jalan Bukitambacang, Gadut, Tilatang Kamang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Saat aku ke sana, sekitar pukul 10.30 WIB, sehari setelah Iduladha 2022 tepatnya hari Ahad (masyarakat Bukittinggi kebanyakan salat Iduladha hari Sabtu). Saat itu cukup lengang, hanya ada beberapa kuda yang beroperasi.

Aku dan Laras menunggu dua ekor kuda yang sedang membawa pengunjung lainnya. Untuk biaya berkuda yaitu Rp50 ribu untuk satu kali putaran di lintasan yang menurutku sangat luas. Dari lintasan ini kita bisa menikmati pemandangan Gunung Singgalang selagi berkuda. Kita juga diizinkan untuk membawa kuda sendiri jika ingin dan bisa.

Bagi yang tidak bisa berkuda sepertiku juga jangan khawatir, pasalnya pemandu siap mengajak berkeliling untuk berkuda. Aku juga diajarkan cara berkuda saat dibawa berkeliling oleh pemandu.

Pertama, genggam tali kekang kuda kuat-kuat, jika ingin mengarahkan kuda ke kiri, cukup tarik kekang ke kiri, pun sebaliknya. Jika ingin kuda berjalan lebih cepat agak pukulkan tali kekang bagian belang ke leher kuda. Tapi aku tidak berani mengajak kuda berlari, biarlah berjalan dengan santai sambil menikmati pemandangan.

Di sepanjang jalan aku berbincang-bincang dengan pemandu. Ternyata kuda yang kutunggangi bernama Syakira, ia sudah beberapa kali memenangkan berbagai pertandingan pacu kuda. Kata bapak pemandu, Syakira adalah kuda yang selain gagah juga bisa membuat penunggang nyaman berada di atas badannya.

Berfoto adalah salah satu cara mengikat kenangan, agar kenangan saat berkuda tak hilang, bapak pemandu juga siap mengambilkan foto maupun video saat kita berkuda. Hasil jepretannya juga sangat ciamik.

Berkuda di Lintasan Pacuan Kuda Bukit Ambacang

Jujur, setelah menunggangi kuda dan berkeliling aku teringat tokoh Jimbron dalam novel Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi. Tak salah ia sangat menyukai kuda. Menungangginya membuatku merasa keren dan siap bertempur, yah meskipun hanya bisa jalan santai aja sih.

Setelah ini, mungkin berkuda bakal jadi list ku untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya. Bagaimana? minat untuk berkuda, di Kota Pekanbaru juga ada loh wisata berkuda. Kapan-kapan, kita bahas lintasan pacuan kuda yang ada di Pekanbaru.










l








Monday, July 11, 2022

Wisata Liburan Keluarga Tirta Sari di Tilatang Kamang, Bukittinggi

 

Taman Tirtasari, Tilatang Kamang

Bukittinggi merupakan kota wisata di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Mendengar kata Bukittinggi, ingatan pasti lengsung mengarah ke Jam Gadang yang merupakan ikon Kota Bukittinggi. Namun di tulisan kali ini aku akan membahas salah satu objek wisata liburan keluarga yang tak jauh dari Bukittinggi yaitu Tirtasari. 

Jika punya banyak waktu di  Bukittinggi dan menikmati wisata lain yang tak kalah menarik, Objek Wisata Taman Tirtasari bisa menjadi salah satu pilihan. 

Taman Tirtasari ini berada di daerah Jorong Sonsang, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumbar. Jika dari Bukittinggi hanya perlu waktu sekitar 30 menit. 

Kamang memang terkenal dengan pemandangan alamnya yang memukau. Hamparan padi di sawah yang menguning, hingga pemandangan Bukit Barisan yang gagah. 

Di sepanjang jalan menuju Tirtasari, angin dingin menerpa dan menyejukkan di bawah terik matahari. Aku pergi ke sana bersama sobatku Laras saat berlibur ke rumah nenek Laras yang berada di Kamang Mudik. 

Jika dari Kamang Mudik hanya perlu waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke objek wisata Tirtasari. 

Sesampainya di sana, kami langsung memarkirkan sepeda motor. Di objek wisata Taman Tirtasari ini tidak dikenakan biaya apapun untuk masuk, tetapi disedikan kotak, di lokasi parkir dan pengunjung bisa membayar seikhlasnya. 

