Thursday, December 1, 2022

Resensi Buku Self Healing dari Alvi Syahrin: Loneliness is My Best Friend

Loneliness is My Best Friend

Beberapa waktu lalu aku sempat hadir dalam sebuah agenda Book Tour penulis buku self healing, Loneliness is My Best Friend. Siapa lagi kalau  bukan Alvi Syahrin. Selain bertemu dengan Alvi Syahrin di sana turut hadir penulis buku terkait self healing juga yaitu Ardhi Mohamad.

Sebelum aku datang ke acara meet and greet tersebut, aku sama sekali belum membaca satu pun karya baik dari Alvi Syahrin maupun Ardhi Mohamad. Aku dapat info dari FYP TikTok yang tak sengaja lewat di berandaku. Karena sedang tidak ada kegiatan aku pun memutuskan untuk hadir di agenda yang diselenggarakan di House of Danar Hadi Surakarta.

Di sanalah aku membeli buku terkait Self Healing yang berjudul Loneliness is My Best Friend. Buku ini berisi tentang pengalaman Alvi Syahrin sendiri terkait bagaimana ia melawan kesepian dalam hidupnya, yah sesuai dengan judul, buku ini bercerita tentang kesepian atau loneliness yang banyak dihadapi oleh orang-orang dewasa ini.

Gaya bahasa yang digunakan oleh Alvi Syahrin membuat pembaca seolah-olah sedang mendengarkan  curhatan dari penulisnya, atau mendengar saran-saran dari penulis.Menurutkau, buku ini cocok dibaca sesuai suasana hati. Tidak harus membaca secara runut seperti membaca novel.

Lembaran demi lembaran buku Alvi Syarin kubuka, tidak  semua kesepian yang dituliskan pernah kualami,  tapi ada beberapa yang memang kualami. Bagi yang tidak pernah mengalami kesepian mungkin buku ini tidak ada nilainya, tapi bagi orang yang benar-benar merasakan dan paham apa itu kesepian, buku ini benar-benar menjadi motivasi penyemangat hati untuk melanjutkan hidup.

Cara Alvi menyapa juga cukup unik,  ia menganggap para pembaca adalah seorang teman. “Hai, ini aku, your loneliness. Lewat buku ini,  kita coba jadi teman, yuk?” Begitulah sapaan awal Alvi Syahrin dalam mengawali buku Loneliness is My Best Friend.

Aku berpikir kalau membaca Loneliness is My Best Friend, hal pertama yang dilakukan tentu membaca daftar isi, mencari tulisan mana yang kira-kira sedang relate dengan kehidupan nyata yang pernah atau sedang kualami.

Tak jarang juga, jika ada teman yang curhat tentang masalah hidupnya, kukirimakan kata-kata ajaib Alvi Syahrin yang relate dengan masalah kehidupannya.

Loneliness yang ada dalam buku ini dimulai dengan Surat dari Kesepian; Aku Nggak  Punya Sahabat; Ada tapi Tak Dianggap; Rumah yang Tak Terasa seperti Rumah; Aku Nggak Pernah Punya Kisah Cinta; Introver, Ekstrover, Bukan Keduanya; Latihan Berteman sama Diri Sendiri; dan Berdamai dengan Kesepian. Bagaimana? apa Kamu pernah mengalami hal-hal tersebut?

Dari segi visual buku Loneliness is My Best Friend cukup menarik, didominasi dengan warna hijau dengan gambar pemandangan alam, rumah-rumah warga dan sebuah lukisan tentang alam dan rumah-rumah warga tersebut yang bernuansa malam, dihasi dengan bulan sabit dan bintang-bintang.

Cover ini  menarik karena dari beberapa buku yang dijual di meja pada acara ini, aku lebih tertarik dengan buku Loneliness is My Best Friend dibandingkan dengan buku-buku lainnya yang tentu saja tidak kalah menarik. Maafkan aku yang judge a book by it's cover.

Ada 45 chapter dalam buku ini, setiap chapter dipisahkan dengan  gambar  berwarna seperti di cover-nya, dilengkapi dengan kata-kata dan kalimat singkat.

Alvi Syahrin: Loneliness is My Best Friend

O ya, Alvi Syarin tidak memenuhi setiap halaman bukunya dengan tulisan, mungkin dalam satu lembar ia hanya menuliskan satu kalimat, atau beberapa paragraf saja. Bagi yang malas membaca pasti desain  ini  lebih disukai karena tidak semakin menambah beban pikiran.

Alvi Syahrin: Loneliness is My Best Friend

Alvi Syahrin Orangnya Seperti Apa?

Seperti yang kuceritakan di awal tulisan ini, aku bukan penggemar  berat Alvi Syahrin, bahkan aku tidak tahu dia siapa sebelum aku datang ke acara ini.

Biasanya, sebelum datang ke sebuah agenda,aku mencari tahu siapa yang akan kutemui, rekam jejaknya, dan apa saja karya-karyanya. Pertama, kubuka akun-akun sosial media Alvi Syahrin, semua hanya mengunggah tentang karya, tidak ada satu pun yang menampilkan wajah, baik itu di TikTok, Instagram, dan lain-lain, bahkan dalam foto yang ditandai juga tidak  ada wajahnya.

