Cari

cari

Tuesday, March 19, 2019

Masalah Bukan Masalah Jika Ada Solusi

James Gwee saat memberikan motivasi pada acara yang didakan oleh Pelindo 1 di Hotel Aryaduta Pekanbaru



Sosok pria memakai celana jins dan berjas hitam menarik perhatianku. Memang wajar jika dia menjadi pusat perhatian, karena dia adalah seorang pembicara pada acara itu. Sebuah acara yang membangkitkan semangat, menumbuhkan inspirasi dan bankit dari keterpurukan. Apa lagi kalau bukan acara seminar motivasi.

Baru pertama kali aku mendengar namanya, nama yang asing. Bukan karena dia tidak terkenal, hanya saja aku yang tidak tahu. Pria berkebangsaan Singapura ini menjelaskan betapa ia mencintai Indonesia hingga ia menikahi wanita Indonesia. Namanya tak terdeteksi dalam otakku ketika pembawa acara memanggilnya. Aku baru benar-benar tahu namanya ketika tulisan besar muncul di layar dari pantulan proyektor. James Gwee.

Pria 57 tahun ini dengan penuh semangat memperkenalkan dirinya bahkan ia berlari-lari untuk menyapa ratusan audiens di hadapannya. Tak segan ia berlari sampai ke belakang atau masuk di antara sela-sela kursi untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya. Tak jarang juga ia membagikan stiker untuk siapa saja yang berani menjawabnya. Tapi tak  termasuk aku, barangkali aku terlalu malu untuk mengutarakan jawabanku.

James membuka acara dengan sebuah gambar, kamera menyorot gambarnya dan proyektor memantulkannya ke layar sehingga terlihat jelas bagi orang-orang yang duduk di belakang sepertiku. Aku berpikir jika gambar yang dibuatnya adalah sebuah palung di lautan dalam, dengan beberapa bintik-bintik hitam dan dua monster besar. Tapi ternyata aku salah. Itu bukanlah palung lautan apa lagi dua monster besar.

Salah seorang audiens menjawab dengan benar jika apa yang digambar oleh James adalah Peta. Lebih tepatnya peta benua Asia. James menunjukkan sebuah tempat di peta tersebut, India, Indonesia dan China.

Ia menjelaskan jika India termasuk eksportir dan importer yang besar, jika ia mengekspor ke China tentu saja harus melewati pelabuhan Indonesia. Pun China, jika ingin mengirim barang harus melewati pelabuhan Indonesia. Ia bercerita betapa beruntungnya orang-orang yang tinggal di wilayah Indonesia, menjadi jalur utama perdagangan dunia.

James mengatakan orang Indoneseia adalah orang-orang yang beruntung, lahir di saat yang tepat dan di tempat yang tepat pula. “Right Time, Right Place,” ungkapnya. Indonesia menjadi jalur 70 persen perdagangan dunia. “Seharusnya orang Indonesia sukses,” tambahnya.

Ia juga mengatakan jika 74 juta orang Indonesia berada di kelas menengah. Sebuah kelas sosial yang dipenuhi oleh orang-orang yang tinggi rasa optimisnya dan tentu saja orang-orang yang produktif dan konsumtif.

“Orang-orang kelas menengah itu selalu optimis, karena optimis, ia berani berhutang, karena ia percaya jika ia bisa mengembalikan utangnya,” tuturnya.

74 juta orang konsumtif tentu saja menjadi lading besar bagi siapa saja yang ingin berbisnis. Asal mau bekerja keras, impian pasti bisa tercapai. Pasar sangat luas dengan potensi yang luar biasa. Akan sangat bagus jika bisa menembus untuk produksi barang-barang berkualitas tinggi. Biarkan kita menentukan harga, jangan sampai pembeli yang menentukan dan menjatuhkan harga hanya karena mutu dan kualitas barang yang rendah.

