Tuesday, February 23, 2021

Resensi Orang-Orang Biasa (OOB): Perampokan di Kota yang Naif

 

Cover novel Orang-Orang Biasa - Andrea Hirata

Judul Buku : Orang-Orang Biasa
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal Buku: xii + 300 halaman; 20,5 cm.
Cetakan: Pertama, Maret 2019
ISBN: 978-602-291-524-9


Karya Andrea Hirata menurutku adalah karya yang tak pernah mengecewakan. Kali ini Andrea kembali menelurkan karyanya yaitu Orang-Orang Biasa (OOB) alias Ordinary People, yaitu sebuah novel tentang perampokan di kota yang naif, ialah Kota Belantik.

Novel ini mengisahkan persahabatan sepuluh orang biasa yang bisa dikatakan bukan siapa-siapa. Mereka adalah Handai, Tohirin, Honorun, Sobri, Rusip, Salud, Debut, Nihe, Dinah, dan Junilah.

Bukan main banyaknya tokoh dalam novel Orang-Orang Biasa ini, Andrea Hirata benar-benar membuat pusing pembaca tentang banyaknya nama dan karakter yang harus diingat. Tak ketinggalan aparat kepolisian Inspektur Abdul Rojali dan polisi muda yang setia Sersan P Arbi.

Orang-Orang Biasa, cerita bermula dengan kisah kantor polisi di Kota Belantik yang minim kasus kejahatan. Kemudian dijelaskan tentang persahabatan sepuluh orang penghuni bangku belakang sekolah yang suram masa depannya, namun langgeng bahkan sampai di antara mereka beranak-pinak.

Perampokan di kota naif menjadi inti novel OOB ini, dimana anak dari Dinah, lulus Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi di Indonesia yaitu Aini. Namun, akibat tekanan ekonomi dan kemelaratan, Aini terancam tidak bisa mendaftar sebab memerlukan uang yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Kuatnya persahabatan, sepuluh orang ini pun memutuskan untuk melakukan perampokan guna mendapatkan dana agar Aini bisa kuliah. Rencana pun dimulai.

Lalu apakah bisa mereka melakukan perampokan di kota yang sangat minim kejahatan? Bisakah Aini melanjutkan ke perguruan tinggi dan menjadi dokter? Cara apa yang dilakukan sepuluh orang yang sulit sepakat akan mufakat tersebut? Apakah rencana perampokan ini hanya mengantarkan mereka ke jeruji penjara?

Dibungkus dengan gaya penulisan khas Andrea Hirata, membuat pembaca merasa sedang menonton adegan film melalui tulisan.

Andrea sangat detail dalam membuat deskripsi, (tak bisa dibayangkan kalau Andrea julid di kehidupan nyata, pasti ia akan dibenci orang-orang).

Tulisan Andre bisa membuat pembaca merasa ada suara musik yang membuat hati jedag-jedug, dan mengontrol laju dalam membaca tulisan.

Selain itu, dalam OOB ini Andrea seperti membuat cerita yang tak berkesinambungan pada awal-awal bab. Namun,  cerita tersebut mengerucut dan bertemu di sebuah titik yang membuat OOB semakin menarik. Amboy, tak bisa berhenti aku membuka lembaran demi lembaran untuk mengetahui cerita selanjutnya.

Komedi, action, semua diramu sedemikian rupa, belum lagi plot twist yang dihadirkan oleh penulis novel Laskar Pelangi ini. Menurut saya, OOB benar-benar tidak bisa ditebak. Andrea berhasil membuat pembaca pesimis dengan tujuan para tokoh dalam cerita.

Tak hanya itu, Andre selalu memasukkan nilai-nilai budaya melayu di dalamnya, nilai edukasi, bahkan kritik halus yang membuat pembaca menyunggingkan bibirnya.

OOB tak hanya terfokus pada perampokan sepuluh orang ini, ada cerita lain yang membuat novel ke-10 Andrea tersebut semakin kompleks, seperti kembalinya empat kawanan kriminal yang terkenal di Belantik, kisah guru seni Akhirudin, hingga kisah Boron dan Bandar, serta Trio Bastardin yang terlibat konspirasi pencucian duit rakyat alias korupsi, bahkan kisah seorang kriminal yang jujur Dragonudin.

Tak ketinggalan kisah tentang tokoh bank bernama Bu Atikah. Karakter ini sempat membuatku bertanya-tanya, apa yang ingin disampaikan Andrea melalui petinggi bank ini.

Namun semua kisah tersebut bertemu di satu titik dan membuat semuanya berkaitan. Cerita lengkap tentu saja di novel Orang-Orang Biasa, menurutku novel ini sangat cocok dijadikan film. Silahkan baca untuk tertawa dan terharu akan tingkah orang-orang udik yang tak disangka-sangka.

Jika Kawan ingin mencari kisah romansa, kisah pria-pria tampan nan rupawan, atau kisah utama orang-orang kaya yang berkuasa, saya jamin tidak akan menemukannya dalam novel ini. Namun, pembaca akan menemukan kisah mengharukan yang terjadi pada orang-orang biasa dan membuat mereka luar biasa.

Persahabatan, idealisme, mimpi-mimpi, ada di tengah Kota Belantik yang naif tersebut.

Saya sangat merekomendasikan novel bersampul kuning ini. Hanya saja, aku termasuk orang yang suka membaca sinopsis di-cover belakang sebelum memutuskan membeli buku, tapi di novel OOB sinopsis ini tidak ada. Tak apa lah, nama Andrea Hirata sudah bisa menjadi alasan kuat untuk membeli novelnya.

O iya, saya lupa ingin menyampaikan kata-kata ajaib dari Andrea Hirata
Fiksi, bukan sekadar mengadakan yang tidak ada, fiksi adalah cara berpikir.
Mereka yang ingin belajar, tak bisa diusir.




Latest
Next Post

0 komentar: