Cari

cari

Tuesday, January 14, 2020

Lembah Harau, Mandi Air Terjun Sepuasnya


Air Terjun Lembah Harau
Siapa yang tidak kenal dengan Lembah Harau yang berada di Payakumbuh, Kecamatan Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sebuah daerah yang diapit oleh tebing terjal dengan ketinggian hingga ratusan meter. Di trip kali ini aku akan menceritakan sedikit pengalaman pertamaku ketika berkunjung ke Lembah Harau.

Perlu waktu sekitar lima jam mengendarai bus dari Pekanbaru untuk sampai di Lembah Harau. Seperti biasa, seperti selalu, dalam perjalanan aku terlelap dalam tidurku. Terbangun sesekali untuk minum atau sedikit makan atau bahkan hanya sekadar untuk muntah dan memuaskan rasa mualku.

Di sepanjang perjalanan berganti-gantian pengamen naik turun bus menyanyikan puluhan lagu hit Indonesia hingga lagu-lagu Minang yang aduhai. Bahkan ketika memasuki gerbang menuju Lembah Harau, naik lagi seorang pengamen pria bersuara merdu yang menemani perjalanan kami hingga ke Harau Resort.

Aku yan tadinya sibuk dengan duniaku sendiri, akhirnya terbangun. Menikmati pemandangan alam yang membentang di depan mata di balik kaca bening bus. Melewati persawahan, rumah-rumah warga dan lain-lain. Dari kejauhan terlihat air terjun memberikan kesan sebuah kampung di dalam lukisan cat minyak. Masyaallah, tak henti-hentinya aku takjub. Mungkin benar kata orang, Tuhan menciptakan tanah Minang ini saat Ia tersenyum.

Tembang lagu terakhir telah habis, pengamen bersiap untuk turun, tak lupa ia berjalan ke belakang untuk mendapatkan upah atas suaranya yang merdu. Kulihat dengan senang hati orang-orang yang duduk di kursi-kursi bus memberikan selembar uang Rp2 ribuan atau sekadar uang receh.

Pemandangan sawah berubah menjadi pemandangan tebing-tebing tinggi, tak berapa lama akhirnya kami sampai di penginapan. Karena aku berpergian karena agenda gathering kantor, maka liburanku kali ini lebih mewah dibandingkan liburanku yang biasanya. Menginapnya saja di resort hahaha, kampungan ya aku?

Harau Resort

Resort alias penginapan yang akan aku ceritakan ini aalah salah satu resort yang menurutku menarik dan sekelas hotel berbintang. Dengan desain klasik tak lupa dengan tanduk ala rumah Minang, berbagai fasilitas di dalam ruangan semua klasik tapi elegan dan mewah. Kayunya mengkilat, kasurnya empuk dan selimutnya hangat.
Rumah Gadang Utama Harau Resort
Rumah Gadang Utama, ini adalah penginapan yang aku tempati. Dari luar disediakan kursi-kursi dari kayu untuk duduk bersantai menikmati hari. Ketika kaki melangkah ke dalam ruangan, sebuah sofa klasik menunjukkan jika ruang ini bisa digunakan untuk menerima tamu.

Ruang tamu
Dalam ruangan yang sama terdapat dua kamar mandi yang berhadap-hadapan dan dipisahkan dengan wastafel untuk mencuci tangan, ada sebuah cermin berbentuk lingkaran dengan frame kayu. Kamar mandinya masing-masing terdapat sebuah WC duduk dan sebuah ember. Cukup luas untuk mandi beramai-ramai. Hahaha.

Aku lupa menjelaskan saat masuk ruangan tersebut ada tangga kayu menuju atas. Yap penginapan yang aku tempati memang dua lantai, di lantai atas terdapat ruangan panjang. Ketika berbelok ke kiri terdapat dua kamar dan ketika berbelok ke kanan lalu berjalan lurus, belok sedikit ke kanan ada sebuah kamar lagi. jika tetap lurus dan membuka pintu, sebuah balkon untuk bersantai siap memanjakan diri.

Di balkon ada kursi goyang dan kursi santai lainnya yang terbuat dari kayu. Memang sangat klasik. Belum lagi pemandangan dari balkon, tebing tinggi dan penginapan yang masih dalam lokasi yang sama.

Balkon
Saat itu kami sekitar 130 orang. Aku tidak menghitung pasti ada berapa penginapan di tempat tersebut. Kalau tidak salah hitung ada tujuh penginapan. Dan itu memang penuh, tapi tidak sesak, setiap orang mendapatkan satu buah kasur dan satu selimut. Kalau spring bed-nya untuk dua orang ya pakai dua orang lah. Btw semuanya tidur di lantai atas, tidak ada yang di bawah.

Kami berangkat pukul 06.30 WIB dan siangnya sampai di sana. Seperti layaknya generasi milenial, langsung foto-foto dong, keliling-keliling Harau Resort sebelumnya akhirnya mengikuti serangkaian kegiatan yang ditaja oleh Event Organizer. Hari itu tepatnya hari Sabtu kami habiskan dengan memainkan berbagai permaianan bertabur hadiah. Btw aku dapat setrika merek Sanken. Jadi lah kan?

