Cari

cari

Thursday, January 31, 2019

Menyoal Kesetaraan Gender Bersama Dewi Candraningrum



Aku belajar tentang kesetaraan gender bersma seorang seniman, Dewi Candraningrum terkait perempuan dan prinsip keadilan gender di media. Aku suka dengan pembawaan Dewi yang keibuan dan lemah lembut dalam menyampaikan suatu gagasan. Beberapa hal membuat ku berpikir "Oh, begitu ya", "Wah baru tahu", atau "Ada benernya juga".

Kesetaraan gender dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka.

Beberapa hal lain harus ditelaah lebih lanjut untuk memahami prinsip-prinsip dalam kesetaraan gender. Berikut hal-hal yang kutangkap dari penjelasan Mbak Dewi.

Wanita dan pria dilahirkan dengan jenis kelamin yang berbeda. Seseorang harus menerima ia terlahir sebagai pria atau wanita. Tak berhenti di situ. Setelah itu kedua makhluk bernama manusia harus belajar tentang gender.

Setelah lahir, tumbuh dan berkembang. Perlahan-lahan orang tua tanpa sadar mengkapling-kaplingkan antara perempuan dengan laki-laki. Salah satu contohnya, warna pink untuk perempuan dan biru untuk laki-laki. Bahkan warna pun punya gender.

Hal ini membatasi perempuan untuk dapat bertindak seperti laki-laki. Perempuan diberikan batasan-batasan dan laki-laki tidak. Contoh kecilnya: perempuan tidak boleh bersuara keras, tertawa terbahak-bahak atau perpektif yang mengatakan bahwa perempuan harus bisa memasak.

Kesetaraan gender tidak diperkenalkan oleh orang tua sedari kecil. Kebanyakan orang menekankan jika perempuan itu selalu satu tingkat di bawah laki-laki. Laki-laki bisa bersuara keras tapi wanita tidak boleh. Wanita harus bisa memasak, laki-laki tidak perlu untuk bisa. Laki-laki bekerja berat maka perempuan tidak boleh melakukannya. Padahal semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memilih menjadi montir wanita atau koki laki-laki.

Kesetaraan gender mengajarkan bahwa perempuan boleh melakukan kegiatan seperti laki-laki. Pun laki-laki boleb melakukan sesuatu seperti yang perempuan lakukan. Seperti memasak, berbelanja sayur atau sebagainya.

Tapi seperti kita ketahui, kebanyakan laki-laki memiliki porsi yang lebih besar dibandingkan perempuan. Laki-laki boleh bekerja hingga larut malam, tetapi perempuan diberikan batas untuk pekerjaannya. Bahkan ada yang menyatakan bahwa perempuan harus berdiam di rumah mengurus keluarga dan laki-laki lah yang harus bekerja mencari nafkah. Lagi, perempuan diragukan lagi kebenarannya dan laki-laki diragukan kemampuannya dalam mengurus perihal urusan dapur rumah tangga.

Apa salahnya jika perempuan bekerja? Apa salahnya jika laki-laki memasak? Apa salahnya jika perempuan pulang larut malam? Apa salahnya jika laki-laki mengurus anak? Toh manusia diciptakan sama saja. Tapi perpektif selalu mengkaplingkan apa yang harus dilakukan perempuan dan apa yang harus dilakukan laki-laki.

No comments:

Post a Comment

Adbox