Tak menyerah, aku searching di Google, meskipun tidak banyak tapi ada beberapa yang menampilkan wajahnya. Padahal Alvi Syahrin tidak jelek lho, tapi entah mengapa ia tidak menampilkan wajah di sosial media. Branding seperti apa yang ditampilkan oleh Alvi Syahrin? Aku juga tidak tahu.

Aku datang ke lokasi cukup awal dibandingkan lainnya. Saat itu masih belum ramai, ada seorang pria berjambang datang menyambut orang-orang yang hadir dan mengatakan selamat datang,serta mengucapkan terimakasih telah hadir di acara tersebut.

Dari sayup-sayup bisikan yang kudengar dia adalah Alvi Syahrin. Ratusan orang hadir dalam agenda ini,  ada yang membeli buku  baru, membawa  koleksi lengkap buku karya Alvi Syahrin dan ada juga yang tidak membawa apa-apa.

Saat acara dimulai, Alvi Syahrin menyapa ramah para peserta yang hadir,  memberikan motivasi-motivasi untuk jiwa-jiwa  yang kesepian.  Tak  lupa ia berpesan kepada yang hadir, untuk  tidak menampakkan wajahnya di sosial media,  dan  ia ingin permintaan tersebut dihargai oleh fans-fansnya.

Book Tour Alvi Syahrin (kanan) dan Ardhi Mohamad di Solo

Oh,  pantas saja tidak  ada foto Alvi Syahrin di sosial media, ternyata itu penyebabnya. Alvi mengatakan, jika pun ingin mengunggah foto di sosial media bisa dengan  mem-blur-kan wajahnya atau menimpa dengan stiker.

Selain daripada itu,  Alvi Syahrin sangat ramah menyapa para fansnya.  Di akhir acara tak lupa diadakan tanda tangan buku Alvi  Syahrin dan Ardhi Mohamad. Karena aku baru saja membeli bukunya, aku pun tak melewatkan kesempatan untuk mendapatkan tanda tangan dua penulis buku tersebut.

Tanda tangan Alvi Syahrin

“Kenapa cuma bawa buku Alvi aja, kenapa bukuku enggak?” tanya Ardhi Mohamad dengan nada bercanda.

Sebagai tambahan, buku self healing dari Alvi Syahrin ini  punya dua seri. Seri pertama berjudul Insecurity is My Middle Name dan buku kedua Loneliness is My Best Friend. Kabarnya akan ada seri-seri selanjutnya lho.

Bareng Mba Fita


Wednesday, November 30, 2022

Melihat-lihat Pameran Temporer Keraton Jogja: Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta

Pameran Temporer Keraton Yogyakarta

Masih dalam edisi jalan-jalan di Yogyakarta. Tidak tahu arah ke mana harus menuju, aku dan Diah akhirnya menginjakkan kaki di Keraton Yogyakarta, membeli tiket seharga Rp15 ribu. Kami mendapatkan sebuah gelang kertas (seperti gelang konser) dan tiket masuk pameran temporer Keraton Yogyakarta.

Ternyata, pada saat kami datang ke sana, sedang diadakan pameran temporer bertajuk Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta. Dari penjelasan guide, kami mendapatkan info, pameran seperti ini diadakan selama tiga bulan dalam satu tahun dengan tema yang berbeda-beda setiap tahunnya.

Pameran ini berlangsung sejak 29 Oktober 2022 hingga 29 Januari 2023, bercerita tentang masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III dan Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Pameran ini digelar di Kompleks Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Sumakala, berasal dari kata suma dan kala. Suma berarti layu, prihatin, guram, sedangkan kala berarti waktu, tahun, periode. Sumakala bermakna periode yang guram.

Sumakala adalah cerminan utuh dari masa krisis gempuran Raffles. Yogyakarta pada masa tersebut, tak hanya mengalami tekanan politik tetapi juga ekonomi.

Pameran ini bernuansa hitam, mulai dari masuk hingga keluar. Lampu berwarna putih menjadi sumber cahaya dalam pameran ini, menambah suasana temaram dan merasakan kembali guramnya tahun-tahun tersebut. hal ini mungkin menyesuaikan dengan tema yang diambil yaitu Sumakala. Pengunjung akan diajak flashback ke tahun 1796 hingga 1823.

Ringkasan Pameran Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta

Pada tahun 1976 Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kedhaton melahirkan Raden Mas Surojo pada tanggal 20 Februari, yang nantinya akan menggantikan ayahnya sebagai Sultan Hamengku Buwono III.

Tahun 1804, GKR Kencono melahirkan Gusti Raden Mas Ibnu Djarot (putra dari Putra Mahkota Raden Mas Surojo) pada tanggal 3 April. Kelak, ia menggantikan ayahnya dan menjadi Sultan Hamengku Buwono IV.

