Cari

cari

Sunday, February 3, 2019

Keperawanan, Mitos atau Fakta


Bagi sebagian orang, keperawanan adalah hal yang paling berharga bagi seorang gadis. Dijaga bagaikan logam mulia lebih dari intan berlian.

Begitu pun pandangan orang tua zaman dulu. Zaman sekarang pun masih banyak yang demikian. Bahkan aku pun baru tahu, jika keperawanan hanyalah sebuah mitos. Dulu aku berpikir jika keperawanan itu memang benar adanya. Makanya syarat itu selalu ada untuk tes-tes seperti tes masuk kepolisian. Sempat berpikir, jika ada tes keperawanan kenapa tidak ada tes keperjakaan.

Keperawanan itu selalu dikaitkan dengan selaput darah. Selaput dara adalah lapisan kulit yang tipis dan merentang di mulut vagina. Lapisan ini dapat berubah karena penetrasi seksual dan proses persalinan. Tapi selaput dara pada masing-masing perempuan memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang terlahir dengan selaput dara tipis dan sebagian perempuan bahkan nggak memilikinya sama sekali. Jadi jika tidak punya sama sekali apakah dia dikatakan tidak perawan lagi.

Dalam pelatihan bertajuk  Perempuan & Prinsip Keadilan Gender di Media  yang diadakan oleh Serikat Jurnalisme untuk Keberagaman (Sejuk), Dewi Candraningrum, seniman dan aktivis perempuan, ia menegaskan jika keperawanan itu tidak benar adanya alias mitos.

Baca juga: Menyoal Kesetaraan Gender

Dewi juga menjelaskan jika setiap orang baik laki-laki maupun perempuan harus memahami fisik diri sendiri. Kebanyakan orang menganggap membahas hal terkait kelamin adalah sesuatu yang tabu. Padahal sangat penting, terutama bagi perempuan untuk memahami setiap inci tubuh mereka.

Bahkan berbicara tentang penis dan vagina juga dianggap hal yang tidak pantas. Padahal kedua kata itu ada dalam bahasa juga bahasa ilmiah. Sering aku melihat iklan di televisi tentang pembersih vagina, mereka menyebutnya area kewanitaan atau Miss V. Apa salahnya jika menyebutnya vagina.

Dewi menekankan pembahasan tersebut agar tidak berpandangan bahwa membahas kelamin adalah hal tabu. Sehingga jika ada permasalahan terkait kelamin bisa segera dibicarakan bukan malah dibiarkan. Menurut Dewi juga, orang tua mengesampingkan hal terkait kelamin karena menganggap itu sesuatu yang memalukan. Mungkin sebuah kesalahan jika menganggap kelamin sebagai kemaluan.

Lalu apakah jika keperawanan itu hanya mitos, apakah kita sebagai wanita tidak perlu menghindari seks? Toh tidak ada juga yang perli dijaga. Maksudnya bukan begitu kawan, kata Dewi lagi. Ia mengatakan seks yang tidak bertanggung jawab tentu saja harus dihindari.

Apa itu seks yang tidak bertanggung jawab? Itu adalah seks yang mengacu pada pelecehan seperti perkosaan atau karena sebuah paksaan. Jika ada seks yang tak bertanggung jawab maka ada seks yang berranggung jawab. Itu adalah seks yang dilakukan sesuai dengan apa yang dipercayai, seperti seks setelah adanya sebuah ikatan. Seperti pernikahan. Dewi juga menganggap bahwa seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka termasuk seks yang bertanggung jawab.

Menurutku, pendidikan tentang seks sangat diperlukan bagi pelajar agar mereka mengenal bagian tubuh merek sendiri. Agar jika ada suatu kejadian yang tidak diinginkan seperti perkosaan, tidak meninggalkan trauma mendalam bagi korban.

Kata Dewi lagi, korban perkorsaan biasanya mengalami trauma berat karena menganggap sesuatu yang harus dijaga yaitu keperawanan telah hilang direnggut orang. Padahal keperawanan itu sendiri tidak ada. Korban memganggap dirinya sudah tidak ada harganya lagi karena melakukan hubungan seks di luar pernikahan dan dalam unsur paksaan.

Ada sebuah guyonan yang mengatakan "Terkadang hidup itu seperti "DIPERKOSA". mau gak mau, siap ga siap, enak ga enak, suka ga suka. Tetap harus dinikmati!!!" Perkosaan bukan candaan kawan. Korban perkosaan bernasib sangat ngilu. Bayangkan bagaimana ia bisa hidup di tengah masyarakat nanti.

Sebuah kisah tentang Ngadirah, tragedi yang merenggut masa kanak-kanaknya. Nenek 85 tahun asal Wonosari, Gunungkidul, itu diculik tentara Jepang saat usianya masih 12 tahun. Ia ditawan di markas sebagai ianfu— perempuan yang dijadikan budak seks oleh tentara-tentara Jepang.

Ngadirah mengalami trauma saat mengingat bagaimana tentara-tentara Jepang secara beringas dan tanpa ampun memerkosanya secara bergiliran dan dijadikan pelampiasan nafsu bejat.

Ngadirah hanya satu dari wanita-wanita yang mengalami tindak kekerasan seksual. Lalu masih bisa kah hal ini dijadikan guyonan? Juga layak kah perkosaan hanya dijadikan kasus tindak asusila? Tidak kawan, perkosaan adalah tindak kriminal.

Begitupun dalam memberitakan pemerkosaan, jurnalis atau media tidak boleh menampilkan kronologi. Berita pemerkosaan juga tidak boleh menyebut nama dan alamat korban, seperti rumah dan tempat pendidikannya.

Itu dia materi yang aku tangkap dalam penjelasan panjang lebar dari Dewi Candraningrum. Semoga bermanfaat. Kita semua memiliki kebebasan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Mohon dipahami secara bijak.

2 comments:

  1. Bermanfaat dan nambah edukasi seks nih mbak ☺️

    ReplyDelete
  2. sepatutnya pendidikan SEKS wajar dibicara secara terbuka..

    biar ramai yang tahu dan faham terutama para wanita

    ReplyDelete

Adbox