Saturday, June 20, 2020

Menjadi Petani Sayur di Perkotaan dengan Teknik Hidroponik

Green House Pekanbaru Green Farm

Banyak orang yang tinggal di perkotaan memiliki hobi menanam, tapi hobi tersebut tidak bisa disalurkan lantaran sempitnya lahan, ataupun terlalu disibukkan dengan rutinitas pekerjaan setiap hari. Padahal ada teknik hidroponik yang bisa mewujudkan hobi menanam meskipun tinggal di kota. Jadi siapa bilang, jadi petani harus di desa dan punya tanah luas.

Oleh karena itu, tinggal di area perkotaan bukan lagi menjadi alasan untuk tidak bercocok tanam. Bahkan di lahan sempit pun, saat ini bisa memungkinkan untuk dapat menanam berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, terutama sayur-sayuran. Hasil panen pun bahkan memiliki kualitas yang sangat baik. Terlebih lagi, masyarakat selama beberapa tahun terakhir ini kian meminati tren urban farming, yaitu sebueh konsep yang memindahkan pertanian konvensional menjadi pertanian perkotaaan.

Tenik menanam tersebut dinamakan hidroponik. Hidroponik adalah teknik budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah, dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Di Pekanbaru sendiri, meskipun tidak terlalu banyak, hidroponik juga sudah diterapkan sebagai langkah untuk tetap menanam meskipun di area perkotaan, dan dengan lahan yang tidak terlalu luas. Beberapa waktu lalu, aku menyempatkan diri bertemu dengan salah seorang petani sayur hidroponik, sekaligus Pemilik toko Pekanbaru Green Farm, Bu Liza Ika Savitri. Ia bercerita telah memulai menanam dengan teknik hidroponik sejak 2014 lalu. Menurutnya urban farming memang sangat cocok diterapkan di perkotaan seperti Pekanbaru. Bahkan Bu Ika juga memiliku farm di atap rukonya, serta Greenhouse di Jalan Tulip.


"Meskipun di kota kita tetap bisa menanam, bahkan dengan lahan sempit sekalipun. Tidak perlu lahan yang luas. Kita tahu Pekanbaru ini juga dikenal dengan Kota Sejuta Ruko. Kalau semua ruko juga menanam secara hidroponik angkat sangat bagus,” tuturnya.


Di tengah-tengah pandemi seperti sekarang ini, dimana masyarakat diimbau untuk work from home semakin meningkatkan animo masyarakat untuk menanam. Hidroponik juga sangat cocok diterapkan bagi seseorang yang memiliki minat serius dalam hal tersebut.

Untuk menanam pun, hanya diperlukan tempat yang terkena matahari secara langsung, tanpa adanya bayang-bayang. Bisa ditempatkan di teras rumah, atau bahkan atap ruko atau rooftop. MenurutBu Ika, Hidroponik ini gampang, tergantung pada minatnya. Apakah ingin mengisi waktu luang, atau bertani untuk konsumsi sendiri, atau pun untuk dijadikan ladang bisnis dengan cara menjualnya. 

Nah untuk mengetahui apakah tanaman mendapatkan sinar matahari yang cukup, Bu Ika mengatakan, bisa dengan mencoba dengan menanam bayam merah atau bayam batik. Jika warna bayam tersebut berwarna merah tua dan enak dipandang mata, berarti posisi tersebut sudah mendapatkan matahari yang cukup. “Kalau kurang cahaya matahari, warna merah akan kehijauan, dan tidak cantik. Bobot sayur panen bergantung dari cukup tidaknya sinar matahari yang didapt tanaman,” jelasnya. 

Dijelaskan Bu Ika, alat yang diperlukan untuk menanam secara hidroponik ini adalah, netpot, rockwool, benih, nutrisi, pipa paralon untuk media tanam, pompa aquarium untuk mengalirkan sirkulasi air sebagai pengganti tanah, Ph-meter, dan TDS meter. “Alatnya bermacam-macam, ada sistim yang 200 lubang, bermacam-macam semuanya ada,” ungkapnya.