Tahun 1810, Gusti Raden Mas Surojo diangkat sebagai 'regent' wakil raja oleh HW Deandels dalam pemerintahan di Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1811, ia dikembalikan menjadi putra mahkota pada saat pemerintahan Kolonial Belanda berganti oleh pemerintahan Inggris.

Tahun 1812 terjadi peristiwa geger sepehi, yaitu penyerbuan Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh Inggris untuk menggulingkan Sultan Hamengku Buwono II karena menolak kerja sama. Pasca peristiwa ini, Gusti Raden Mas Surojo naik takhta dan dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono IV. Kemudian Gusti Raden Mas Ibnu Djarot diangkat sebagai putra mahkota.

Namun, pada tahun 1814, Sultan Hamengku Buwono III wafat karena sakit, sehingga Gusti Raden Mas Ibnu Djarot yang pada saat itu masih berusia 10 tahun naik takhta menggantikan ayahnya dan menjadi Sultan Hamengku Buwono IV.

Tahun 1815 Sultan Hamengku Buwono IV dikhitan. Selanjutnya ia menikah pada tahun 1816. Pada tahun yang sama, pemerintahan inggris kembali digantikan oleh pemerintahan Belanda, dimana tidak ada perubahan kebijakan semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IV.

Tahun 1820, saat Sultan Hamengku Buwono IV berusia 15 tahun ia mulai menjalankan pemerintahannya sendiri. Namun sayang, beliau wafat pada tiga tahun setelahnya yaitu pada tahun 1923 ketika ia berusia 19 tahun dengan sebab yang dipertanyakan, terlebih ia meninggal saat sedang bertamasya.

Itulah ringkasan pameran temporer Keraton Yogyakarta terkait Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta. Sedih sekali ya kisah-kisah para sultan tersebut.

O ya, dalam pameran ini dipeihatkan berbagai koleksi dari keraton mulai dari lukisan-lukisan ilustrasi tentang kenaikan takhta sultan, pakaian, busana permaisuri, busana penari bedhaya durma kina, arsip-arsip, hingga kereta-kereta kebesaran yang dipakai oleh para sultan tersebut, dan lain-lain.

Ilustrasi kenaikan takhta Sultan Hamengku Buwono IV

Busana penari bedhaya durma kina

Busana permaisuri sultan

Beberapa benda peninggalan seperti arsip dan benda-benda yang dipajang di dalam kaca dilarang untuk difoto untuk menjaga keasliannya.

Itulah sedikit cerita perjalanan kilas balik masa pemerintahan Keraton Yogyakarta pada tahun 1796 hingga 1823, yang dirangkum dalam pameran Sumakala Dasawarsa Temaram Yogyakarta.







Monday, November 28, 2022

Menikmati Sunset di Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis

Siapa sih yang tidak suka sunset alias matahari tenggelam. Mau anak senja, anak mama, anak papa, anak layangan, pasti banyak yang suka. Kenapa suka dengan sunset atau senja? karena senja tau bagaimana berpisah dengan cara yang indah.

Salah satu tujuanku ke Jogja beberapa waktu lalu adalah menikmati sunset di Pantai Parangtritis, sudah lama sekali aku menantikannya. Aku selalu bilang ke teman-temanku yang mengajak ke Jogja dan bertanya "nanti ke Parangtritis ngga? Ke Pantai Parangtritis yuk".

Masih dalam rangkaian wisata ke Jogja. Setelah dari Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta aku dan Diah langsung bertolak ke Pantai Parangtritis untuk melihat sunset.

Baca Juga: Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta

Di Map tertulis perlu waktu sekitar 38 menit dari Hutan Pinus Mangunan menuju Pantai Parangtritis. Kami pun mengikuti jalan tersebut, melewati jalanan yang menurun, gang-gang kecil, rumah-rumah warga, dan jalanan sepi dengan pemandangan sawah yang indah.

Dibalik keindahan yang kami lihat sepanjang perjalanan, ada satu kekhawatiran dalam hatiku. Melihat sunset berarti pulang lewat waktu maghrib, jalanan yang kami lewati cukup sepi, kami berdua perempuan di rantau orang, motor kami motor pinjaman, bagaimana dengan nasib kami nanti. Ya begitulah pikiran-pikiran buruk yang menghantuiku selama perjalanan.

Jalanan sepi berubah menjadi ramai ketika kami berbelok ke Jalan Parangtritis, kami sedikit lega dan berharap saat pulang nanti tidak melewati jalanan sepi tadi.

Masuk ke area wisata Pantai Parangtritis, kita melewati sebuah gerbang. Ada beberapa penjaga di situ yang menyodorkan tiket masuk senilai Rp10 ribu per orang.

Hari itu hari Jumat, tidak terlalu ramai. Beberapa tukang parkir melambai-lambaikan tangannya mengarahkan sepeda motor kami untuk parkir di lokasi-nya. Ada banyak sekali kedai-kedai yang menjual makanan dan minuman. Tak lupa, penjual topi-topi cantik di mana-mana.

Sebelum parkir, aku memutuskan untuk menjelajah hingga agak sedikit ke ujung untuk menyurvei, lokasi parkir mana yang paling strategis menuju pantai, ramai, tidak jauh jika ingin ke mana-mana.