Saat itu, kami datang sekitar pukul 11.00 WIB, cukup terik di hari itu. Setiba di sana kami lebih memilih untuk mengisi perut sebelum berkeliling. Kami memesan pensi, yaitu masakan kerang air tawar, harganya Rp5 ribu saja. Cukup murah untuk daerah wisata. 

Menu selanjutnya yaitu kerupuk mi. Kerupuk mi yaitu kerupuk berukuran lebar yang diatasnya diberi mi, atau kuah sate. Rasanya sangat enak. Harganya juga tidak berbeda dengan harga pensi. Kami juga memesan teh tarik untuk melegakan tenggorokan di siang itu.

Pensi dan Kerupuk mi

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di objek wisata Taman Tirtasari ini, seperti naik wahana bebek air, memberi makan ikan, naik ke atas Bukit Sonsang, berfoto di rumah hobit, rumah pohon, atau sekadar melamun di tepi danau sambil menikmati ciki-ciki. 

Kalau aku? aku di objek wisata Taman Tirtasari ini lebih memilih untuk berkeliling, berfoto, dan melamun saja. Rasa magerku masih cukup besar dibandingkan keinginan menikmati semua wahana.

Taman Tirtasari, Tilatang Kamang

Satu hal yang kusukai di Sumbar saat berwisata adalah fasilitas ibadah yang lengkap. Di Taman Tirtasari ini, tak perlu mencari masjid untuk salat lima waktu, sudah disediakan musala lengkap dengan mukena, serta fasilitas lainnya. 

Satu hal yang ingin kulakukan tapi mager melaksanakannya yaitu mendaki Bukit Sonsang. Kata Laras dari atas bukit, pemandangan akan sangat cantik. Namun, kaki-kakiku memprotes untuk naik ke atas sana, mengingat pasti perlu effort yang lebih saat turun.

Bukit Sonsang

Selain itu, di Kamang juga cukup banyak homestay untuk menginap. Jika ingin menikmati waktu lebih banyak di Kamang, tidak ada salahnya juga untuk menginap di homestay. Bayangkan saja, bangun pagi di wilayah pedesaan, lalu jogging di pagi hari di jalanan dengan hamparan sawah dan bukit-bukit yang membentang. 

Jika bingung dengan lokasinya, menggunakan Map adalah cara paling baik. Saat kami ke sana, kami juga memakai Map, dan alhamdulillah tidak tersesat dan dibawa ke jalan yang benar. 

Jika ke Sumbar atau ke Bukittinggi, jangan lupa luangkan waktu untuk berkunjung ke Kamang.

Spot leijen wisata Indonesia


Tuesday, June 14, 2022

Atasi Jerawat dan Minyak Berlebih dengan e-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control dan Matcha O’Cica Soothing Cream

Facial Wash  e-Bright Pore Cleanser + Oil Control

Di tulisan kali ini akan akan kembali me-review produk dari e-Bright Skin, yaitu Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control dan Matcha O’Cica Soothing Cream khusus buat Kamu yang sedang mencari-cari facial wash dan mousturizer untuk kulit wajah yang gampang jerawatan dan berminyak.

Setiap kulit orang itu berbeda-beda, perlu produk dan perawatan yang berbeda, tergantung dari jenis kulit masing-masing. Kalau kulit wajahku sendiri cenderung berminyak dan mudah jerawatan, apalagi kalau tamu  bulanan mau  datang. Biasanya, jerawat mulai timbul dan hilangnya amat sangat sulit, apalagi bekasnya.

Selain itu, kulit wajahku  juga memiliki pori-pori yang tidak kecil dan tak pernah lepas dari masalah komedo,  terutama di bagian hidung, antara kedua mata, dan di bawah bibir. Kalau Kamu punya masalah yang seperti yang aku alami, simak tulisan ini baik-baik.

E-Bright Skin hadir dengan produknya yaitu Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control dan Matcha O’Cica Soothing Cream yang dapat menjadi pilihan untuk masalah-masalah yang kuhadapi ini.

E-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control

Skin Concern Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control yaitu kulit berjerawat, berpori-pori, penuaan kulit lebih awal (premature aging), irritation/inflamation, dan excess oil skin. Tapi, e-Bright Skin juga menegaskan jika skincare satu ini bisa digunakan untuk semua  jenis kulit, dan aman diaplikasikan untuk usia 14 tahun ke atas, dan aman bagi ibu hamil dan ibu menyusui.

