Cari

cari

Tuesday, February 12, 2019

Candi Prambanan: Menilik Dongeng Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso




Dari Candi Borobudur aku dan teman-temanku bertolak menuju Candi Prambanan. Dzuhur waktu setempat kami tiba di lokasi. Karena tiket sudah kubeli di Borobudur maka tak perlu lagi membeli di Prambanan. Tapi bisa juga membeli tiket seharga Rp. 40 ribu.

Baca juga:

Semarang to Magelang: Wisata Candi Borobudur


Semilir angin sore yang cukup kencang menerbangkan pasir-pasir halus di kawasan Prambanan. Aku memakai kacamata agar pasir tidak membuatku kelilipan. Tentu saja kacamata ini disponsori oleh Nurul, aku hanya meminjam.

Aku menyukai Prambanan lebih dari Borobudur. Jika Borobudur adalah candi terbesar maka Prambanan adalah candi terindah. Arsitektur candi yang tinggi menjulang diterpa sinar matahari sore menambah kemegahan Prambanan.

Candi Prambanan selalu diindentikkan dengan cerita Roro Jonggrang. Siapa tak kenal dengan kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang melegenda. Kisahnya termuat dalam buku dongeng andalan anak zaman dulu, Cerita Rakyat Nusantara.

Alkisah Roro Jonggrang adalah seorang putri dari Prabu Boko, penguasa Kerajaan Boko. Prabu Boko memerintah kerajaan dengan bijaksana sehingga rakyatnya makmur sejahtera.

Namun semuanya berubah ketika terjadi pertempuran antara Kerajaan Pengging dan Kerajaan Boko. Kerajaan Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya yang memiliki putra bernama Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso memimpin pertempuran dari Kerajaan Pengging. Ia terkenal sakti mandraguna dan berhasil menaklukkan Boko serta membunuh Prabu Boko.

Kemudian Bondowoso bertemu dengan putri Prabu Boko, Roro Jonggrang yang dikisahkan memiliki paras cantik nan jelita juga bertubuh ramping. Tak pelak, Bondowoso pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa pikir panjang Bondowoso melamar Roro Jonggrang untuk dijadikan istri.

Mengingat Bondowoso adalah ksatria yang menjajah kerajaannya dan membunuh ayahnya, Roro pun menolak lamaran Bondowoso. Tak menyerah, Bondowoso membujuk dan merayu Roro untuk menerimanya.

Akhirnya Roro menyetujui permintaan Bondowoso dengan syarat yang mustahil. Bondowoso harus membuat sebuah sumur dan membuat seribu candi dalam waktu satu malam. Bondowoso menyanggupinya.

Dengan kesaktian dan bantuan makhluk-makhluk gaib, Bondowoso berhasil membuat sumur dan hampir menyelesaikan candi sesuai dengan permintaan Roro. 999 candi telah siap. Kalap akan hal itu,  Roro Jonggrang membuat tipu muslihat.

Roro membangunkan dayang-dayang dan gadis-gadis untuk menumbuk padi, serta membakar jerami untuk membuat ilusi bahwa pagi telah tiba. Bala bantuan Bondowoso yang merupakan makhluk gaib ketakutan mengira pagi menjela, mereka meninggalkan Bondowoso.

Sadar telah ditipu, Bondowoso muntab dan mengutuk Roro Jonggrang. Menjadikannya candi ke seribu untuk menggenapi permintaan Roro Jonggrang.

Lalu benarkah dongeng tersebut? Dalam Candi Prambanan ada sebuah arca, menurut cerita ia adalah perwujudan dari Roro Jonggrang. Tapi tak akan kau temukan dalam candi tersebut nama Roro Jonggrang. Melainkan Dewi Durga.



Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang tentu saja hanyalah dongong belaka. Candi Prambanan adalah candi yang dibuat pada masa Kerajaan Medang Mataram yang dipimpin oleh Rakai Pikatan.

Candi ini memiliki arsitektur ramping dan menjulang tinggi, terdapat candi terbesar di mana patung Dewa Siwa tinggal di sana. Di kiri kanan candi utama terdapat candi-candi lain yang ukurannya lebih kecil.

Dari kiri ke kanan: Aku, Nurul, Nia dan Jelita


Candi yang dikenal sebagai candi terindah di Asia Tenggara ini, menurut Prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, dibangun untuk memuliakan Dewa Siwa, dengan nama asli dalam bahasa Sanskerta adalah Siwagrha berarti Rumah Siwa. Keberadaan arca Dewi Durga mengilhami masyarakat sehingga lahirlah kisah Roro Jonggrang.




Prambanan, Tempat Berburu Oleh-Oleh Terbaik Yogyakarta

Jika pergi ke Yogyakarta dan mencari barang-barang murah, Prambanan adalah pilihan terbaik. Harga sangat jauh dibandingkan dengan pusat perbelanjaan lainnya. Beda juga dengan harga oleh-oleh yang ditawarkan pedagang di Borobudur.

Satu hal yang kusesalkan adalah tidak berbelanja sepuasnya di Prambanan, karena salah satu kawanku mendesak untuk segera bertolak. Nurul menyarankan untuk berbelanja di Beringharjo. Beringharjo memang murah tapi di Prambanan jauh lebih murah.

Tempat pena di Beringharjo seharga Rp.  10 ribu, di Prambanan Rp. 5 ribu dapat dua buah. Tas rajut di Beringharjo bisa kutawar seharga Rp. 50 ribu, di Prambanan dijusl Rp. 35 ribu.

Begitu juga di Borobudur, aku membeli gantungan kunci sebanyak sepuluh buah dengan harga Rp. 20 ribu (Nurul beli seharga Rp. 15 ribu) di Prambanan satu buah gantungan kunci seharga seribu rupiah. SERIBU. bayangkan betapa kesalnya aku kala itu. Satu lagi, gelang dengan bentuk yang sama seharga seribu rupiah, di Malioboro dijual dengan harga Rp. 2.500 per buah.

Jadi jika ingin berbelanja murah di Yogyakarta, datanglah ke Prambanan.

2 comments:

  1. Ya iya lah, Mbak. Kisah Roro Jonggrang munculnya ratusan tahun setelah candi Prambanan dibangun. Entah siapa yang kreatif mengarang cerita itu, yang pasti dia seorang pendongeng yang terkenal di jamannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. .Itulah org jaman dulu. Sayangnya Merek gak nuliskan nama penceritanya. Sma kyak legenda2 lain

      Delete

Adbox