Cari

cari

Wednesday, October 16, 2019

Arah Langkah: Petualangan Tiga Pengelana Sambangi Keindahan Nusantara



Cover Arah Langkah - Fiersa Besari

Aku sudah menyimpan buku Bung Fiersa ini lebih dari dua bulan. Tak tersentuh karena tak kusempatkan waktu untuk membaca. Jarang membaca membuatku kehilangan ruh dalam tulisanku. Ketika menonton video di Channel Youtube Anji, aku terenyuh dan memantapkan hati membaca Arah Langkah hingga halaman terakhir.

“Tahukah kamu kenapa aku menyukai Fiersa Besari? Pertama, karena dia adalah pendaki. Kedua dia adalah anak band dan dia seorang penulis,” kira-kira begitu kata Anji. Entah mengapa aku tergerak untuk membuka buku pinjaman yang tak kunjung ku kembalikan kepada pemiliknya.

Siapa yang tak kenal Fiersa? Barangkali, kata-katanya sering dikutip dalam setiap unggahan di media sosial. Dalam bukunya, juga bertabur kata-kata berlian khas Fiersa. Siapa tak terenyuh kawan, siapa tak jatuh cinta kalau kalimatnya acapkali membuat baper. Sangat cocok jika digunakan untuk memberikan kode ke gebetan. Andai saja dia peka.

Buku ini adalah sebuah jurnal perjalanan dari tiga petualang. Perjalanan dari Bandung menelusuri tanah Sumatera hingga timur Indonesia. Tiga tokoh tersebut adalah Bung, Baduy dan favoritku yang tercantik di antara tiga petualang, Anisa Andini alias Prem.

Baduy, Prem, dan Bung dalam dokumentasi Arah Langkah- Fiersa Besari


Bung dan kedua rekannya melakukanperjalanan dengan backpacker-an. Menyelami dalamnya air dan mendaki tingginya gunung-gunung di Indonesia. Tak hanya itu, warna dan budaya dituturkan secara gamblang dengan dekripsi yang membuat imajinasiku menyala-nyala.

Jernihnya air laut, ramahnya penduduk, dinginnya angin gunung membuatku seolah-olah turut menyertai perjalanan Bung yang dilakukan pada tahun 2013 ini.

Selain kata mutiara, banyak hal yang bisa dipelajari dari tulisan Bung. Bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat setempat, bagaimana bergaul dan bagaimana mempelajari dan menghormati budaya-budaya di berbagai daerah di Nusantara.

Jurnal Bung juga dilengkapi dengan foto-foto perjalanan membuat hati ingin menyambar ransel dan mulai berpetualang. Melalui buku ini, aku mempelajari selemah apa pun kita tidak ada alasan untuk tidak bisa.

Dokumentasi foto dalam buku Arah Langkah - Fiersa Besari

Bung bercerita, dia memiliki penyakit maag kronis yang bisa kambuh sewaktu-waktu, badan yang ringkih untuk menaklukkan gunung, hingga kaki kiri yang kerap bermasalah. Sedikit banyak tulisan Bung terutama tentang kaki kirinya yang berhasil membuatku berpikir ulang jika ingin pensiun menikmati alam.

Tadi aku mengatakan sangat menyukai Prem. Di foto yang dibagikan dalam Arah Langkah, prem adalah perempuan tangguh yang mampu melampau pandangan masyarakat jika wanita itu lemah. Prem membuktikan dia juga bisa, bahkan ia lebih hebat dibandingkan Bung. Ia juga dipanggil Abang Anisa saking perkasanya dia sebagai wanita.


Bung berulang kali menorehkan dalam bukunya jika ia akan menggunduli rambutnya yang gondrong kala itu jika ia sampai di Raja Ampat. Aku menunggu-nunggu adegan tersebut, tapi di akhir cerita Bung tidak menuliskan jika ia telah sampai di sana. Ia juga tidak pulang. Mungkin buku ini ada sesi selanjutnya. Aku baru satu ini baca buku Fiersa.

Bung begitu menyelami kebudayaan setiap masyarakat. Meskipun kadang aku berpikir jika tak perlu sampai seperti itu untuk mengenal lebih dalam. Jujur aku tidak suka bagian ketika Bung berpesta ganja ketika ditawari salah satu orang ketika di Aceh. Bung juga kerap menikmati tuak yang dituangkan ke gelasnya. Padahal ia juga bisa dengan mudah menolaknya. Seperti Prem dan Baduy. Bahkan, Bung juga sempat mencicipi daging ular yang katanya lezat. Ku pikir Bung terlalu sembrono karena tidak memastikan daging apa yang ia cicipi ketika di negeri orang.