Ingredients

E Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control ini memiliki kandungan Galactomyces ferment filtrate yang dapat memperkuat skin barrier dan anti aging. Kandungan ini juga mampu membantu menyeimbangkan bakteri baik pada kulit wajah, seingga bisa membuat wajah terbebebas dari masalah pori-pori.

Hydrolized collagen, dapat meningkatkan elastisitas kulit wajat. Lalu Melaleuca alternifolia (tea tree) leaf water bisa meredakan jerawat dan komedo, membantu mengurangi jerawat, mencegah bakteri penyebab jerawat, dan membantu merawat kulit berjerawat. Cocok bagi yang punya jerawat atau yang jerawatannya datang tumbuh hilang berganti.

Cucumber sativum fruit extract dapat melembabkan kulit wajah dan anti aging. Alantoin dapat meredakan iritiasi, serta Prunus serrulata flower hadir sebagai antioksidan dan antiinflamasi.

Kandungan-kandungan lengkapnya yaitu aqua, Cocamidopropyl betaine, Sodium lauroyl sarcosinate, Niacinamide, Butylene glycol, glycerine, Galactomyces ferment filtrate, Hydrolyzed collagen, Lavandula angustifolia (lavender) water, Xanthan gum, Aloe barbadensis leaf extract, Propylene glycol, Hydroxyethylcellulose, Melaleuca alternifolia (tea tree) leaf water, Salyclic acid, Cucumber sativum fruit extract, Chlorphenesin, Amylopectin, Allantoin, Panthenol, Dextrin, Disodium EDTA, Tetrasodium DETA, Prunus serrulata flower, 1,2-Hexanediol, Phenoxyethanol, Methylchloroisothiazoline, Magnesium chloride, Magnesium nitrate, Methylisothiazoline, dan ethylhexylglycerin.

Keamanan e-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control

- Aman untuk ibu  hamil

- Aman untuk ibu menyusui

- Bisa dipakai untuk usia 14 tahun ke atas

- Aman untuk semua jenis kulit

- POM NA 18210106340

- Halal

Manfaat e-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control

- Membersihkan wajah dari kotoran

- Menghilangkan sebum penyebab pori-pori tersumbat

- Mengontrol minyak berlebih

- Mencerahkan kulit wajah

- Mengurangi noda bekas jerawat

- Menyegarkan kulit wajah

- Menghadang bakteri penyebab jerawat

- Memperkuat elastisitas kulit dan mencegah tanda-tanda penuaan dini.

Tekstur

tekstur bening e-Bright facial wash  Pore Cleanser + Oil Control

Tekstur e-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control ini yaitu berbentuk gel dan berwarna bening. Pemakaiannya seperti pada facial wash biasa, tinggal tuang secukupnya, tambah air sedikit, gosok-gosok di telapak tangan, usapkan ke wajah dengan lembut, bilas dengan air bersih.

Facial wash yang satu ini tidak terlalu berbusa, tidak berbau tapi terasa lembut. Setelah aku baca-baca memang e-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control tidak ada tambahan wewangian (no added fragrance).

Selain itu juga tidak ada penambahan sulfat (no added sulfate), paraben (no added paraben), dan alkohol (no added alcohol).

Review

Awal pakai e-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control dan terbiasa dengan facial wash dengan busa banyak,  memang harus  beradaptasi. Facial wash ini tidak berbau jadi bagi yang tidak suka wangi-wangi tertentu bakalan jadi sahabat terbaik.

Buat aku yang gampang jerawatan dan berminyak, e-Bright nggak bikin jerawatan, justru dengan sudah adanya jerawat dapat lebih meredakan. E-Bright Galactomyces Pore Cleanser + Oil Control juga dapat membantu mengontrol minyak berlebih di wajahku, yang awalnya berminyak lumayan bisa jauh lebih berkurang dan tidak membuat wajah kering.

E-Bright Matcha O’Cica Soothing Cream

Mousturizer e-Brighr Matcha O'Cica Sooting Cream 

Selanjutnya, aku akan membahas tentang skincare khusus untuk mengatasi masalah jerawat. Matcha O’Cica Soothing Cream diklaim bisa mengatasi berbagai masalah kulit wajah, seperti jerawat dan noda bekas jerawat. Tak lain, karena kandungan yang ada di dalamnya.

