Friday, August 26, 2022

Atasi Deforestasi dan Dampak Lingkungan, Cara APRIL Wujudkan Green Economy

 

Sumber: Instagram.com/discoverapril

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada hari tanpa produk dari pulp yang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, mulai dari menulis catatan harian, mengelap  keringat, mengeringkan tangan, minum, berbelanja, dan lain-lain. Mulai dari rumah, bekerja di kantor, hingga kembali ke rumah, rasanya tak mungkin tidak bersentuhan dengan produk seperti kertas, tisu, tas belanja, hingga wadah makanan.

Semua produk tersebut berasal dari pohon. Meskipun memiliki banyak manfaat, tetap saja produk itu sering dicap sebagai produk yang tidak ramah lingkungan. Lalu apakah kita bisa hidup tanpa kertas, bahkan kertas saja saat ini menjadi alternatif pengganti plastik. Namun, kenapa dalam setiap kampanye lingkungan, tak jarang orang memandang negatif terkait penggunaan  kertas.

Deforestasi menjadi masalah yang kerap digaungkan terkait industri pulp dan kertas, karena kayu yang merupakan bahan baku untuk pembuatan produk-produk seperti kertas kantor, katalog, glossy, dan lain-lain.

Dampaknya tehadap lingkungan, mulai dari nitrogendioksida, sulfurdioksida, dan karbondioksida yang dilepaskan ke udara. Lalu, industri kertas juga dianggap masih menggunakan bahan bakar fosil untuk produksi bahan baku dan transportasi, sehingga lebih banyak menghasilkan rumah kaca.

Salah satu perusahaan pulp dan kertas di Riau yaitu Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) Group yang merupakan produsen terkemuka serat, pulp dan kertas. Lalu apa yang dilakukan perusahaan ini, agar dalam perkembangan bisnisnya tetap  dapat melestarikan lingkungan.

Ternyata, tak hanya bergerak di sisi bisnis dan keuntungan saja, APRIL Group juga memainkan peran penting dalam perekonomian lokal, dalam kemajuan Indonesia dalam mencapai Tujuan Pembagunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Dengan APRIL 2030, APRIL Group berkomitmen memberikan dampak positif pada iklim, alam, dan manusia.  Tentu ini selaras dengan gagasan Green Economy (ekonomi hijau) yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi hijau, diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang kuat namun harus selaras dengan keramahan lingkungan yang ada.

Green economy adalah bagaimanan menjalankan perekonomian berskala makro, tetapi memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan sekitar, terutama hutan yang dikenal sebagai paru-paru bumi.

Pada tahun 2020, APRIL meninjau topik materialnya untuk meluncurkan komitmen dan target keberlanjutan  jangka panjang. APRIL 2030 berfokus pada peluang nyata untuk menciptakan dampak positif paling signifikan terhadap iklim, alam, dan manusia, sambil mengembangkan bisnis secara berkelanjutan (sustainability).

Deforestasi

APRIL memastikan lahan yang dikelolanya telah tersertifikasi baik nasional hingga internasional. Terkait deforestasi, APRIL berkomitmen melindungi hutan tanaman dari kebakaran atau risiko kehilangan kayu atau kerusakan lainnya. Berbagai tindakan  dilakukan untuk melindungi kawasan hutan, termasuk kawasan produksi, konservasi dan restorasi, serta kegiatan ilegal, yang selalu dipantau.

APRIL berkomitmen kuat untuk nol deforestasi, dan nol konversi hutan alam dan ekosistem lainnya dengan melindungi wilayah operasi, serta bekomitmen untuk tidak melakukan pembalakan liar dengan mendukung praktik terbaik dalam pengelolaan hutan yang diambil kayunya

Kebijakan Tanpa Bakar sudah  diambil oleh APRIl sejak tahun 1993 dan dilakukan secara ketat dan mematuhi persyaratah hukum pemerintah Indonesia. Berbagai hal juga dilakukan untuk mengurangi  risiko kebakaran mulai dari pencegahan hingga pemulihan kebakaran dilakukan dengan  manajemen yang terstruktur.

Sumber: Instagram.com/discoverapril

Tak hanya itu, APRIL juga berkomitemen mendapatkan kayu dengan  cara yang bertanggung jawab baik secara lingkungan maupun sosial sebagai bagian dari  pengelolaan hutan berkelanjutan.

Sumber kayu yang dimaksud yaitu hutan tanaman APRIL termasuk mitra pemasok dan pemasok pasar terbuka, yang dikelolah secara bertanggung jawab, serta memasok kayu legal dari sumber yang tidak kontroversial, juga memastikan pemasok kayu berasal dari sumber yang bekelanjutan dan tidak berkontribusi terhadap deforestasi.

Atasi Dampak Lingkungan

Untuk mengatasi dampak lingkungan tersebut APRILmengimplemetnasikan beberapa inisiatif untuk mengurangi emisi Gas Rumah  Kaca (GRK), yaitu dengan  optimasi pemanfaatan energi terbarukaan. Saat ini, APRIL memproduksi lebih dari 87 persen kebutuhan energi dari sumber terbarukan untuk mencapai 90 persen pada tahun 2030, atau lebih cepat.

Sumber: Instagram.com/discoverapril

APRIL juga sudah merencanakan pemasangan panel surya 20 megawatt di Kerinci pada tahun 2025  mendatanng.

Peningkatan penyerapan karbon juga dilakukan. Dalam memenuhi target APRIL 2030, dilakukan  seperti restorasi dan konservasi hutan alam, dan pengelolaan perkebunan yang bertanggung jawab dan praktik pertanian yang lebih baik di lahan gambut. Hal ini membantu menghindari GRK dan dampaknya.

APRIL juga terus berinvestasi dalam penelitaian dan peralatan untuk medorong inovasi di bidang dekarbonisasi dan juga mendorong efisiensi energi dan uap, yang selanjutnya mengurangi emisi GRK.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut, upaya APRIL membantu Pemerintah Indonesia mewujudkan green economy sangatlah besar. Selain membantu pemerintah, dalam mencapai APRIL 2030, APRIL juga membantu kelestarian lingkungan, iklim, dan masyarakat sekitar.

No comments:

Post a Comment