Untuk mendapatkan itu semua diperlukanlah keterampilan. “Right Skill, semua keberuntungan yang kita dapat akan bermanfaat jika memiliki keterampilan yang tepat, right time, right place and right skill. Jangan sampai rakyat Indonesia miskin di tengah-tengah kemakmuran Indonesia.

James bertanya, siapakah yang tidak ingin punya masalah dalam hidupnya. Hamper separuh orang mengacungkan tangan, aku tidak termasuk karena aku terlalu malas menggerakkan tanganku. James berkata selama kita hidup pasti punya masalah, jangan pernah berharap tidak ada masalah. Sama seperti saat kita berdoa kepada Tuhan. “Tuhan tolong beri kekuatan untuk menghadapi masalah,  bukan tolong hilangkan masalah kan?” Tanya James kepada audiens.

Buang lah pikiran jauh-jauh untuk tidak memiliki masalah, selagi manusia hidup sudah pasti akan ada masalah. Masalah bukan masalah jika punya solusi, masala adalah jika tidak punya solusi.

Pikirkan solusinya, jangan pernah menyendiri, karena menyendiri tidak akan menyelesaikan masalah. Menyendiri hanyalah kegiatan merekayasa solusi. Padahal sebenarnya apa pun yang kita tidak ketahui jawabannya sudah ada. Satu hal yang tidak kita ketahui, ratusan bahkan ribuan orang di luar sana tahu jawaban yang sedang kita cari.

Internet adalah salah satu caranya, adanya intrnet, tembok sosial telah runtuh. Kita orang biasa bisa tahu apa yang dipelajari orang-orang elit di luar sana. Kita yang tidak tahu apa-apa bisa mengetahui kejadian nun di ujung dunia. Lalu mengapa kita mempersulit diri.

Satu hal yang membuatku kagum pada James Gwee adalah ketika ia menyampaikan sebuah materi. Tak serta merta ia langsung menjelaskan. Ia memberikan kiasan yang membuat orang lain berpikir. “Oh iya

ya?”, “Wah ada benarnya juga,” itu lah James Gwee, seorang motivator hebat yang baru aku tahu saat itu.

“Siapa nama pelatih Manchester City?”

“Siapa nama istri David Beckham?”

“Siapa nama mantan Luna Maya yang dinikahi Syahrini?”

“Di mana Syahrini dan Reino menikah?”

“Siapa presiden Amerika ke 27?”

“Siapa nama presiden Peru?”

“Ada berapa bisnis yang dimiliki Victoria Beckham?”

“Berapa jumlah penduduk warga Argentina?”

Dari pertanyaan termudah hingga pertanyaan tersulit. James Gwee memberikan hadiah kepada siapa saja yang berhasil menjawabnya dengan benar. Beberapa orang geleng-geleng kepala, beberapa orang berusah mencari jawaban di kepala, beberapa di antaranya mencari di handphone.

“Jangan mikir, jawaban tidak akan ditemukan di otak anda semua, kita punya alat, manfaatkan alat itu dengan sebaik mungkin. Saya tidak melarang anda untuk mencari di google,” kata James Gwee setelah mendapatkan semua jawabannya.

Ia mengatakan untuk mengentaskan masalah bukanlah dengan mengurangi masalah. Satu-satunya cara adalah mencari solusi. Dengan solusi masalah akan hilang, lalu apakah solusi bisa ditemukan di kepala, tidak. Solusi itu harus dicari, entah bertanya ke orang lain, mencari jawaban di Youtube, atau bahkan berselancar di internet. Intinya cari, jangan dipikirkan. Hanya dengan berpikir otak hanya akan merekayasa sebuah jawaban alias mengada-ngada.

James juga menjelaskan jika memiliki pengetahuan dan bisa menjelaskan tidak lah cukup. Hal terpenting adalah dengan memiliki keterampilan untuk melakukan sesuat. “Pengetahuan kalau kita bisa menjelaskan, bukti terampil adalah dengan bisa melakukannya.”

No comments:

Post a Comment

Adbox