Ingredients:

Komposisi lengkap dalam Matcha O’Cica Soothing Cream yaitu  aqua, Niacinamide,  Dimeticone, Glycerine, Cetyl alcohol, Stearic acid, Aloe barbadensis leaf extract, Cetearyl alcohol, Propylene glycol, Centella asiatica leaf extract, Phenoxyethanol, Butylene glycol, Glyceryl stearate, Polyacrylate-13, PEG-40 Stearate, Elaeis guineensis oil, Lactobacillus/milk ferment filtrate (kefir), Ceteareth-20, Polysobutene, Allantoin, Disodium EDTA, Tocopheryl acetate, Camellia sinensis leaf extract, Ethylhexylglycerin, honey, Epilobium angustifolium flower/leaf/stem extract, Polysorbate-20, Sorbitan isostearate, Hydrolyzed hyaluronic acid, Citric acid, Potassium sorbate, Sodium benzoate, Sodium metabisulfite, may contain: CI 19140, CI 42090, dan CI 28440.

Centella aciatica, dipercaya dapat menenangkan dan menghilangkan jerawat serta mampu meregenasi sel  kulit. Matcha sendiri juga memiliki khasiat dalam mengurangi pori-pori dan jerawat, serta dapat mengontrol minyak  berlebih. Sedangkan Aloe vera dapat mengurangi peradangan dan menghidrasi kulit.

Centella aciatica, Matca, dan Aloe vera efektif dalam menenangkan kulit wajah yang sedang berjerawat. Sementara Lactobacillus/milk ferment filtrat (kefir) dapat mengembalikan komposisi bakteri pada kulit wajah, dan membuat kulit wajah lebih sehat, lembab, dan terjaga dari tanda-tanda penuaan diri, serta melawan radikal bebas.

Selain itu, Niacinamide dapat menguatkan skin barrier dan mencerahkan kulit kusam. Kandungan honey extract berfungsi sebagai antimikroba dan anti inflamasi. Lalu, Hydrolized hyaluronic acid dapat melindungi setiap lapisan  kulit dan  mengunci kelembaban  kulit secara maksmial.  memberikan kelembaban ekstra, hingga menyerap ke dalam lapisan kulit yang paling dalam.

Tak hanya itu, vitamin E dalam produk ini juga dapat meningkatkan kelembaban dan elastisitas kulit.

Buat Kamu yang bingung, apakah akan cocok menggunakan Matcha O’Cica Soothing Cream, moisturizer  ini dibuat untuk semua jenis tipe kulit, seperti acne skin (kulit berjerawat), oily skin (kulit bermnyak), dry skin (kulit kering), dan inflammation.

Keamanan

- Aman untuk ibu  hamil

- Aman untuk ibu menyusui

- Bisa dipakai untuk usia 14 tahun ke atas

- Aman untuk semua jenis kulit

- POM NA 18210106340

- Halal

Tekstur

Tekstur e-Bright Matcha O’Cica Soothing Cream

Matcha O’Cica Soothing Cream memiliki tekstur clear gel yang  ringan di kulit dan tidak lengket, berwarna hijau matcha. Seperti  namanya, produk ini beraroma matcha dengan harum madu.

Di lihat dari kemasan dengan berat bersih 10 gram, kemasan produk ini cukup kecil dengan warna putih dipadu dengan tutup berwarna hijau, serta nyaman dipegang, juga nyaman dibawa kemana-mana. Kendati kecil, isinya sangat penuh.

Review

Aku memakai skincare biasanya sebelum tidur, tapi produk ini  bisa juga dipakai untuk siang hari. Caranya, tinggal oleskan Matcha O’Cica Soothing Cream secara tipis dan merata ke seluruh wajah.

Jangan lupa mengaplikasikannya sesuai urutan ya, yaitu facial wash, toner, serum, Matcha O’Cica Soothing Cream, kemudian sunscreen jika pemakaian pada siang hari.

Sebelum memakain ini kondisi wajahku sudah ada beberapa jerawat dan  beruntusan, tidak banyak tapi ada. Aku cukup puas dengan Matcha O’Cica Soothing Cream. Tidak ada masalah setelah memakai produk ini. Beberapa hari setelah pemakaian, jerawat mulai kempes, dan bekas jerawat juga mulai memudar, meskipun tidak langsung menghilang.

Jika Kamu punya masalah serupa, tidak ada salahnya untuk menjajal skincare Matcha O’Cica Soothing Cream.

