Thursday, January 10, 2019

Ke Gunung Bromo, Ini yang Harus disiapkan


Gunung Bromo, gunung yang tak henti memamerkan keindahannya pada setiap pendaki yang merindukan alam. Kendati menawarkan sejuta keindahan, Bromo adalah gunung yang penuh kerendahan hati. Apa yang harus kamu bawa saat ke Bromo? Bgaimana cara ke Bromo? Seperti apa keindahan Bromo? Simak ulasannya berikut yaa...

Ini yang Harus Kamu Bawa
Jika ke Bromo, hal yang paling wajib adalah Jaket yang tebal dan mampu melindungimu dari dinginnya Bromo saat subuh. Kenapa subuh? Banyak pendaki mengincar sunrise di Bromo.

Dari Malang aku berangkat tengah Malam menuju Desa Tengger, sampai di sana kira-kira pukul dua dini hari. Ketika keluar dari mobil,  brrrrr. Berdiri bulu kuduk bukan karena merinding.

Belum lagi ketika di Penanjakan, melintasi dataran berpasir menuju ketinggian memang hangat karena di dalam jip. Tapi ketika keluar, seperti merokok. Asap kelur dari tiap hembusan napas saking dinginnya. Di Penanjakan, ada juga yang menyewakan jaket, kupluk dan syal.

Tapi jangan khawatir, semakin tinggi matahari beranjak dari peraduannya, perlahan-laha cuaca mulai menjadi hangat. Sengaja kulepas jaket ketika naik menuju kawah karena gerah.

Bawa Air yang cukup, kalau bisa bawalah botol yang bisa menyimpan air panas. Cuaca dingin akan membuatmu merindukan air panas jika tidak membawanya. Tapi jangan bawa termos air ibumu yaa, itu terlalu besar kawan. Tapi jangan khawatir, di Penanjakan ada banyak orang yang menjual air hangat seperti teh atu kopi panas.

Air mineral jangan sampai ketinggalan. Ketika menanjak napas akan ngos-ngosan dan akan terasa lebih cepat haus. Jika tak mau bawa air,  cukup bawa saja uang.

Tapi selalu ingat kawan, di tempat wisata harga makanan atau minuman bisa dua kali lipat lebih mahal. Jadi lebih baik bawa saja dari rumah jika memungkinan.

Satu lagi yang wajib kamu bawa. Kamera. Kamu pergi ke daerah wisata tanpa kamera, hati-hati nanti kamu disangka hoax. Jangan lupa untuk mengabadikan momen di setiap langkah perjalananmu.

Jangan lupa pakai sepatu, jangan pakai sandal. Kakimu tidak akan kuat menahan dingin, apalagi jika terbiasa tinggal di daerah panas.

Perlukah membawa tenda, sleeping bag dan alat gunung lainnya? Tidak perlu kawan, kecuali kalau kau mau menginap lebih dari sehari.

Di awal tulisan ini aku menceritakan tentang Bromo dengan kerendahan hatinya, kenapa demikian. Biasanya untuk memperoleh pemandangan yang hebat harus melalui perjalanan yang berat. Tapi tidak dengan Bromo.

Melihat indahnya lautan awan serta gagahnya Gunung Batok dari ketinggian, tidak perlu bersusah payah mendaki karena bisa dicapai dengan menggunakan jip. Banyak juga pengunjung yang menggunakan motor berjenis tracker. Ada juga yang mengendarai motor matic

Dari Penanjakan terlihat cahaya seperti kunang-kunang di balik awan. Melintasi padang pasir yang terlihat seperti danau saat gelap. Awalnya memang kukira danau yang berselimut kabut tebal ketika hari masih gelap.



Seiring terbitnya matahari, kunang-kunang itu menjelma menjadi mobil-mobil jip. Dan tentu saja aku tak menyadari itu ketika berada dalam jip saat melintasi padang pasir. Di dalam jip tak terlihat apapun selain kabut tipis, jarak pandang pun sangat terbatas. Hanya terlihat lampu-lampu samar mobil jip lain di depan mobil kami.