Setelah parkir, toilet menjadi tujuan selanjutnya. Seperti pantai pada umumnya, di Pantai Parangtritis ini juga banyak toilet-toilet umum berbayar, tinggal pilih saja yang paling nyaman. Musala juga banyak disediakan. Selain musala sekadarnya berjalan agak sedikit jauh ke arah keluar juga terdapat sebuah musala yang bagus dan cantik.

Tidak tahu ada perayaan apa, tapi ada sebuah keramaian yang menarik hati kami untuk mendekat, ternyata pertunjukan jatilan. Penari-penari kelihatannya sudah kesurupan, hanya terlihat mata yang putih semua. Diah takut, jadi kami segera meluruskan tujuan untuk melihat Pantai Parangtritis.

Kami tiba di sana sekitar pukul tiga lewat. Foto-foto dan buat video alakadarnya. Beli jajan, minum, makan gorengan, makan pentol sambil duduk di atas kayu tua di atas pasir, melihat orang-orang berlalu lalang. Ada yang jalan kaki, ada yang mengendarai ATV, ada yang naik kuda, naik dokar, ada yang berfoto-foto, bermain air, dan lain-lain.

Pantai tempat Ratu Kidul bersemayam ini memang tidak untuk berenang. Ombaknya cukup tinggi, dikhawatirkan bisa tertarik ombak hingga ke laut. Kan serem juga yaa.

Pada pukul 17.00 WIB, awan terlihat menutupi langit senja kala itu. Aku sedikit khawatir tidak bisa melihat sunset. Orang-orang mulai beranjak dari pantai, hari semakin gelap. Meskipun sebelumnya kami sudah bertanya kepada tukang parkir, apakah rute ke Jogja cukup ramai, dan tukar parkir menjawab yaa, sangat ramai, tinggal lurus saja sudah sampai ke Jogja. Aku tetap saja khawatir.

Pantai Parangtritis

Langit tak menunjukkan tanda-tanda akan memberikan perpisahan dengan nuansa sunset yang indah. Waktu terus berlalu, pantai semakin sepi, meski ada beberapa orang yang kupikir juga sedang menunggu sunset.

Aku tau, tapi aku tetap khawatir, perasaanku berkata, "sudah pulang saja, tidak akan ada sunset yang indah di sini". Aku tak mengabaikan suara hati kecilku. Aku mengajak Diah untuk beranjak dan pulang sebelum maghrib tiba. Kami gagal menikmati sunset. Semoga nanti aku diberikan kesempatan dan keberanian lebih besar agar bisa menikmati sunset di Pantai Parangtritis.

Joko Kendil di Parangtritis

Benar saja yang dikatakan tukang parkir tadi, jalan menuju Jogja hanya tinggal lurus tanpa harus berbelok, jalanan juga cukup ramai dengan kendaraan baik roda dua ataupun roda empat. Bukan seperti jalan yang kami tempuh seperti dari Mangunan tadi.

Ketika melewati jembatan, senja mulai tiba, kulihat mega merah menyala dari arah barat, aku membayangkan betapa indahnya sunset di Pantai Parangtritis, sedikit menyesal aku buru-buru beranjak tanpa menunggu terlebih dahulu. Hahaha, memang bukan rezeki.

Akhirnya kami sampai di Jogja dengan selamat, meski sedikit diguyur hujan ketika memasuki area kota. Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya yaa...

Pantai Parangtritis


Sunday, November 27, 2022

Wisata Riau: Jelajahi Pesona Pulau Rupat Utara, Bengkalis, Riau

Pulau Beting Aceh

Beberapa waktu lalu aku sempat mengunjungi salah satu wisata Riau yang berada di Pulau Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Pulau Rupat merupakan pulau terluar di Provinsi Riau, berhadapan langsung dengan Negara Malaysia. Meskipun tidak seterkenal Bali atau Sumatera Barat, wisata Riau satu ini memiliki pulau dan pantai yang juga indah untuk dipilih sebagai tempat untuk menghabiskan waktu senggang bersama keluarga dan orang-orang tercinta.

Berbicara tentang wisata Riau, mungkin orang akan teringat pada Kabupaten Siak dengan wisata sejarahnya, Kabupaten Kampar dengan sungai serta air terjunnya, atau Kuantan Singingi dengan pacu jalurnya.

Namun, aku akan membahas terkait wisata pantai yang sangat jarang terdengar di Riau. Memang, ada beberapa pantai di Riau, tetapi Pulau Rupat Utara menawarkan sensasi pantai yang berbeda dibandingkan pantai di Riau lainnya.

Baca Juga: Pantai Solop Berbilang Pesona

Pulau Rupat Utara memiliki beberapa pantai, yaitu Pantai Tanjung Lapin, Pantai Pesona, Pantai Ketapang, Pantai Makeruh, dan Pantai Pasir Putih. Pulau Rupat juga memiliki hutan mangrove, migrasi burung, dan potensi penangkaran penyu. Menyeberang sekitar 20 menit kita bisa melihat birunya air laut dan putihnya pasir pantai yang berbisi di Pulau Beting Aceh.