Secara keseluruhan kedua jenis skincare ini tidak menimbulkan efek negatif untuk kulitku. Buat teman-teman yang punya kulit sensitif, nggak ada salahnya untuk mencoba produk ini, terutama yang punya masalah terkait jerawat dan noda-nodanya. Pemakaian jangka panjang dari kedua produk  pasti akan membuat  kulit berjerawat terawat sehingga bisa bebas  dari jerawat serta menjaga kelembaban dan mengontrol minyak.

Bagi yang baru ingin mencoba skincare satu ini, namun agak takut untuk mencoba, pahami sekali lagi kandungan-kandungannya. Setiap produk itu cocok-cocokan, ada yang cocok dengan kulit ada yang tidak. Tapi pertimbangan pertama untuk mencoba hal baru yaitu memahami jenis kulit sendiri, serta memahami kandungan yang ada dalam suatu produk.

Jika dua ini sudah pas, insyaallah tak akan sulit menemukan produk yang klop dengan kulit kita. Selamat mencoba. Pembelian produk bisa di Shopee dan Tokopedia ya, jangan lupa follow Instagram eBright Skin untuk terus mendapatkan informasi terbaru. Selain itu juga dapat mengunjungi langsung ke website eBright Skin.

Saturday, June 4, 2022

Review Film Indonesia: Ngeri-ngeri Sedap

Bene Dion dan Lolox saat Gala Premiere Ngeri-ngeri Sedap di Pekanbaru

Di tulisan kali ini, aku akan menuliskan review mengenai salah satu film Indonesia, yaitu film Ngeri-ngeri Sedap. Kita tahu, saat ini film Indonesia sudah bisa dikatakan sangat berbobot, apalagi film Indonesia yang diangkat ke layar lebar.

Banyak film Indonesia yang digarap oleh anak bangsa dari Pulau Jawa dengan nuansa kental Jakartasentris. Namun, hadirnya film Ngeri-ngeri Sedap menjadi kontribusi untuk film Indonesia yang mengusung salah satu budaya dan adat dari suku Batak yang berada di Pulau Sumatra, yaitu tepatnya di Sumatera Utara.

Alhamdulillah, kemarin, 1 Juni 2022 aku berkesempatan menonton pemutaran film dalam Gala Premiere dan bertemu langsung dengan Sutradara sekaligus penulis skenario film Ngeri-ngeri Sedap yaitu Bang Bene Dion Rajagukguk dan salah satu cast film Bang Lolox.

Bang Beni bercerita, jika pembuatan film Ngeri-ngeri sedap ini berawal dari cita-cita bersama dari sesama perantau dari Sumatra di Jakarta. Kesamaan latar belakang, baik suku, asal, dan lain-lainnya membuat Bang Bene berniat membuat film dengan setting di Sumatera Utara.

Selama ini banyak film-film di Indonesia yang didominasi oleh karya-karya dari anak bangsa kelahiran Pulau Jawa. Sedangkan, Indonesia sangat luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan beragam budaya dan adat-istiadak yang berbeda-beda.

Hal ini juga menjadi alasan Bang Bene untuk mengangkat budaya dari Sumatera Utara khususnya masyarakat suku Batak. Kisah yang diangkat juga sangat relate dengan kehidupan sehari-hari, sehingga bagi masyarakat di Pulau Sumatra, cerita yang dihadirkan terasa sangat dekat dan familiar.

Bahkan, Bang Lolox sendiri bercerita ia sangat menikmati peran yang dimainkannya. Menurutnya, kisah dalam film ini sangat mirip dengan kisahnya di dunia nyata, di mana keluarga tak menyetujui Bang Lolox untuk terjun di dunia entertainment.

Review Film Ngeri-ngeri Sedap

Gala Premiere film Ngeri-ngeri Sedap di Pekanbari

Film Ngeri-ngeri Sedap bercerita tentang sebuah keluarga, tentang orang tua dan anak-anaknya. Sang ayah Pak Domu (Arswendy Bening Swara) dan Mak Domu (Tika Panggabean) yang tinggal bersama anak keduanya yaitu Sarma (Gita Bhebhita). Pak Domu sangat ingin, tiga anaknya yaitu Domu (Boris Bokir), Gabe (Lolox), dan Sahat (Indra Jegel) yang sudah lama merantau pulang dan menghadiri acara adat.

Namun, ketiga anaknya menolak untuk pulang karena hubungan tidak harmonis  dengan Pak Domu. Pak Domu dan Mak Domu akhirnya berpura-pura bertengkar dan ingin bercerai demi mendapatkan perhatian dari anak-anaknya.

Selain itu, setiap putra-putri Pak Domu memiliki permasalahan masing-masing dan bertentangan dengan keinginan Pak Domu, mulai dari pekerjaan, jodoh, hingga warisan.

Kisah dalam film ini mengangkat kebiasaan masyarakat Batak, tentang adat-istiadat, dan komunikasi antara orang tua dan anak.

Seperti yang terjadi bagi sebagian besar keluarga di Indonesia, kemauan orang tua sangat keras dan anak-anak merasa memiliki hak untuk memilih jalan hidup. Komunikasi antar orang tua dan anak seringkali hanya berjalan satu arah, yang satu ingin didengarkan namun tak ingin mendengarkan.

Film perdana dari rumah produksi Imajinari yang bekerja sama dengan Visionari Film Fund ini dibungkus dengan komedi sehingga penonton akan tertawa terbahak-bahak saat menyaksikan film. Namun sutradara juga pandai membawa emosi penonton, dari tertawa lepas bercampur haru, serta sedih yang meyayat hati.

Komedi-komedi yang dihadirkan juga tidak terkesan dipaksakan. Bahkan saat menonton, orang di sampingku, tertawa sambil memukul-mukul temannya, lalu saat scene berganti, dan masuk dalam konflik, terisak-isak dia menonton.

Kata salah satu temanku yang orang Batak usai menonton mengatakan jika, memang karakter orang tua yang divisualkan dalam film ini sangat tepat, tidak jauh berbeda, dan begitu adanya. Yah, mungkin dia mengalami hal serupa seperti cerita dalam film. Temanku ini bilang, jika dia tak akan menyesal jika menonton dua kali.

Aku yang bukan orang Batak juga nggak kalah ngakak saat menonton film ini. Jadi lebih tahu budaya, adat-istiadat, dan kebiasaan suku Batak, serta pemandangan alam yang luar biasa. Aku juga menambahkan catatan, nanti bakal ke sana untuk melihat langsung Danau Toba.

Para pemeran juga totalitas dalam memainkan perannya masing-masing. Logat yang sangat kental, dan beberapa percakapan menggunakan bahasa Batak, tentu saja ada terjemahannya dong. Selain itu, Budaya-budaya juga diperkenalkan, yang secara tidak langsung turut berkontribusi dalam mengenalkan kebudayaan Batak. 

Belum lagi setting lokasi yang memanjakan mata berupa hamparan Danau Toba yang memukau. 

Film ini sangat aku rekomendasikan untuk ditonton, apalagi jika Kamu orang Sumatra. Ending cerita ini juga tidak menggantung dan dapat diterima oleh siapa saja. Buat yang slack sama orang tua, coba deh tonton sesekali bersama keluarga. Aku juga yakin, masalah yang dihadapi oleh keluarga Pak Domu juga banyak dialami oleh keluarga lain bahkan keluarga yang bukan dari suku Batak.

Dari film ini juga dapat menjadi pelajaran pentingnya komunikasi orang tua dengan anak, agar saat anak-anak dewasa hubungan tetap erat dan bisa saling memahami, demi terwujudnya kebahagiaan. Bahagia yang bahagiamu adalah bahagiaku.

Selamat menonton.

Foto bareng Bang Bene dan Bang Lolox


Wednesday, May 25, 2022

Melihat Budidaya Maggot BSF di Kota Pekanbaru

Lalat BSF

Di tulisan kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku terkait budidaya maggot BSF di Kota Pekanbaru. Kemarin aku bertemu dengan Pak Mashudi yang merupakan orang yang membudidayakan maggot BSF.


Sebelum cerita lebih lanjut tentang budidaya maggot BSF di Kota Pekanbaru, tau nggak sih, apa itu maggot BSF? Jadi, BSF itu singakatan dari black soldier fly alias lalat tentara hitam.

Meskipun namanya adalah lalat, tapi BSF ini lebih menyerupai tawon besar. Jadi maggot BSF adalah larva atau belatung dari BSF itu sendiri.