Mungkin saja, Bung terlalu patah hati karena dikhianati oleh orang yang dicintai serta sahabat yang ia percayai. Barangkali, perjalanan Bung adalah pelampiasan untuk melepaskan sakit yang tak tertanggungkan oleh perempuan bernama Mia.

Baca Juga: Pasung Jiwa

Dalam buku ini, juga menuturkan pertarungan dengan kegelisahan yang dibawa baik oleh Bung, Prem dan Baduy. Selain itu juga banyak ilmu-ilmu perjalanan yang bisa diserap untuk dijadikan bekal ketika berpetualang suatu saat nanti. Hanya saja, perpisahan memang menyakitkan, andai aku jadi Bung aku akan menangis di sudut tenda dalam kelam malam, biar air mata mengalir tanpa suara.

Sejauh apa pun jalan yang kita tempuh, tujuan akhir selalu rumah.- Fiersa Besari
Ada beberapa kalimat yang sangat aku sukai dalam buku ini, mungkin bisa kujadikan status atau story di media sosialku nanti. Tentu saja aku ingin berbagi, karena berbagi tak pernah rugi. Berikut kata-kata mutiara Fiersa Besari dalam buku Arah Langkah.

Kita tidak akan pernah tahu ke mana hidup membawa kita. Hidup ini seperti petualangan panjang, dengan hiasan suka dan duka, bahan cerita untuk anak cucu kita kelak. – Baduy.

Aku belajar bahwa hidup ini menyenangkan  kalau kita melihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap. – Bung.

Menjadi pengelana tidak selalu menyenangkan. Aku- dengan lugunya berpikir, betapa menyenangkannya bertemu dengan banyak orang baru, hingga tidak sadar bahwa perpisahan adalah risiko yang menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi, ketika kita harus berpisah berulang kali dengan banyak tempat dan banyak sahabat. – Bung.

Semua daerah memiliki cerita yang berbeda-beda. Yang sama hanyalah rasa sakit ketika berpisah. Karena perpisahan, semanis apa pun, seindah apa pun, tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan. – Bung.

Tidak perlu banyak memotret sampai lupa menikmati karunia Tuhan. Tidak perlu sibuk mencari sinyal untuk pamer foto di situs media sosial. Secukupnya saja, lalu diam dan nikmati wajah alam semesta. – Bung.

Ketika tinta pengkhianatan tumpa di atas aksara kisah, tulisan tentang kau dan aku tak lagi bisa terbaca. Takkan pernah lagi bisa. – Bung.

Beberapa pertemuan singkat memang diciptakan untuk lama melekat di dalam hati. Beberapa rindu memang diharuskan terasa bahkan sebelum berai. Duduk bersama di pelataran senja untuk menyambut teater gemintang, mana mungkin kenangan ini lenyap dari ingatanku? – Bung.

Indonesia adalah sepercik surga yang Tuhan turunkan di muka bumi. Akan sangat merugi diriku jika hanya bisa melihat pantai, gunung, keanekaragaman budaya, dan nilai historisnya, hanya dari layar kaca. – Bung.

Dalam Arah Langkah, perjalanan Bung, Prem dan Baduy berawal dari Bandung, kemudian menjelajah Sumatera hingga akhirnya menjajaki Manado. Masih misteri bagiku yang baru hanya membaca satu bukunya apakah Bung akan menggunduli kepalanya.

9 comments:

  1. Buku yang menarik, sejujurnya aku jarang sih aku tertarik sama buku2 karya penulis lokal, ada beberapa yg aku idolakan, tapi tak banyak.. fiersa justru belum pernah kubaca bukunya. Mungkin nanti aku bakal beli dan baca karya2nya jika singgah ke toko buku

    ReplyDelete
  2. Duuh... aku sih kok minder duluan ya kalau soal baca-baca buku gini. Soalnya susah kali sisain waktu buat baca-baca buku.... help me!!!!

    ReplyDelete
  3. Woooaaa! Review nya bikin aku tertarik buat baca! Biasanya jarang baca karya penulis lokal. Musti main ke toko buku nih weekend ini!

    Sukaaaa kalimaat si Bung yang ini :

    Tidak perlu banyak memotret sampai lupa menikmati karunia Tuhan. Tidak perlu sibuk mencari sinyal untuk pamer foto di situs media sosial. Secukupnya saja, lalu diam dan nikmati wajah alam semesta. – Bung.

    ReplyDelete
  4. paling cuma ngikutin fiersa di post instagram nya aja, kemarin dia nikah banyak sedih..wkwkwkw

    ReplyDelete

Adbox