Sore hari usai kegiatan, peserta gathering ada yang bersantai-santai menikmati udara di Harau, ada yang berjalan-jalan, berfoto-foto hingga hanya rebahan di kamar yang nyaman. Tentu saja tidak ada AC, karena Harau itu dingin, ya meski tak sedingin sikapnya. Ehh.

Lalu aku gimana? Mandi dong? Di air terjun, jauh-jauh dari Pekanbaru tapi melewatkan mandi di air terjun. RUGI!!!

Air Terjun Sarasah Aka Berayun

Air Terjun Sarasah Aka Berayun
Air terjun ini tak jauh dari Harau Resort. Cukup jalan kaki 10 menit maka akan tiba di air terjun yang berada  di tepi jalan ini. Kalau aku ke sana meliha Sarasah Aka Berayun ini lebih seperti kolam renang, di pinggir-pinggirnya sudah ada pembatas seperti tepi kolam. Hanya saja ada air yang terjun dari atas. Di tengah-tengah kolam ada tempat yang memang sengaja dibuat untuk duduk-duduk menikmati segarnya air di tempat ini.

Saat pertama kali mencelupkan kaki ke air. Brrrrrr, dingin banget wei. Tapi seger, airnya bening kalau menyelam mata masih bisa melihat dengan jelas, apalagi kalau pakai kacamata renang. Sore itu aku mandi sepuas-puasnya sambil menikmati dingin dan segarnya Sarasah Aka Berayun.

Air Terjun Sarasah Aka Berayun
Di sini tidak terlalu dalam menurutku, apalagi tepat di bawah air terjunnya. Tinggiku yang hampir 150 cm ini masih bisa berjejak kaki di bawah air terjun. Tapi saat aku datang, debit air memang tidak terlalu tinggi. Semakin ke tepi memang sedikit lebih dalam, kalau pandai berenang tak masalah lah kan mau sedalam apa.

Usai mandi balik lagi ke resort karena sudah hampir maghrib. Lanjut besok lagi, jangan lupa baju basahnya besok pagi dipakai lagi untuk berenang. Brrrrrr.

Lelah berjalan kaki, aku dan salah satu rekanku Kak Kuni memutuskan untuk naik becak motor. Cukup bayar Rp5 ribu perorang, bapak ojeknya siap mengantar dengan senang hati. Sebelum itu, tak lupa kami membeli Jasuke untuk mengisi perut.

Di area Air Terjun Serasah Aka Berayun ini memang seperti pasar, banyak warga yang berjualan di sekitarnya. Jadi kalau lapar tinggal beli, harga juga bersaing dengan harga pasaran. Kalau mau ganti baju ada kamar mandinya, cukup bayar Rp2 ribu. Masuknya barengan aja biar irit.
Sore-sore mandi aja sudah dingin pakai banget, gimana kalau pagi? Karena jarang-jarang ke air terjun, aku memutuskan untuk nyebur untuk kedua kalinya. Di pagi hari keesokan harinya, dingin eui. Tapi rasa sayang akhirnya menepis keraguan untuk menceburkan diri. Dinginnya hanya di awal kok, kalau udah gerak dan masuk ke air lama-lama juga tak terasa.

Kalau mandi pagi di Air Terjun Sarasah Aka Berayun ini lebih nikmat.  Kenapa? Karena pagi-pagi belum terlalu banyak orang yang datang, penjual pun belum ada, jadi serasa air terjun pribadi. Epic sekali untuk berfoto tanpa gangguan orang lain. Cuaca segar, pemandangan indah ditambah dinginnya air. Lengkap rasanya.

Malam di Lembah Harau

Seperti yang kukatakan tadi, Harau terkenal dengan cuaca dinginnya terlebih di malam hari. Tetapi menurutku tidak terlalu dingin juga sih, standar. Entah karena aku memakai jaket dan tidur dengan selimut tebal, tapi aku merasa dinginnya Harau tak sedingin yang orang lain katakan.

Malam itu usai kegiatan aku mengantri jagung bakar gratisan. Cukup lama, karena aku harus menunggu dan mendapatkan ronde terakhir. Jagung bakar manis original, tanpa sentuhan mentega tanpa sentuhan saus. Enak banget. Sebenarnya Kang Bakarnya ada menawarkan saus, tapi aku sadar aku berada di Sumatera Barat, tanahnya orang penggila pedas. Tak pedasnya orang sini, menurutku sudah sepedas nyiyiran tetangga.

Kenyang memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam perut. Kami kembali ke penginapan tidur lelap hingga pagi menjela.

Ketika aku membuka balkon, aku duduk berlama-lama di kursi goyang, menikmati gelapnya subuh yang berubah menjadi terang. Di sana aku tak mengenakan jaket, hanya memakai baju lengan pendek dan celana panjang berselubung sarung warisan. Tidak terlalu dingin, 11 12 dengan kampungku di Indragiri Hilir saat pagi.

Udara pagi yang segar menyejukkan membawaku segera turun dan mengenakan jaket dan menenteng kamera. Kemana? Jalan-jalan dan foto-foto lah.

Hehe
Itu sekitan cerita dari Lembah Harau. Sampai jumpa di tulisan berikutnya tentang Wisata Kampung Eropa.

Foto lain:
Penginapan lain dalam lokasi yang sama
Luarnya sederhana dalamnya mewah


Jalan menuju Air TerjunSarasah Aka Berayun



No comments:

Post a Comment

Adbox