Aku mendapat informasi tentang budidaya BSF ini dari seorang rekan yang juga narasumberku sebelumnya yaitu Bang Hafiz. Akhirnya aku pun pergi dari Panam Pekanbaru menuju Jalan Tanjung Datuk Ujung, Sei Duku, Kecamatan Limapuluh, Kota Pekanbaru. Meskipun masih berada dalam satu kota, dari tempatku tinggal perlu mamakan waktu lebih dari 30 menit.

Sesampainya di sana aku menunggu tepat di depan gerbang Pelabuhan Sei Duku. Sebelumnya aku mencoba mengikuti Maps yang diberikan Pak Mashudi, tetapi kesasar, jadi Pak Mashudi memintaku untuk menunggu di depan gerbang pelabuhan.

Kata Pak Mashudi, membudidayakan lalat BSF ini gampang-gampang susah. Harus konsisten dan menjaga siklusi hidup lalat BSF, dari telur, larva, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa.

Siklus hidup Lalat BSF

Makanan maggot BSF ini cukup sederhana tapi banyak, bisa sisa buah, sisa sampah dapur, dan sampah-sampah organik lainnya.
 
Maggot BSF sendiri memiliki banyak manfaat, seperti untuk pakan ayam, ikan, burung, dan lain-lain, yaitu yang sudah berbentuk larva dewasa berwarna putih kecoklatan, dan bisa juga yang sudah menjadi pupa atau maggot yang sudah tidak bergerak berwarna hitam dan siap menjadi lalat BSF.

Maggot BSF

Cara Budidaya Maggot BSF

Saat berkunjung ke tempat budidaya Pak Mashudi, ada sebuah kandang tertutup, di dalamnya ada bak-bak yang didisi oleh maggot. Sementara di bagian luar di buat satu tempat khusus berdinding jaring-jaring tipis yang didalamnya terdapat lalat BSF dewasa.

Proses budidaya maggot dimulai dari penetasan, telur-telur BSF dikumpulkan, sebelum diletakkan di bak penetasan, yang di atasnya sudah terdapat palet ikan, dan dikelilingi dedak agar setelah menetas, bayi larva tidak kabur.

Telur lalat BSF

Pakan pelet juga harus dijaga agar tidak kering. Kemudian, setelah selama 1 minggu di dalam bak penetasan maka dipindah ke bak pembesaran.

Di dalam bak pembesaran, setelah 12 hari  larva sudah bisa dipanen, yaitu yang berukuran besar berwarna putih. Maggot ini bisa diberikan untuk untuk pakan ikan, ayam, dan lain-lain.

Bak pembesaran maggot BSF

Agar siklus tetap terjaga, tidak semua larva dimanfaatkan  untuk pakan ternak, harus ada yang disisakan atau dibiarkan agar bisa tumbuh menjadi pupa.

Pupa adalah larva yang sudah menghitam dan tidak bergerak, ini selain bisa juga untuk pakan ternak, juga bisa untuk menjadi indukan lalat baru.

Khusus untuk yang dijadikan indukan baru, larva dewasa lama-lama akan menjadi prepupa hingga kahirnya tidak tidak bergerak atau menjadi pupa. Jika sudah demikian, maka pupa dipindahkan ke dalam baskom lalu  ditutupi seng, dan dimasukkan ke dalam kandang lalat dewasa.

Setelah menjadi lalat, masuk hari ke-3 atau ke-4 lalat akan kawin, kemudian di hari ke-5, 6, dan 7 bertelur, kemudian mati. Usia lalat BSF ini hanya 7 hingga 8 hari.

Siklus BSF harus dijaga, karena masa hidup lalat BSF tidak lama. Lalat BSF dewasa jantan akan mati setelah kawin, sedangkan lalat BSF betina akan mati setelah bertelur.
 
Untuk 10 gram telur BSF akan memerlukan pakan pelet ikan sekitar 1 kg. Setelah lalat bertelur,  telur dipindah  ke bak penetasan, telur akan menetas di hari ke 3 atau ke-4, lalu tetap ditempatkan di bak penetasan hingga 7 hari. Setelah itu, pindah bayi larva ke bak pembesaran agar tumbuh menjadi larva dewasa.
 
Siklus maggot BSF ini kurang lebih 1 bulan 2 minggu, dari telur hingga lalat dewasa mati. Larva menjadi pupa biasanya memerlukan waktu satu bulan hingga 40 hari tergantung pakan yang diberikan. Cepat tidaknya menjadi pupa tergantung pakan, jika diberi buah-buahan terus-menerus bisa  memerlukan waktu hingga 40 hari, tapi kalau roti yang dicampur sampah dapur, 1 bulan sudah jadi pupa, apalagi kalau dikasih bungkil sawit.