Selanjutnya, sebelum memulai penanaman, benih harus disemai terlebih dahulu. Untuk sayur-sayuran, media yang paling banyak digunakan adalah rockwool. Biasanya media rockwool digunakan untuk tanaman sayur mayur yang panen cepat, dan tidak diperuntukkan bagi tanaman buah. Dalam berhidroponik, setiap orang memiliki cara masing-masing, begitupun dengan menyemai, berbeda-beda baik dalam ukuran rockwool, lama semaian, dan jumlah semaian.

“Biasanya untuk kangkung dan bayam, satu rockwool disemai dengan 6-9 benih, selain itu hanya satu. Untuk sayuran selain kangkung dan bayam diisi satu benih untuk satu rockwool," papar Bu Ika.

Semaian yang disemai dengan media rockwool

Penyemaian sendiri bisa menggunakan rockwool yang dipotong persegi berukuran kira-kira 2,5 x 2,5 cm, kemudian rockwool dicelupkan ke air, lalu disusun dalam nampan, selanjutnya dibuat lubang, lalu benih di masukkan ke dalam lubang tersebut. Setelah itu, disiram setiap pagi dan diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari, setelah empat daun, baru dimasukkan ke dalam sistim dan diberi nutrisi.

Rata-rata sayuran yang ditanam secara hidroponik memakan waktu 35 sampai 40 hari untuk bisa dipanen, kecuali sayuran kangkung yang biasanya sudah bisa dipanen saat berusia 20 hari.

“Untuk perawatan sendiri, setelah disemai, kemudian dijemur, lalu dimasukkan ke sistim, kita kasih nutrisi secara rutin. Kalau semaian baru masuk sistim, penambahan nutrisi bisa sekali seminggu, kalau sudah dekat panen bisa setiap hari,” kata Bu Ika.

Dengan menanam secara hidroponik, secara tidak langsung juga akan berdampak positif bagi lingkungan tempat tinggal. Dimana, tanaman yang ditanam akan membuat udara lebih segar. Sedangkan jika membuat kebun di ruko bagian atap, lantai di bawahnya akan semakin sejuk. Karena secara tidak langsung bisa menjadi pendingin. Akan sangat bagusnya jika memiliki ruko bisa buka farm di atasnya.

Tanaman seperti sayur-sayuran hasil hidroponik juga memiliki keunggulan dibandingkan dengan tanaman yang ditanam secara konvensional atau menggunakan media tanam tanah. Sayuran hidroponk memiliki ukuran yang lebih besar, lebih segar, dan visual yang indah. Jika dilihat sangat berbeda dengan sayur  yang ditanam secara konvensional, sayur dari hidroponik lebih besar, lebih cantik, dan lebih segar. 

Untuk menanam secara hidroponik, Bu Ika menyarankan untuk tetap memakai atap yang dibuat khusus untuk tanaman hidroponik, yaitu atap dari plastik UV. Karena tanaman hidroponik mengandalkan konsentrasi nutrisi yang seimbang, maka atap akan sangat berperan melindungi tanaman dari cuaca. “Hidroponik, kita pakai atap, kita main konsentrasi. Kalau terlalu banyak terkena air hujan, nanti konsentrasinya bisa berubah. Dengan demikian, adanya atap ini kita musim hujan atau musim panas tidak terlalu berpengaruh, risiko tetap ada tapi tak seberapa. Di sini kita menggunakan plastik UV," ucapnya.

Tanaman di Green House Pekanbaru Green Farm (di foto bukan Bu Ika ya)

Kendati demikian, menanam secara hidroponik juga tidak bisa terbebas dari hama tanaman. Biasanya, setiap tanaman memiliki hama yang berbeda-beda, dan setiap hama memiliki teknik tersendiri untuk mengatasinya. Oleh karena itu untuk penanggulangan hama tanpa pestisida kimia, lebih baik dilakukan pencegahan sebelum hama datang. 