Baca Juga: Berkenalan Dengan Pulau Rupat Yang Eksotis

Cara Menuju Wisata Riau: Pulau Rupat Utara

Dari Kota Pekanbaru kita bisa menuju ke Kota Dumai, bisa melewati jalan tol jika mengendarai mobil atau melalui jalan biasa jika berkendara dengan sepeda motor.

Dari Kota Dumai menuju wisata Pulau Rupat Utara ada dua cara yang bisa ditempuh. Pertama, jika ingin membawa kendaraan baik itu sepeda motor, mobil, bus, dan lain-lain maka bisa melalui Pelabuhan RoRo Bandar Sri Junjungan. RoRo ini akan membawa kita menuju Pelabuhan Tanjung Kapal yang berada di Pulau Rupat. Perjalanan dengan RoRo memakan waktu sekitar 30 menit, tentu ini belum termasuk waktu menunggu RoRo datang yaa.

Dari Pelabuhan Tanjung Kapal, perjalanan selanjutnya yaitu menuju Rupat Utara yang menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam. Perjalanan agak terasa jauh karena saat aku ke sana dulu (2022) jalan belum dibeton seluruhnya dan masih ada bagian jalan dari tanah kuning yang bergelombang, sehingga kendaraan seperti bis dan mobil sulit untuk melaju dengan kencang.

Cara kedua, yaitu melalui Pelabuhan Sungai Dumai menuju Pelabuhan Tanjung Medang Rupat Utara dengan menggunakan speed boat. Perjalanan air ini memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan harga Rp100 ribu an. Dari Pelabuhan Tanjung Medang, bisa langsung megunjungi berbagai destinasi wisata Rupat Utara.

Nah, jika tujuan kalian adalah Pulau Beting Aceh yaitu destinasi wisata yang menurutku paling indah untuk dinikmati di Pulau Rupat, maka dari Pelabuhan Tanjung Medang bisa kembali menyewa speed boat menuju Pulau Beting Aceh.

Biaya speed boat mulai Rp600 - 800 ribu, bahkan hingga Rp2 juta jika speed boat-nya besar. Harga tergantung negosiasi dengan pemilik speed boat. Kalau datang ramai-ramai pasti akan lebih murah, biaya sewanya. Speed boat ini akan mengantarkan pergi dan pulang Pulau Beting Aceh. Tidak ada jam-jam khusus keberangkatan, ada penumpang langsung gas.

Penginapan di Pulau Rupat Utara

Jika ke Pulau Beting Aceh menginapnya masih tetap di Pulau Rupat Utara. Pasalnya, di Pulau Beting Aceh belum ada penginapan, warga, dan fasilitas memadai lainnya.

Di Tanjung Medang Rupat Utara, tersedia penginapan, homestay, hingga vila dengan harga beragam, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp400 ribu untuk wisma dan homestay. Bahkan ada juga vila di sini.

Saat ini, penginapan di Tanjung Medang masih belum banyak. Bahkan saat high season seperti Tahun Baru dan libur Lebaran, penginapan banyak yang penuh sehingga biasanya homestay dialihkan ke rumah-rumah warga.

Jadi, tertarik berwisata ke Rupat Utara?

Saturday, November 26, 2022

Es Krim Bingsoo Korea Keraton Solo

Es Krim Bingsoo Korea Solo

Aku mau cerita, kali ini tentang Es Krim Bingsoo Korea Keraton Solo. Ini cukup menarik karena saking viralnya es krim ini, belinya juga butuh perjuangan yang ekstra.

Awalnya, aku dan Diah sedang duduk-duduk di perpustakaan kampus di suatu siang. Lelah memikirkan tugas yang tak kunjung dikerjakan, kami kepikiran untuk minum sesuatu yang manis-manis.

Diah pun mengirimkan video review Es Krim Bingsoo Korea yang berada di sekitar Keraton Solo. Di video tersebut tampak penjual sedang mengisi cup dengan es serut rasa tertentu hingga penuh, kemudian meletakkan satu scoop es krim sebagai sentuhan terakhir.

Karena penasaran dengan rasanya, aku dan Diah pun memustuskan untuk pergi ke Keraton Solo untuk merasakan langsung Es Krim Bingsoo Korea usai pulang dari kampus.

Naas, saat kami baru tiba di depan Keraton Solo hujan yang tadinya gerimis berubah menjadi hujan deras, kami pun harus berteduh menunggu hujan reda sebelum meneruskan perjalanan.

Es Krim Bingsoo Korea ini berada di Jalan berlokasi di area Ndalem Suryohamijayan, Keraton Solo, tepatnya di sebelah kanan Keraton Solo kalau dari gerbang depan. Tapi karena jalan di area Keraton Solo ini satu arah, otomatis harus memutar terlebih dahulu untuk sampai tujuan. Tenang, aku mengikuti Map dan sampai tujuan dengan selamat.

