Thursday, January 24, 2019

Kunjungan ke Pabrik Kertas PT Indah Kiat



Beberapa waktu yang lalu aku mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan oleh Media Online Qureta bekerjasama dengan PT Sinarmas. Peserta yang mengikuti pelatihan tersebut terdiri dari berbagai penulis dari latar belakang yang berbeda-beda. Seperti mahasiswa, guru, dan karyawan Indah Kiat.

Peserta rata-rata berdomisili di Pekanbaru dan sebagian dari karyawan atau masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik. Sebelum pelatihan diadakan terlebih dahulu peserta dibawa ke area pabrik Perawang untuk melihat bagaimana proses pembuatan kertas.

Kami bertolak dari Pekanbaru sekitar pukul 9 pagi menuju Perawang menggunakan bus. Sampai di sana kami bertemu dengan peserta asal Perawang. Kemudian kami dibawa masuk ke aula dan mendengarkan sambutan dari direktur PT Indah Kiat.

Setelah makan siang, kami berkeliling untuk melihat bagaimana proses pembuatan kertas. Hanya saja kami langsung dibawa di bagian akhir dari proses yang berlangsung karena mesin pengolah kertas sedang bermasalah. Mereka menyebutnya dengan mati mesin.

Ketika di dalam bus menuju tempat pengolahan, aku sempat bertanya-tanya dengan pemandu dari Indah Kiat, Sastri namanya. Seperti yang semua orang tahu, kertas dibuat dari kayu yang berasal dari pohon dan banyak yang menyalahkan pabrik kertas sebagai perusak lingkungan.

Menanggapi hal ini, Sastri menampik tuduhan tersebut. Menurutnya tidak sembarang pohon bisa dijadikan kertas. Pohon yang bisa dijadikan kertas hanyalah pohon eukaliptus dan akasia. Indah Kiat juga memiliki hutan sendiri sebagai tempat menanam pohon-pohon tersebut.

Kata Sastri Indah Kiat semua proses telah diatur dari pembukaan lahan, pembibitan, penanaman sampai proses penebangan. “Semua dilakukan dengan cara yang diizinkan,” katanya. Sastri juga menampik jika perusahaan membuka lahan dengan pembakaran. Menurutnya semua dilakukan secara profesional.

Sebelum masuk ke pabrik kami diberikan helm keselamatan kerja dan rompi yang tak kutahu kegunaannya untuk apa, yang jelas semua peserta wajib memakai rompi dan helm tersebut. Masuk ke dalam kami di sambut dengan gulungan-gulungan berbentuk seperti tisu toilet berukuran besar dan mengkilat. Aku tidak menyentuhnya, dan tak kurasakan juga bagaimana teksturnya.



Mesin-mesin berukuran besar beroperasi mengolah hasil akhir pembuatan kertas. Dari pemotongan kertas, pemilahan kertas yang tidak layak, hingga pengepakan kertas. Semua dilakukan oleh tenaga mesin. Ada banyak merek kertas diproduksi di sini. Seperti Amazon, Sinar Dunia, Gold dan merek-merek lain yang terasa asing. Jujur aku hanya tau merek Sinar Dunia alias Sidu.




Kehidupan Masyarakat Sekitar Pabrik Kertas

Pabrik Kertas Indah Kiat juga menghasilkan limbah berupa tali strapping. Tali ini digunakan untuk mengepak barang dan melindungi barang dari goncangan ketika didistribusikan. Sisa-sisa tali strapping yang tak terpakai ini menjadi limbah jika tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kemudian limbah tersebut dijual kepada masyarakat yang kemudian dijadikan anyaman dan menjadi daya jual dan rezeki tersendiri untuk masyarakat.

Kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melihat pemanfaatan limbah pabrik tersebut. Kelompokku, kelompok dua berkunjung ke pengolahan tali strapping dan pengolahan limbah kayu palet yang sudah tidak terpakai lagi.

Kami berbincang banyak dengan pemilik bangsal anyaman tali strapping yang juga meruapakan penggagas anyaman dari tali tersebut. Awalnya pabrik memberikan limbah secara gratis hingga produksi tali tersebut mendapatkan omset puluhan juta perbulannya. Kami melihat olahan tali strapping memiliki berbagai macam bentuk seperti, pot bunga, keranjang, tikar dan lain-lain.



Setelah itu kami mengunjungi bangsal kayu milik pemuda-pemuda yang tinggal di sekitar kawasan pabrik. Kayu-kayu palet yang sudah tidak dipakai dimanfaatkan oleh para pemuda tersebut untuk membuat kerajinan seperti kursi, meja dan gantungan kunci. Kayu-kayu tersebut diberikan secara gratis oleh pabrik sebagai modal usaha kepada para pemuda tersebut.

Ketika kutanyai omset perbulannya, pemuda itu hanya menjawab jika usahanya baru berjalan selama dua bulan.

Setelah kembali ke bus dan bertemu dengan peserta lainnya, ternyata mereka diberi pengalaman yang berbeda-beda. Ada yang pergi ke perkebunan jambu biji, ada juga yang pergi ke usaha jamur dan lain-lain.

Kami semua pulang ke Pekanbaru dan menuju Royal Asnof Hotel, kemudian diberi tugas menuliskan apa yang telah didapatkan dari perjalanan di Perawang. Setelah itu tulisan di review kembali bersama redaktur senior dari Tempo.

18 comments:

  1. Informatif banget,, ga hanya menggambarkan bagaimana pabrik kertasnya saja tetapi memuat tentang kehidupan masyarakat sekitar pabrik kertas. Good!!

    ReplyDelete
  2. keren nih...tali stripping gak jd limbah tapi bisa didaur ulang

    ReplyDelete
  3. hoooo jadi kertas2 itu dari pohon eukaliptus dan akasia ya..

    ReplyDelete
  4. duh, envyyy banget liat mbaknya jalan2 ke pabrik kertas hikz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe kpn2 klo ad ksmpatan brkunjung k sna jg y mbk

      Delete
  5. baik banget yaa pabrik kertasnya, limbahnya bisa buat masyarakat. jadinya ada timbal balik juga ke masyarakat sekitar, dan membuka lapangan pekerjaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Mreka pduli dg msyarakat yg tgal d skitarnya. Pun saling mnguntungkan

      Delete
  6. Seru banget ya mbk bisa secara langsung melihat proses pembuatan kertas.

    ReplyDelete
  7. Wah punya pengalanan perjalanan ke parawang. Jadi seru nih bacanya

    ReplyDelete
  8. Lingkungan pabrik yg baik, keselamatan pekerja adalah no 1

    ReplyDelete
  9. Keren Mbak, ternyata tidak semua pohon bisa dibuat kertas ya?

    ReplyDelete

Adbox