Jenis hama yang bersayap yang kerap menimpa tanaman pakcoy, adalah leaf miner, yaitu larva dari lalat buah yang makan di dalam daun, dan membuat daun seperti memiliki jalan, dan daun seperti tergores panjang. Lalu kumbang-kumbang kecil yang membuat daun berlubang. Dua jenis hama ini bisa diatasi dengan perangkap yellow trap yang berbentuk seperti lem, berwarna kuning, dan beraroma, sehingga menarik lalat buah dan kumbang kecil. Hama akan menempel, sehingga tidak memerlukan pestisida.

Di toko Bu Ika, Pekanbaru Green Farm yang berada di Jalan Jenderal No 52 C Pekanbaru, juga menyediakan peralatan lengkap untuk menanam, benih, hingga nutrisi. Sistim berupa pipa yang dibuat khusus memiliki lubang yang berbeda-beda. Harga pun menyesuaikan dengan setiap sistim yang ditawarkan. Semua bisa disesuaikan, tergantung ingin menanam seperti apa. Ada macam-macamnya, contohnya sistim yang 200 lubang seharha Rp4,4 juta, 100 lubang Rp3,5 juta, 20 lubang Rp1,2 juta. Semakin banyak luangnya makin murah. Itu mendapatkan tong yang sama, pompa sama. Ada juga yang model rak. 

Selain itu, Pekanbaru Green Farm juga memberika pelatihan bagi masyarakat yang ingin belajar menanam secara hidroponik. Dalam pelatihan tersebut, peserta akan mendapatkan teori, praktik langsung cara menyemai dan mengaplikasikan nutrisi, panen sayur, hingga cara pengepakan sayur sebelum dijual. “Pelatihan tersebut berlangsung selama satu hari, nanti akan dimasukkan ke dalam grup WhatsApp, sehingga ketika ada kendala saat menanam ke depannya bisa ditanyakan melalui grup tersebut,” pungkas Bu Ika.


Previous Post
Next Post

20 comments:

  1. Enak ni buat nanam makan sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Skuy tanam2. Klo belimpah jual atau buat sedekah

      Delete
  2. yang di kota jangan mau kalah sama yang di desa

    ReplyDelete
  3. Wah, sangat menginspirasi tulisannya...
    Makasih kaka nafi

    ReplyDelete
  4. Mantap, informasi yg bermanfaat banget.. kayaknya seru punya kebun di belakang rumah

    ReplyDelete
  5. Sudirman di bagian mananya, nafi? kk pengeng sih, cuma rumah kebanyakan binatang2 liar, ntar juga ke urus..padahal pen makan sayut buatan sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak di sudirman kk. Tokonya di jalan jenderal. Bsa buka map kk

      Delete
  6. Nafi, abang pingin makan sayur umbut kelapa gimana dong, di kota susah nanamnya. Gimana solusinya nih... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidroponik lbih d sarankan ke tanaman yg cepat panen bg. Klo umbut itu kan dri pohon kelapa yg ditebang. Perlu waktu nanam bertahun2 dulu bru bsa dpat umbutnya. Pakai media tanah aja lbh d srankan bg

      Delete
  7. Wahhh keren, salut sama orang yang bisa manfaatin system hidroponik ini. Vina masih belum punya waktu buat mainan iniiiii padahal pengen bangett :(

    ReplyDelete
  8. Dimananya Sudirman itu pe? Pengen juga ngeliat hijau-hijau gitu 😍 Kak lg belajar bertanam juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Tulip kk. Tapi ga dbuka buat umum. Hanya untuk yang ikut pelatihan

      Delete
  9. Emang keren sih mereka, salah satu pionir hidroponik di Pekanbaru yang bagus buat jadi inspirasi

    ReplyDelete