Sunday, April 15, 2018

Pesona Air Terjun Panisan


Menurun dan Menanjak, dengan turunan yang amat rendah serta tanjakan yang sangat tinggi, ditambah hujan semalam membuat jalan becek dan licin. Medan yang kami lewati tidak semudah yang kami bayangkan, sepertinya tempat ini sangat cocok untuk menguji adrenalin. Perjalanan untuk sampai ke Air Terjun Panisan bisa dilalui menggunakan sepeda motor, cocok bila menggunakan motor
trail, bisa juga berjalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan, tentunya dengan waktu yang lebih lama.
Air terjun Panisan, terletak di Desa Tanjung, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar. Menurut Kepala Desa, M. Nasir, Air Terjun yang di juluki Air Terjun Perawan ini ditemukan sejak dua  tahun yang lalu, oleh Pemuda bernama Rahmat yang sedang camping di wilayah tersebut. Ia melewati tanah tebing, yang berdengung kala itu, ternyata itu adalah suara air terjun. “sejak saat itulah, banyak orang mulai berdatangan,” tuturnya.
Saat itu aku pergi bersama rombongan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gagasan UIN Suska Riau. Kami berencana nge camp di Pulau sebelum menyeberang menuju air terjun, kami pergi sore dan tiba di sana sehabis maghrib, mengurus izin terlebih dahulu dengan warga desa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Karena gerimis malam itu, kami tidak diizinkan untuk mendirikan tenda di pulau karena khawatir air bisa naik sewaktu-waktu jika hujan bertambah lebat. Alhasil kami mendirikan tenda di tepi sungai yang tak jauh dari penyeberangan dan ditemani dua pemuda desa.

Untuk sampai ke Air Terjun bisa di tempuh selama satu jam menggunakan sepeda motor dan dua jam lebih bila berjalan kaki. Treknya cukup mudah bagi yang lihai menggunakan sepeda motor apalagi dengan cuaca yang bersahabat karena jalan akan lebih mudah untuk dilewati.
Sebelum melewati trek tersebut, kami harus menyeberangi sungai menggunakan dua buah perahu yang di gabungkan menjadi satu kemudian diatasnya dibentuk oleh papan-papan datar yang memungkinkan untuk sepuluh sepeda motor muat diatasnya. Orang-orang disini menyebutnya rakit. Rakit ini digerakkan oleh angin, dimana sebuah tambang yang panjang diikatkan di rakit yang terhubung dengan tambang yang dipasang melintang menyeberangi sungai seperti kabel listrik. Cukup membayar 10 ribu rupiah sudah termasuk pulangnya.
Sampai di sebuah turunan yang curam, kami memutuskan untuk berhenti dan melanjutkan perjalanan berjalan kaki sepanjang Satu kilo meter, berjalan melewati kebun-kebun karet dengan pemandangan yang sangat indah, suara-suara alam menjadi nada tersendiri yang menyejukkan hati. Melintasi sungai-sungai kecil dengan air yang sangat jernih dan jembatan-jembatan dari kayu yang dipasang jarang-jarang.

Gemuruh suara air yang jatuh dari ketinggian memacu semangat kami untuk segera sampai ke air terjun. Jatuh dari ketinggian 25 meter, sedikit menanjak ke atas lagi air terjun tingkat dua dengan ketinggian 30 meter ucapkan ‘halo’ kepada kami.
Langsung kami menceburkan diri di dinginnya air, di sebeleh kanan air terjun tingkat dua terdapat batu-batu yang bisa dipanjat dengan mudah, sehingga kami bisa terjun bebas dari ketinggian. Beberapa dari kami mencoba menantang adrenalin, terjun dari atas bebatuan yang tinggi. Suasana sepi pecah oleh hiruk pikuk kami. seolah-oleh air terjun ini adalah milik pribadi, karena tidak ada orang lain selain rombongan kru Gagasan.


Kedalaman air yang hanya sedalam 1,5 meter memudahkan kami yang tidak terlalu pandai berenang, sehingga tidak khawatir tenggelam. Jika di air terjun lain kami kesusahan untuk berfoto tepat di bawah air terjun, maka air terjun Panisan menawarkan kemudahan yang tidak bisa di dapatkan di tempat lain.

Tidak hanya itu, area wisata ini juga memiliki spot berfoto yang memukau dengan warna yang didominasi hijau dan hitamnya bebatuan. Yang membuat kami tidak akan menyesal telah datang dari jauh. Keindahan alamnya membuat kami semua tersihir dan menghapus penat yang dirasakan selama perjalanan. Dinginnya air menghilangkan bulir-bulir keringat kelelahan dan membayar lunas segala upaya untuk bisa sampai di sini.
Di sebelah kiri air terjun terdapat sebuah batu besar menuju keatas, dimana terdapat air terjun tingkat tiga dengan ketinggian tujuh meter. Air terjun ini tidak sedalam air terjun tingkat dua, cahaya matahari hanya sedikit yang menerangi,  ditambah bebatuan yang berlumut membuat suasana nyaris seperti di dalam gua, dengan kedalaman air di bawah lutut orang dewasa.

Pagi itu kami puaskan bermain-main melepaskan kepenatan tugas-tugas kuliah dan rutinitas di Gagasan. Menikmati keindahan alam yang tidak bisa kami saksikan di  kota Pekanbaru.
Wisata ini sangat diminati oleh pengunjung baik dari Kampar maupun dari Luar daerah. Nasir menuturkan, biasanya pengunjung bisa mencapai lebih dari 100 orang perhari, terlebih di hari minggu. Pengunjung didominasi oleh wisatawan dari Pekanbaru. “kalau hari libur, bisa sampai 400-an, kebanyakan mahasiswa” tutupnya.
***




















4 comments:

  1. Kayaknya seru banget ya Mbak.. semoga bisa ngadain perjalanan yang sama.. 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kk, aamiin. paling seru emang sama temen2

      Delete
  2. Wow libur bisa sampe 400, berarti diminati banget ya

    ReplyDelete

Adbox