Budidaya maggot BSF juga bergantung  pada cuaca. Saat mendung lalat dewasa tidak aktif bergerak, baik untuk kawin maupun bertelur, sehingga telur yang dihasilkan sedikit. Pak Mashudi mengatakan, saat cuaca sedang bagus ia bisa memanen 70 – 100 gram telur per hari. Namun, saat cuaca mendung, ia hanya mendapatkan sekita 20 gram telur perhari.
 
Perawatan selama di bak pembesaran juga cukup mudah, maggot BSF bisa diberi makan sampah organik seperti sisa sayur, buah, sampah dapur, bungkil, sawit, hingga ampas kelapa. Mula-mula sampah organik yang sudah dikumpulkan digiling dengan mesin, setelah itu dicampur dengan E4 dan molase dan difermentasikan selama dua hingga tiga hari. Bisa juga tanpa fermentasi, tapi lebih bagus kalau difermentasikan lebih dulu.
 
Untuk 1 kg pupa jika menjadi lalat dewasa dapat memberikan telur sebanyak 40 – 50 gram. Jika ditetaskan bisa menjadi 100 kg larva dewasa. Lalu jika dijadikan pupa atau calon indukan maka akan mendapat lalat BSF dewasa yang melimpah.

Pakan Lalat BSF
 
Pakan menjadi hal penting untuk dipikirakan. Dalam 1 kg larva memerlukan 5 kg pakan dari sampah organik selama satu hari. Satu bak itu bisa 10 kg, paling tidak perlu pakan 40- 50 kg.
 
Karena menggunakan pakan dari sampah rumah tangga, Pak Mashudi mengaku di rumahnya sudah tidak ada sampah yang terbuang sia-sia. Ia  memilih menjadikan sampah rumah tangganya untuk pakan maggot. Bahkan, karena jumlah yang diperlukan cukup banyak, ia harus rajin mendatangi tempat penampungan sampah untuk mencari sampah organik.
 
Sementara itu, untuk yang sudah menjadi lalat, tidak perlu diberikan pakan lagi, cukup hanya dengan menyeprot air yang dicampur dengan gula.

Pak Mashudi menyemprot kandang lalar BSF

Budidaya maggot BSF ini sangat banyak manfaatnya. Menurut Pak Mashudi, tidak ada yang terbuang dalam budidaya ini. bahkan, sisa-sisa makanan maggot dapat dijadikan kompos yang jika dijual dapat menjadi pundi-pundi rupiah.
 
Tanah yang hitam di bawah maggot itu adalah pakan yang sudah dimakan oleh maggot,  itu lah komposnya. Kalau  dijual, per kilogramnya bisa Rp1.000 hingga Rp1.500. Lalat yang sudah mati juga bisa buat pakan ayam dan pancingan untuk lalat baru agar  bertelur. Tidak ada yang terbuang.
 
Dari budidaya maggot ini, Pak Mashudi dapat menjual telur maggot BSF, larva dewasa untuk  pakan, pupa, serta kompos. Ia memasarkannya melalui  Facebook pribadinya (Mashudi) dan Whatsapp. Tak tanggung-tanggung, ia telah menjual telur dan pupa hingga ke Jambi, Lampung, Siak, Bengkalis,  Medan, dan lain-lain.

Sementara untuk larva dewasa dan kompos, ia menjualnya di dalam Kota Pekanbaru mengingat kesulitan mengirimkan makhluk hidup melalui ekspedisi.
 
Untuk harga, telur maggot BSF dijual Rp6 ribu pergram, sementara larva dewasa dan prepupa Rp60 ribu perkilogram, dan pupa Rp8 ribu per gram. Dalam satu hari,  ia bisa mendapatkan omzet Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari, tergantung seberapa banyak telur yang diperoleh dalam satu hari.

Di Kota Pekanbaru sendiri budidaya maggot BSF masih sangat jarang. Bisa jadi, ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi yang berminat.

Pak Mashudi sendiri bersedia membagikan ilmu secara gratis jika ada yang ingin mencoba budidaya maggot BSF, asalkan ada niat dan tidak jijik terhadap belatung atau larva.