Kami sampai di kedai Es Krim Bingsoo Korea yang bernama Arum Manis ini sudah maghrib. Sesampainya di sana, kami langsung memesan. Tapi sayang, mas mas penjual mengatakan jika sudah close order, kalau pun ingin pesan harus datang besok lagi.

Kecewa, iya dong. Tapi ya mau bagaimana lagi, kami pun pulang tanpa merasakan Es Krim Bingsoo Korea yang hit ini. Perjuangan berteduh sesorean terasa sia-sia, bahkan saat pulang kami juga basah kuyup diterpa gerimis sepanjang jalan.

Tapi kami tak menyerah, keesokan harinya kami datang lebih awal. Kami mendapatkan informasi kalau Es Krim Bingsoo Korea ini buka mulai pukul 10.00 WIB. Jadi kami datang pukul 13.30 WIB. Hahaha, sesampai di sana kami langsung memesan dan mendapatkan nomor antrean 104, dan nomor yang sedang dibuatkan oleh mas-masnya baru sampai nomor 40.

"Gini aja Mba, Mba datang nanti sore aja, kami tunggu sampai jam tujuh malam kok, tenang aja. Mba bawa ini (nomor antrean) nanti langsung dibuatkan," kata masnya.

Kami pun kembali pulang dengan harapan bisa merasakan lezatnya Es Krim Bingsoo nanti malam. Tentu harus lezat dong, ini kan ngantrenya sudah lama, perjuangannya nggak gampang, masak iya nggak enak. "Awas saja kalau nggak enak," batinku.

Kami baru kembali ke Solo dari bandara setelah menjemput teman sekitar lewat pukul tujuh malam. Awalnya kami ragu untuk kembali ke Keraton Solo karena khawatir kedai es krimnya sudah tutup. Namun kami memantapkan hati.

Kedai Es Bingsoo Korea Arum Manis Solo

Benar saja, kedai es krim masih buka, meskipun mas masnya sudah mengelap dan menaikkan kursi bersiap untuk tutup, tapi masih kulihat mas yang satunya lagi sedang membuatkan pesanan untuk orang lain.

Dengan bangga Diah menyodorkan nomor antrean, dari sorot matanya dia seolah-olah berkata, "nih, aku sudah ada antrean, tolong segera buatkan!"

Mas masnya pun menerima nomor antrean tersebut dengan wajah lelahnya. Segera ia menyilahkan duduk dan membuatkan Es Krim Bingsoo pesanan kami.

Kursi-kursi yang sudah dirapikan kami turunkan lagi. Tak lama kemudian pesanan datang, es serut matcha dengan topping es krim rasa coklat. Punya diah es serut matcha dengan topping es krim rasa vanila.

Sekilas kulihat es serutnya berbentuk seperti keju yang diparut. Rasanya manis khas matcha, tekstur serutannya memberikan sensasi yang berbeda saat es krim menyentuh lidah, terlebih es krim ini tidak membuat enneg meskipun
sudah habis 1 cup. Tidak salah es krim ini sangat ramai bahkan harus antre setiap harinya.

Es Bingsoo Korea Solo

Selain rasa matcha yang kami pilih ada rasa-rasa lain juga, yaitu coklat, vanila, strawberry, red velvet, mocca, dan kopi. Harganya juga sangat terjangkau, yaitu Rp10 ribu per cup-nya.

Gimana pengen coba Es Krim Bingsoo Arum Manis Keraton Solo? Datang pagi-pagi biar dapat antrean yaa.

Friday, November 25, 2022

Wisata Alam Jogja: Hutan Pinus Mangunan

Hutan Pinus Mangunan

Bagiku wisata alam selalu menawarkan pesona luar biasa, hanya saja jarak yang ditempuh selalu lebih jauh dari biasanya. Kali ini aku berkesempatan mengunjungi salah satu wisata alam yang cukup terkenal di Jogja, yaitu Hutan Pinus Mangunan. 

Wisata Alam Jogja, Hutan Pinus Mangunan berjarak sekitar 40 menit dari Kota Yogyakarta menggunakan sepeda motor. Aku berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta sekitar pukul 10.00 WIB, kemudian menitipkan barang di penginapan, dan benar-benar berangkat ke Hutan Pinus Mangunan sekitar 10.30 WIB. 

Baca Juga: Travelling Naik Sepeda Motor Ke Jogja: Kemana Aja 

Bermodalkan peta, alias Map, aku dan Diah menyusuri jalanan Yogyakarya, mulai dari jalanan yang macet, padat, panas, hingga jalanan yang lengang. Hutan Pinus Mangunan ini berada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Seperti hutan pinus pada umumnya, hutan ini berada di dataran tinggi, sehingga akan sangat lebih baik jika menyiapkan sepeda motor dan memastikan motor dalam keadaan baik-baik saja. Jalanan yang berliku dan menanjak akan membuat sepeda motor berjuang ekstra untuk sampai ke tujuan. 

Kami mengendarai Honda Genio, entah aku yang kurang pandai atau memang seperti itu, gas ditangan kanan sampai mentok untuk dapat menanjak. Berkali-kali kuperingatkan Diah di boncengan belakang, untuk duduk lebih depan sedikit agar beban motor tidak terlalu berat, untung saja kami bisa sampai tujuan dengan selamat. 

Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta 

Map membawa kami ke jalan yang benar dan tujuan yang sesuai. Sesampainya di sana, kami langsung memarkirkan sepeda motor, saat masuk lokasi parkir ada petugas yang memberikan karcis parkir senilai Rp3 ribu. 

Fasilitas di Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta ini sangat lengkap, tidak perlu repot mencari makan, mencari toilet, mencari musala, dan lain-lain. Semua sudah tersedia. 

Karena kami sampai pukul 12 lewat, tentu saja perut sudah keroncongan. Segera kami duduk di salah satu dari warung-warung yang berjejer tak jauh dari tempat parkir, memesa Pop Mie, mi ayam, mendoan, dan minuman sebagai pelepas lapar dan dahaga. 

Aku baru pertama kali ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta, wisata Yogyakarta juga belum banyak kudatangi. Tapi, menurutku harga-harga makanan di tempat ini sangat terjangkau dan tidak jauh berbeda dengan harga di kota. Kupikir karena berada di lokasi wisata maka akan jauh lebih mahal, tapi ternyata tidak. 

Harga Pop Mie Rp8 ribu, mi ayam Rp10 ribu, dan empat lembar mendoan Rp5 ribu, harga yang biasa kita temui bukan? 

Setelah kenyang kami langsung menuju Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta yang tepat berada di seberang jalan dari area parkir. Meskipun kami datang siang, pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi memberikan keteduhan, dan angin segar khas dataran tinggi membuat kami sama sekali tidak merasa kepanasan. 

Masuk ke Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta, dikenakan biaya masuk Rp5 ribu per orang, kami bisa menikmati pemandangan pohon pinus sepuasnya. Di sini diharuskan membayar dengan uang pas dan bisa juga menggunakan QQRIS

Masuk ke Hutan Pinus Mangunan

Berikut daftar harga dan fasilitas lainnya di Hutan Pinus Mangunan 

Prewedding: Rp200 ribu

Video Clip: Rp250 ribu

Sewa aula: Rp250 ribu

Sewa tempat: Rp250 ribu

Film komersil: Rp3,5 juta

Sewa panggung non komersil: Rp1 juta.

Hutan Pinus Mangunan

Seperti hutan pinus pada umumnya, tentu saja banyak pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Bedanya dari hutan-hutan pinus yang pernah kudatangi, di sini dibuatkan titian dari kayu yang ditata rapi sehingga kita bisa menjelajahi hutan pinus tanpa takut kotor. 

Baca Juga:  Wisata Jawa Tengah: NIkmati Keindahan VIP Camp Bukit Sekipan Tawangmangu 

Kemudian di bagian lainnya terdapat panggung lengkap dengan tempat duduk penonton yang ditata permanen. Sayangnya, saat kami ke sana sedang tidak ada agenda, yah kami juga datangnya tidak saat weekend

Hutan Pinus Mangunan

Baca Juga: Wisata Kampar: Hutan Pinus Bukit Candika Bangkinang 

Selain hutan pinus, di sini juga bisa memberi makan burung dara yang jumlahnya sangat banyak. Karena aku kurang suka, ya udah jadi cuma foto-foto saja.

Aku dan Diah

Jangan lupa membawa air mineral saat berkunjung ke sini. Biasanya aku selalu bawa, tapi kemarin lupa  jalan kaki di titian berkelok membuat jalan semakin panjang dan haus. 

Puas menikmati pemandangan dan berfoto-foto, kami pun beranjak dari hutan pinus dan mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya, yaitu menikmati sunset di Pantai Parangtritis. 

Nambah sedikit ya teman-teman, sebelumnya aku bercerita kalau jalan menuju Hutan Pinus Mangunan amatlah menanjak, nah pas baliknya atau pas kami menuju ke Pantai Parangtritis jalanan yang kami tempuh menjadi turunan, tanpa digas pun motor tetap melaju dengan kecepatan tinggi, ini sangat menyenangkan. 

Sekian dulu cerita perjalanan kali ini yaa...

Thursday, November 24, 2022

Tips Berburu Tiket Go Show Solo - Madiun

KAI

Siapa nih yang suka cari-cari tiket kereta api yang murah. Saya dong, yang paling dulu mengacungkan tangan. Salah satu jalan ninjaku saat balik ke Ponorogo adalah dengan berburu tiket murah alias Go Show.

Bagaimana tidak, tiket asli kereta api jurusan Solo - Madiun dan sebaliknya itu mulai Rp130 ribu an, meskipun jarak tempuh perjalanan hanya sekitar 1 jam. Padahal sangat dekat sekali. Kalau ke Yogyakarta hanya Rp8 ribu dengan menggunakan KRL, tapi sayangnya tidak ada KRL Solo - Madiun. Namun, dengan tiket Go Show ini hanya perlu membayar Rp35 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp50 ribu untuk kelas bisnis.

Sayangnya, tiket Go Show hanya dijual pada 2 jam sebelum keberangkatan. Tiket Go Show merupakan sisa tiket yang tidak terjual, jadi keberadaan tike Go Show juga tidak bisa dipastikan ada berapa, dan kadang kala kita tidak kebagian tiket Go Show.

Dari pengalamanku berburu tiket Go Show, aku ingin berbagi sedikit tips untuk teman-teman yang ingin melakukan perjalanan menggunakan kereta api khususnya dari Stasiun Solo Balapan ke Stasiun Madiun.

Meskipun dijual sejak 2 jam sebelum keberangkatan, tapi biasanya sangat cepat habis di menit-menit awal. Saat itu, aku hendak pulang ke Ponorogo melalui Stasiun Solo Balapan - Stasiun Madiun, aku sudah menjadwalkan akan berangkat sekitar pukul tiga sore, otomatis aku harus stand by untuk membeli tiket Go Show pada pukul 1 siang.

O ya, pembelian tiket Go Show ini harus menggunakan aplikasi KAI Access, dengan sesekali me-refresh di detik-detik 2 jam sebelum keberangkatan. Pastikan juga data-data pribadi sudah dimasukkan, jadi saat waktunya tiba tinggal sat-set-sat-set tanpa isi data lagi.

Pas pukul 1 siang, aku langsung membuka aplikasi KAI Access, kulihat ada beberapa kursi Go Show tersedia, segera ku klik untuk melakukan pembelian, dan ternyata aku gagal untuk mendapatkan tiket keberangkatan pukul 3 sore tersebut karena kurang gercep.

Akhirnya, aku pun memutuskan untuk kembali berburu tiket Go Show di jam keberangkatan selanjutnya yang dijadwalkan sekitar pukul 6 sore. Aku pun kembali bersiap-siap dan memasang alarm pukul 4 sore agar tidak ketinggalan membeli tiket Go Show. Tak lupa aku mematikan sinyal WiFi dan memilih menggunakan paket data agar laju internet ponsel lebih kencang.

Pukul 4 pun tiba, aku langsung membuka KAI Access dan melihat sudah tersedia harga murah, pertanda masih tersedia tiket Go Show, buru-buru aku melakukan pembelian, tapi sayang sekali, aku kembali kehilangam karena kurang cepat.

Eitt tunggu dulu, di tengah kehampaan hati karena terancam tidak jadi pulang ke Ponorogo, iseng-iseng aku me-refresh halaman KAI Access, dan benar saja masih ada tiket Go Show tersedia, padahal sebelumnya tertulis tidak tersedia. Tak mau melewatkan kesempatan, aku pun menyentuh layar dengan jari bergetar dan harap-harap cemas apakah bisa mendapatkan tiket tersebut. Tak sempat aku memilih kursi karena memang sudah tidak ada pilihan.

Lega-kelegaan hangat saat tiba di proses pembayaran, hal ini berarti aku berhasil mendapatkan tiket Go Show jurusan Solo - Madiun seharga Rp35 ribu. Aplikasi memberikan waktu sekitar 20 menit untuk melakukan pembayaran, untung saja ada aplikasi mobile banking.

Karena saking senang, untuk pertama kalinya mendapatkan tiket Go Show, aku langsung mengambil barang-barang yang sudah ku packing sejak pagi dan memesan Maxim untuk berangkat ke stasiun, padahal masih ada waktu dua jam sementara jarak kost ku ke stasiun hanya sekitar 15 menit saja.

Di stasiun aku pun duduk-duduk menunggu kereta datang, menghabiskan dua jam ku dengan mengobrol dengan orang-orang yang duduk di sampingku. Dari situ aku bertemu dengan seorang perempuan asal Karanganyar. Ia bercerita jika hendak pergi ke Madiun juga, perempuan itu sangat terkejut karena aku berhasil mendapatkan tiket Go Show Solo - Madiun.

Menurutnya, tiket dari Solo lebih sulit untuk didapatkan, dan aku pun membenarkannya. Ia memberikan saran, jika ingin berangkat ke Madiun, tidak ada salahnya membeli tiket Go Show jurusan Yogyakarta - Madiun. Nanti tinggal scan tiket di Stasiun Solo Balapan, yah meskipun harganya lebih mahal yaitu Rp45 ribu untuk kelas ekonomi, tapi tiket dari Yogyakarta terhitung lebih banyak dan lebih mudah didapatkan ketimbang tiket Go-Show dari Solo.

Aku ingat baik-baik perkataan mbak-mbak tersebut. Bagiku pengalaman adalah pembelajaran, yang bisa didapatkan dari pengalaman sendiri maupun orang lain.

O yaa... untuk Go Show jurusan  Solo - Madiun kereta yang ada tiket ini yaitu KA Ranggajati, Gajayana, Bima, Turangga, Argo Wilis, Mutiara Selatan, Wijayakusuma, Jayakarta, Malabar, Kertanegara, dan Sancaka.

Begitulah sedikit pengalaman pertamaku membeli tiket Go Show, semoga bisa dijadikan pembelajaran bagi yang suka berburu tiket murah.