Ketika hari sudah terang, kami turun dari jip dan berfoto di padang pasir tersebut. Lengkap dengan jip dan gunung sebagai latar belakangnya.



Kami pergi berlima, Aku, Asna, Timbul, Soden dan Alfy. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat parkir jip. Ada WC umum di sana, jadi jangan khawatir kebelet pipis. Ketika jip akan berhenti, ada banyak pasukan berkuda bersarung mengikuti kami. Mereka sangat keren seperti di film-film.

Setelah kami turun, bapak-bapak penunggang kuda tadi menawarkan kudanya untuk naik ke Gunung Bromo. "50 ribu saja dek, sampai di tangga. Biar gak capek," ujar salah satu dari mereka.

Aku lebih suka berjalan mendaki daripada memakai uangku untuk sampai di kawah. Berjalan kaki kami menikmati pagi di Bromo. Aroma kotoran kuda bercampur pasir menyeruak menusuk hidung. Apalagi jika kuda itu berlari semakin berdebu dan bau.

Melewati Pura Luhur Poten dan semakin ke atas, penawaran jasa kuda semakin berkurang harganya. Dari Rp. 50 ribu menjadi Rp. 30 ribu bahkan Rp. 15 ribu tergantung jarak tempuh kuda.



Di sepanjang perjalanan, aku sangat menyukai pemandangan pegunungan. Apalagi Gunung Batok. Bentuknya seperti tempurung kelapa yang menghadap ke bawah. Lekuk-lekuknya seperti baru selesai disisir menggunakan sisir jarang-jarang atau baru digaruk menggunakan penggaruk.


Ada banyak wisatawan asing di sini. Meski Bromo penuh dengan kerendahan hati, tapi tak kan kau temukan keramahan pendaki seperti di gunung-gunung yang medannya naudzubillah.

Sampai di tangga menuju kawah. Semua pengunjung harus merelakan dengkulnya kelelahan, karena kuda tidak bisa naik ke atas. Tangga ini punya dua sisi, satu untuk naik dan satunya untuk turun. Ada tempat berhenti untuk istirahat agar tidak mengganggu pengunjung lain yang hendak lewat.

Puas melihat keindahan Kawah Bromo, kami menuju persinggahan selanjutnya. Pasir Berbisik. Tapi kami hanya lewat saja, karena cuaca tidak berangin sehingga pasirnya tidak bisa mengeluarkan suara berbisik. Akhirnya kami bertolak menuju Bukit Teletubies.



Pernah nonton Teletubies?, jika pernah pasti ingat dengan Bukit Teletubies yang berumput hijau yang memanjakan mata. Nah seperti itulah Bukit Teletubies di kawasan Gunung Bromo. Dari pada penasaran mending ke Bromo langsung.



Bagaimana cara ke Bromo? Jika dari Malang kamu bisa memilih dijemput di kota atau kamu langsung ke Desa Tengger untuk menyewa jip.

Masyarakat Tengger banyak yang menyewakan jip plus dengan supirnya. Biasanya satu buah jip muat untuk enam atau tujuh orang. Rata-rata harga sewa sebanyak Rp. 700 ribu rupiah per jip. Itu jika menyewa langsung ke Desa.

Jika ingin dijemput di Kota Malang, ada banyak paketnya. Asna mengambil paket seharga Rp. 1,2 juta (untuk enam orang) . Dengan fasilitas dijemput di Malang dengan mobil avanza. Kemudian sampai Tengger berganti dengan jip menuju Bromo. Itu sudah termasuk pergi dan pulang plus diantar menjelajah ke berbagai spot di kawasan Bromo.

Nah itu ceritaku di Gunung Bromo. Semoga 2019 ini aku bisa berkunjung ke tetangganya Bromo, Semeru. Wkwkwk

Berfoto dengan kuda di Bukit Teletubies

2 comments:

  1. Nah ini wisata yang belum sempet gue explore di Jatim. Liat artikel ini jadi makin ngebet, semoga bisa kelakon dah 2019. haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin... Semoga. Gak cukup rasanya klo hanya liat gmbar org lain wkwkwk

      Delete

Adbox