Sunday, January 2, 2022

Cara Ampuh Hilangkan Mata Ikan Tanpa Operasi

Plester china untuk mata ikan Ji Yan Gao

Siapa nih yang lagi cari-cari cara ampuh hilangkan mata ikan tanpa operasi? Kalau sedang baca tulisan ini, maka Kamu berada di jalur yang benar. Di tulisan ini aku ingin berbagi pengalaman menghilangkan mata ikan.

Buat menghilangkan mata ikan tanpa operasi aku pakai plester china, nama produknya adalah Ji Yan Gao, beli di Shopee atau bisa juga melalui marketplace lain. 

Aku meng-ide memakai plester china Ji Yan Gao untuk menghilangkan mata ikan tanpa operasi, tentu saja setelah searching di Youtube dan melihat review positif dari orang-orang yang sudah memakainya. Katanya sangat ampuh, dan tanpa efek samping.

Awalnya aku mengira jika mata ikan di tumit kakiku ini hanyalah kapalan, bentuknya kecil seujung kuku, keras, dan jika dipegang baru terasa. Mula-mula tidak terlalu menganggu, tapi lama-lama ketika dipakai berjalan terasa nyeri, apalagi saat kaki menginjak kabel atau kerikil tepat di mata ikan, rasanya mak serrr...

Kadang aku mencoba hilangkan bagian yang keras dengan jepit kuku, tapi lama-kelamaan, akan kembali mengeras, bahkan membesar. Sebelumnya, mata ikanku hanya terlihat samar, namun karena sering diratakan pakai jepit kuku semakin membesar dan berlubang (tidak terlalu besar).

Sebelum memutuskan untuk dioperasi, aku mencari cara dulu agar bisa menghilangkan mata ikan, dari bertanya-tanya ke teman sejawat, orang tua, hingga, searching di Google, Youtube, dan melihat review. Akhirnya memutuskan untuk membeli plester china Ji Yan Gao untuk menghilangkan mata ikan.

Harganya Ji Yan Gao bermacam-macam, tapi di toko yang aku beli Rp17 ribu per kotak. Satu kotak berisi enam plester. Aku beli tiga kotak karena khawatir tidak cukup. Kata orang-orang yang review, satu buah mata ikan bisa menghabiskan satu atau dua kotak plester.

Cara Pakai Plester Mata Ikan

Pertama, bersihkan kaki yang ada mata ikannya. Rendam dengan air hangat sekitar 10 menit. Setelah itu keringkan dengan kasa atau tisu, ini dilakukan agar plester mata ikannya bisa menempel dengan kuat.

Setelah itu baru ditempel. Plester mata ikan ada tiga bagian, yaitu bagian yang berwarna oranye yang menurutku adalah inti dari obat plester mata ikan. Lalu, bagian putih lebih mirip seperti bantalan. Terakhir, plester perekat. Tempelkan bagian oranye tepat di atas mata ikan.

Dalam pemakaian plester mata ikan ini, sama sekali tidak boleh terkena air. Jadi usahakan sebisa mungkin menghindari air di area yang ditempeli plester, kalau terkena air dan merusak plester bisa diganti dengan plester baru.

Kalau aku, pemakaian satu plester untuk 24 jam. Tapi menghindari air itu memang susah-susah senang, apalagi ketika mandi, namun kalau diniatkan insyaallah pasti bisa. Nah plester Ji Yan Gao ini kalau sedikit kena air biasanya plester ini mudah lepas, jadi untuk mengakalinya bisa ditambahkan dengan hansaplast untuk mempererat dan meminimalisir terkena air.

Pasang hansaplast-nya kalau bisa jangan yang ada bantalan tengahnya, karena hanya akan membuat area semakin menonjol dan menimbulkan rasa nyeri saat berjalan, terlebih plester mata ikannya sudah ada bantalan. Jadi aku pakai hansaplast roll, bisa belinya di apotek dengan harga Rp3 ribu. Pasang menyilang menyerupai huruf X.

Setiap mengganti plester, akan ada bekas-bekas handsaplast, debu-debu, dan kotoran di telapak kaki. Di pemakaian selanjutnya, tidak perlu direndam lagi, cukup bersihkan dengan rivanol. Rivanol bisa dibeli di apotek sekitar Rp5 ribu. Begitu terus dilakukan setiap hari.

Handsaplast Roll dan Rivanol

Pemakaian minggu pertama

Aku pakai plester mata ikan ini sekitar dua minggu. Kondisi awal sebelum pemakaian, mata ikanku sudah berlubang karena sering dicabutin pakai jepit kuku. Jadi bagian plester yang berwarna oranye itu akan membuat kulit kita mengeras, tak hanya di bagian mata ikan, tapi juga bagian yang ditempeli dan sekitarnya.

Setelah mengeras dan tebal, rasanya akan terasa sangat mengganjal dan mulai menganggu ketika berjalan. Kalau di rumah aku usahain pakai sandal yang empuk dan bersih, kalau ke luar aku juga pakai sepatu empuk agar terasa nyaman.

Salahnya aku, baru satu minggu berlalu setelah pemakaian, aku sudah tidak sabar. Karena terasa sangat mengganjal, aku lepas begitu saja plesternya. Terus karena tanganku ini 'gatal' sama kulit yang mengeras, akhirnya aku mengelupas kulit itu, di bagian bawah kulit warnanya memutih, rasanya tidak sakit. Mungkin karena belum waktunya, ketika sudah mencapai dasar, ada hitam-hitam seperti bulu kecil, katanya sih itu akar mara ikan, dicabut sakit rasanya wkwkwk.

Setelah konsultasi sama seller, dia bilang kalau aku terlalu dini mencabut plester. Ia menyarankan untuk menempel kembali. Kutempelkan plester mata ikan di lokasi yang sama.

Pemakaian plester mata ikan minggu pertama

Pemakaian Minggu Kedua

Rasanya tidak terlalu berbeda, ketika sudah mengeras dan semakin tebal dan menonjol, akan sangat mengganjal jika dipakai berjalan. Di akhir minggu kedua aku mencopot lagi plester. Kata seller, tinggal menunggu mengelupas sendiri, dan tidak perlu memakai lagi.

Besoknya, karena tidak kunjung mengelupas tanganku mulai 'gatal' buat mengeletek-nya, dan finally ketika sampai dasar, sudah tidak ada lagi akar-akar mata ikan. Masih ada sedikit warna putih, namun sesudah dipakai mandi dan beraktivitas warna putihnya perlahan menghilang.

Sumpah, tumit yang dikasih plester mata ikan dan sesudah dicabut terasa lembut banget, seperti bokong bayi.
Pemakian satu hari terakhir di minggu kedua

Perlahan-lahan, tekstur di area bekas mata ikan mulai sama dengan kulit di sekitarnya.

Jadi apakah berhasil? Jawabannya Ya. Aku sangat merekomendasikan plester mata ikan ini bagi yang takut operasi. Pemakaian plester ini harus bersabar ya, karena setiap orang itu kan bentuk mata ikannya berbeda-beda, ada yang hanya lima hari, ada yang seminggu, dua minggu, atau bahkan lebih.

Semoga tulisan ini dapat membantu ya. Nanti di toko online juga dituliskan cara-cara pemakaiannya. Kalau yang kutulis ini cara pemakaian yang dianjurkan rapi kumodifikasi sesuai situasi dan kondisiku.
Latest
Next Post

0 komentar: